Waktu boleh berlalu. Namun, setiap rasa yang pernah ada itu tak cukup rapi untuk terus disimpan. Lipatannya kini terbuka sedikit demi sedikit. Memori yang terukir pada selembar kertas, masih meninggalkan jejak garis tegas memanjang. Mungkinkah ini yang dibilang cinta pertama.
–Ayla Kosha Hammam–
***
12 Juli 1993.
Tahun ajaran baru. Setelah satu bulan berlibur, Ayla dengan semangat menelusuri kelas demi kelas, mencari tulisan kelas II-C di setiap pintu pada selasar sekolah di lantai II.
SMP Anggrek, tidak mengenal istilah kelas unggulan. Gadis itu tak tahu apa dasar pihak sekolah membagi setiap siswanya ke dalam kelas baru. Sehingga hanya dia dan Mei saja yang masuk ke Kelas Kambing, sebutan bagi kelas yang melegenda karena selalu menjadi tempat berkumpulnya biang ribut, dan kenakalan.
Ayla masih tidak menerima kenyataan. Ia memang bukan gadis yang pintar, tetapi nilainya juga tidak buruk. Ia juga bukan golongan ayam atau sapi sehingga harus masuk kandang kambing. Gadis berbulu mata lentik itu hanya bisa berharap, semoga kelas itu hanya buruk dalam bayangannya saja.
Beberapa saat kemudian, akhirnya ia sampai di ujung koridor. Sedikit ragu untuk terus berjalan hingga kelas paling pojok yang tampak tak terurus. Pintu kelas itu hanya setengah, dengan penanda kelas yang telah miring. Ini dia.
Dari luar sudah terdengar gaung banyak suara, rupanya kelas telah ramai. Gadis itu memasuki kelas yang memang benar hampir menyerupai kandang kambing itu. Pantas saja terdapat rumor bahwa tidak ada guru yang mau menjadi wali kelas. Belum memulai hari baru saja, Ayla sudah merasa kasihan dengan wali kelasnya nanti.
Barulah masuk, gadis itu sudah disambut dengan teriakan-teriakan membabi buta. Para cewek dengan suara melengking merumpi di sudut kiri, sedang para cowok yang bergerombol di sudut lain, tak kalah berisiknya.
Ada seseorang yang berdiri tegak saat melihatnya memasuki kelas. Menatap tak percaya. "Ayla?" lirihnya, matanya terus mengikuti ke mana arah gadis itu melangkah.
"Ay! Sini. Duduk sini." Mei segera memanggil saat ia masuk dengan ragu.
Ayla merasa lega, kursi yang dipilih sahabatnya itu sungguh pas, berada di tengah. Tidak terlalu belakang juga tak di depan. Jam berapa si Mei datang demi mendapatkan spot terbaik ini? katanya dalam hati. Ia segera menghampirinya dengan senyum ceria.
Mata di ujung sana masih menatap lekat. Samar Ayla mendengar suara yang telah lama tak didengarnya.
"Lo lagi liatin siapa, Yud?" tanya Tami, mengikuti pandangan Yudha.
"Tuh, calon kekasih hati," jawabnya sambil menunjuk ke arah Ayla yang langsung bersenda gurau dengan Meilia.
"Oh … itu toh." Tami mengangguk-angguk.
Ha ha ha, ledakan tawa serta olok-olok menambah bising suasana, Ayla kesal harus sekelas dengan para preman kelas itu.
Suara bel menandakan kelas akan dimulai. Ayla sudah duduk dengan rapi, menunggu sambutan dari wali kelas yang akan segera datang. Akan tetapi, para siswa di pojok sana masih saja ribut, entah apa yang mereka bahas.
Nanti, kalo di pindah duduk bareng cewek, baru deh pada mengkeret, ujar Ayla sambil memandang gemas mereka.
"Selamat pagi, anak-anak," sapa guru perempuan, bertubuh gemuk dan berwajah ramah.
"Selamat pagi, Bu," sahut semua siswa serentak.
"Nama saya Ida Rohmawati, yang akan menjadi wali kelas kalian setahun ini. Beberapa dari kalian mungkin sudah tahu kredibilitas kelas ini dari tahun ke tahun, sampai-sampai tidak ada yang bersedia menjadi wali kelas di sini. Oleh karena itu, saya yang dengan sialnya terpilih, akan merombak tempat duduk kalian. Siapa yang paling ribut maka akan jadi perangkat kelas."
Apa yang disampaikan beliau, otomatis membungkam semua suara, siapa yang mau jadi perangkat kelas untuk kelas seperti ini. Tak akan ada yang bersedia.
“Tuh kan. Apa gue bilang,” lirih Ayla. Kepalanya mengangguk-angguk membenarkan keputusan Bu Ida, senyum mengejek menghias di bibirnya.
"Kamu Meilia, duduk dengan Dani," seru Bu Ida kemudian.
“Hah! Mei.” Ayla menatap sahabatnya itu dengan sedih, tiba-tiba ia merasa khawatir. Jangan-jangan.
Sahabatnya itu pun dengan enggan membereskan tasnya dan duduk dengan Dani.
"Ledy, kamu duduk dengan Dodit, lalu kamu ... iya kamu, pindah ke tempat Niken, dan kamu Yudha." Jantung Ayla berdegup saat nama itu disebut.
Jangan sama gue, jangan sama gue, mohon Ayla dalam hati.
"Kamu duduk dengan Ayla, lalu ...." Ayla terperanjat mendengar perintah dari gurunya itu. Ia segera mengangkat jarinya ke atas, protes.
"Bu, saya gak mau duduk dengan dia," katanya segera. Bu Ida memandang Ayla, menimbang.
"Tak ada alasan, Yudha cepat." Beliau memutuskan tak mengindahkan permohonannya, lalu melanjutkan mengatur tempat duduk bagi yang lain.
Yudha merasa seperti 'tertimpa durian runtuh', dengan semangat ia membereskan tas. Hati Ayla mencelos, ia menatapnya sebal. Nanti dulu, dia bahkan ke sekolah tidak membawa tas, hanya menyelipkan sebuah buku tulis ke kantong belakang celananya.
Ya Tuhan, takdir apa yang kau sedang tuliskan buatku? Ucapnya masih dalam hati. Tak sanggup menahan kesal, Ayla pun menelungkupkan wajah di atas meja.
Yudha telah duduk di sampingnya. Merasa bingung melihat teman sebangkunya.
"Ay, lo kenapa?" tanya Yudha.
"Diem!" tukas Ayla seraya menahan isaknya.
"Lo nangis ya?" Ia bertanya lagi, dengan suara yang dibuat selembut mungkin.
Gadis itu menatapnya dengan berurai air mata, "Gue gak mau duduk sebangku sama lo."
"Loh kenapa? Gue gak gigit loh," sahutnya.
"Gue takut." Ayla berkata sambil mencoba mengusap air mata yang masih mengalir.
"Kenapa sih?" tanyanya heran. "Cakep gini kok takut."
"Lo tukang ribut, nakal, lo kayak preman."
"Ihhh! Enggak Ay. Bener deh, gue gak kayak gitu."
"Huaaaaa ...!" Gadis itu segera kembali menelungkup, demi meredam tangisnya.
"Shhh ... cup ... cup. Udah dong. Malu, liat tuh pada ngeliat ke sini."
"Bodo!" sentaknya.
Yudha mendesah, tak tahu harus bagaimana lagi. Ia hanya berusaha menutupi Ayla dengan tubuhnya agar guru yang sedang duduk di mejanya itu tak memperhatikan mereka berdua.
"Sekarang pemilihan perangkat kelas. Silakan berikan nama-nama yang kalian mau jadikan ketua, wakil, sekretaris, dan bendahara," ucap Bu Ida setelah selesai mengatur tempat duduk.
Yudha dan Ayla, sama sekali tidak memperhatikan kondisi kelas yang seketika ramai memberikan nama calonnya masing-masing. Ayla masih menangis sedang Yudha terus membujuk.
"Yak! sudah diputuskan berdasarkan suara terbanyak. Yudha, akan menjadi ketua kelas. Wakilnya, Dani. Sekretaris, Ayla. Lalu bendahara, Meilia." Suara tepukan meriah menyambut pengumuman dari sang wali kelas itu.
Dani dan Dodit menepuk pundak Yudha. Cowok itu hanya melongo masih tak tahu harus bahagia atau kesal.
"Oke, karena ini hari pertama, kalian bisa pulang." Riuh tepuk tangan meriah menyambut pengumuman kedua ini, Bu Ida tersenyum lalu kembali berkata, "pulang nanti langsung ke rumah, kalo mau keluar rumah jangan lupa pamit dulu sebelumnya, ya anak-anak," lanjutnya.
"Ya bu," sahut semua.
"Yudha, siapkan," panggil beliau, mengagetkannya.
"Ah, iya. Semua, siap!" suara Yudha sedikit bergetar, yang lain otomatis menegakkan tubuh. "Beri salam."
"Selamat Pagi, Bu."
Walaupun sudah dipersilakan untuk pulang, tapi kelas tak kunjung sepi. Mereka telah terpisah dari sekolah sebulan lamanya, beberapa siswa masih ingin berada di sana lebih lama.
Yudha kembali memfokuskan perhatian dirinya pada gadis yang masih telungkup di tas meja itu. "Ay, udah dong. Malu nih gue," bujuk cowok itu lagi.
"Kenapa lo yang malu? Yang nangis 'kan gue," sahut Ayla.
"Ntar, dikira yang lain gue ngapa-ngapain lo lagi. Gue kan anak baik-baik."
"Cih. Mana ada anak baik-baik, cuma bawa buku satu biji ke sekolah," ketus Ayla sambil mendongak.
"Lha, orang gak belajar juga, ngapain bawa tas, lo emang bawa buku berapa?"
"Banyak," jawab Ayla yang memiringkan kepala, memandang Yudha. Masih dari kepala yang di atas meja.
"Iya berapa?"
"Satu lusin."
"Buat apa? Buset ni anak, lo mau jualan ya?"
"Gue siapin aja mana tau ntar di bagi mata pelajaran," aku Ayla polos.
"Ayla. Ya ampun lo ini. Sekarang aja udah boleh pulang, paling juga seminggu lagi kita baru belajar normal."
"Oya? Ya kan lebih baik bersiap daripada nanti … ehm, ya gitu deh pokoknya.”
"Iya, iya. Gue paham. Tapi, kenapa lo ini lugu banget sih?"
"Emang kenapa kalo lugu? Lo mo ngerjain gue ya?" Ayla menegakkan tubuh.
"Enggaklah, lo itu lucu tauk. Gemes gue, pengen nyubit," sahut Yudha hendak mencubit pipinya.
"Ihh, gak boleh pegang-pegang," tukas gadis itu sambil menutup kedua pipinya dengan telapak tangan. Bibirnya menggembung imut.
Tangan Yudha menggantung di udara, hanya beberapa senti lagi hendak mencubit pipi gadis di depannya. Dirinya tertegun menatap gadis di depannya, lalu mencubit hidungnya keras. Ayla menepis jari cowok itu, meringis sambil mengelus hidungnya. “Sakit.”
“Biar tambah mancung,” bela Yudha. Cowok itu menangkap jemari gadis itu dan memohon.
"Udah ya nangisnya, capek."
Ayla mengangguk. "Iya, pegel juga."
"Gue gak jahat 'kan?"
"Ternyata enggak." Ayla akhirnya tersenyum. Senyum yang membuat d**a Yudha bergemuruh.
"Gue seneng bisa sekelas sama lo, Ay."
"Gue juga, lo mau jadi sahabat gue, Yud."
Ayla mengacungkan jari kelingkingnya. Yudha tidak mengangguk, tetapi mengaitkan kelingking kanannya ke jari mungil itu.
"Jangan pernah nangis lagi ya, gue bingung tadi." Yudha mengusap pipi gadis di depannya yang masih basah karena air mata. Ayla mengelak, mengusap mata dan pipinya dengan lengan baju. Ia tersenyum lalu tertawa, cowok itu jelas heran melihatnya.
"Ini anak aneh banget sih? Abis nangis malah ketawa."
"Iya ya, gue juga baru tau. Ini toh yang namanya 'abis nangis terus ketawa'."
Yudha menatap gadis unik di depannya. Ia bingung dengan takdir yang mempertemukan mereka, Tuhan ... begitu sayangnya kah Engkau padaku hingga memberiku kebahagiaan seperti ini?
***
24 Agustus 2019.
Tangan Ayla bergetar. Hampir saja ia menjatuhkan ponsel yang digenggamnya. Penyebabnya bukan getaran pada ponsel yang terus bergerak. Akan tetapi, nama dari masa lalu yang sekarang sedang mewarnai ingatannya, terpampang pada identitas pemanggil.
Setelah menarik napas dalam tiga kali, wanita itu akhirnya menggeser layar gawainya dengan pelan.
“Halo, Ayla?” suara di seberang sedikit bergetar.
“Yudha? Apa kabar?” jawab Ayla. Setelah saling bertukar salam, obrolan basa-basi pun dimulai, saling bertanya kabar, pekerjaan, dan lain-lain.
"Ay, lo inget pertemuan pertama kita ‘gak?" tanya Yudha. Pria itu akhirnya memberanikan diri menelepon wanita yang dirindukannya di sore hari. Saat para pegawai biasanya sudah pulang kecuali beberapa gelintir yang sedang lembur atau pekerja shift.
"Ehm, pas sekelas waktu kelas dua 'kan? Waktu kita dipaksa duduk bareng sama wali kelas, kalo gak salah ... Bu Ida, ya?" jawab Ayla sambil berusaha mengingat-ingat.
"Bukan. Gue kenal lo jauh sebelum itu."
"Kapan? Oh ... sebentar. O iya. Gue inget. Waktu itu lo nempatin kelas gue pas ulangan umum, bener gak?"
"Tuh, akhirnya inget juga."
"Ya, maklum aja, udah lama banget kan itu."
"Iya, udah lama. Tapi, ketemu lagi sama lo sekarang, bikin gue mengenang apa yang pernah terjadi dulu. Kehadiran lo sekarang ngebawa gue pada rasa yang dulu pernah tersimpan," suara Yudha tiba-tiba terdengar parau.
"Sudah lama loh itu, masa iya masih ada rasa," sergahku menolak mempercayai kata-katanya, yang seperti sedang menggobal itu.
"Selama apa pun emang gak pernah bisa lupa sama lo. Selalu ada rasa kangen buat lo," aku Yudha jujur.
"Gombal!" sahut Ayla sarkas.
“Emang gue kedengeran lagi ngegombal ya?”
“Iya.”
Ayla tahu ia kini sedang membohongi dirinya sendiri, bersikap kaku terhadap pernyataan Yudha. Padahal pernyataan pria itu merasuk dalam hatinya cukup jauh, membasahinya dengan rasa yang sama. Entah itu betul sedang sekedar menggoda atau jujur. Sebab, wanita itu tahu ia tidak boleh melangkah lebih jauh, jika tak ingin ada hati yang tersakiti. Pria di seberang sana bukan lagi menjadi miliknya seorang.
= = = = = = = = = = = = = = =