Memang keterlaluan guru kimia itu, selain suka mengomel, ia juga telah berbohong tentang berita Hana akan di pecat dari sekolah. Untung saja ada Ye Jun yang dapat memastikan kebenaran fakta itu, jika tidak, Hana akan termakan siasat licik guru kimia yang mengaku guru paling cantik itu.
Tetapi bukan itu alasan Hana bersedih hati, akan tetapi ini masalah hati, masalah kepercayaan orang-orang padanya. Ia juga di sebut-sebut sebagai wanita gila oleh mantan mertuanya, bahkan di ancam akan di hilangkan nyawanya, itu yang membuat ia stres. Di tambah guru kimia yang omongannya bagai racun itu, makin membuatnya pusing bagai kepala dan hatinya akan pecah. Jika ia berkenan memakan orang mentah-mentah, dan dunia tanpa sebuah aturan, maka ia akan memakan guru kimia itu pertama kali saat ia mengomel di hadapannya.
Kini Jam sepuluh malam telah tiba, ia berada di ruang tempat kerjanya, dan ia tutup kunci pintunya rapat-rapat. Sepertinya ia tak kuat menahan beban masalahnya, hingga ia sandarkan kepalanya di atas meja kerjanya, dan sesekali ia bentur-benturkan dengan pelan. Namun tetap saja seratus bayang kesalahan itu masih melantun di kepalanya, entah solusi seperti apa kiranya, agar semuanya kembali indah.
Kemudian, terlintas sebuah surat yang kemarin ia tulis sebelum melompat di lantai empat gedung itu, ia pun mencari dan ia temukan di laci meja kerjanya. Dan ia baca lagi, “Seseorang yang pandai fisika, belum tentu pandai matematika. Seseorang yang ahli di bidang astronomi, belum tentu ahli di bidang antropologi. Sama halnya dengan cinta di dalam diri setiap manusia, perbedaan hati telah membuat cinta itu tersusun berbeda. Sangat jelas aku dan kalian merasakan cinta yang berbeda. Bagai itu, mengapa aku memilih jalan ini di sebabkan ada alasan yang amat kuat. Kalian tak boleh mengucapkan tidak padaku, sebab kita berbeda dalam hal itu. Akan aku jawab dengan singkat, bahwa dia adalah diriku dan aku adalah dirinya. Ketika ia wafat, maka seharusnya aku pun sama. Terima kasih dan maafkan aku....”
Surat itu ternyata adalah suatu bukti bahwa ia tanpa tunangannya, bagai api tanpa hawa, bagai laut tanpa pantainya. Bagai rembulan tanpa cerita indahnya. Dari itu, memang seharusnya ia mati mengikuti jejak langkah tunangannya.
Berbagai ucapan terima kasih dan minta maaf pun telah tersusun lengkap di surat itu. Baginya pula, satu lembar itu sudah cukup untuk mewakilkan perasaan yang ia alami selama ini, jadi jika ia bunuh diri, dan bagi siapa yang penasaran tentang penyebabnya, maka temukan saja di kertas tipis satu lembar itu bertulis tinta merah itu.
Kemudian ia lipat segi empat dan ia masukkan kembali ke dalam laci lagi kertas tersebut. Lalu ia sandarkan kepalanya ke kepalan kedua tangannya, lalu ia menutup wajahnya, menggaruk kepalanya, memukul-mukul kepalanya. Ia bingung ingin berbuat apa.
Lalu suara ketukan pintu terdengar, dan ternyata itu suara berat Ye Jun yang menyapanya dari balik pintu, “Hana... Apa kamu baik-baik saja di dalam sana?” mendengar itu, ia pun bergegas mencari handphonenya di dalam tas, lalu dengan cepat memutar satu lagu favoritnya dan ia besarkan volume agar terdengar oleh Ye Jun. Baru ia jawab keresahan Ye Jun, setelah dua kali mengulangi pertanyaannya, “Ya... Aku baik-baik saja. Setelah ini aku akan pulang, aku ingin menyelesaikan satu lagu favoritku dulu. Tunggu saja aku di bawah!”
“Baiklah...” sahut Ye Jun dengan yakin.
Memang tadi siang ia sempat kesal dengan guru olahraga itu, ia kesal karena guru kimia itu tak pernah berhenti mengomelinya, lantaran guru kimia itu cemburu sebab Hana selalu di perhatikan oleh Ye Jun. Namun tadi sore, setelah Ye Jun mendekatinya paksa, dengan alasan ia hanya ingin memberitahunya bahwa berita dari guru kimia itu sama sekali tak pantas di percaya. Akan tetapi, Ye Jun juga menambahkan penawaran diri ingin mengantarkannya pulang. Tetapi Hana menolaknya mentah-mentah, ia tak ingin kicauan cerita baru buruk muncul kembali.
Akan tetapi Ye Jun tak peduli dengan hal itu, ia hanya ingin memastikan bahwa Hana tidak melakukan upaya bunuh diri lagi, atau kecelakaan di tengah jalan saat mengemudi. Meski Hana telah berulang kali memastikan ia akan baik-baik saja pada Ye Jun, dan mengatakan tidak usah terlalu memedulikannya, Tetapi Ye Jun belum tentu yakin akan ucapan Hana dan sebagai teman akrabnya, ia harus peduli dengannya. Apalagi semasa almarhum tunangannya masih hidup, ia pernah berpesan padanya untuk menjaga Hana ketika ia berangkat kerja keluar kota.
Setelah satu lagu favoritnya selesai, ia pun keluar dan menutup kunci pintu ruang kerjanya. Ia pun turun menggunakan tangga lift, akan tetapi setelah ia berada di lantai satu, ia baru teringat telah melupakan buku hariannya di meja kerja. Ia pun masuk ke dalam tangga lift lagi dan kembali ke lantai tiga.
Ketika ia akan membuka pintu ruang kerjanya, ia dengar ada yang memanggil namanya di balik pintu besi menuju lantai empat yang kebetulan terbuka. Ia pun melangkah menuju arah suara dengan pelan, lalu melewati pintu besi dan menaiki satu persatu anak tangga. Setelah berada di lantai empat yang terbuka, angin semilir bertiup kencang menghantam tubuhnya, kegelapan malam menjadikannya bertanya-tanya tentang siapa yang tadi memanggilnya. Tak ada orang ia lihat, terkecuali selembar matras yang kemarin ia gunakan. Di atas matras itu, ada satu botol minuman yang tergeletak berisi penuh.
Hana pun melangkah ke arah matras tersebut dengan hati-hati, saat di tepi gedung dan ia akan mengambil botol minuman yang tergeletak itu, datang seorang serba berpakaian gelap di belakangnya tanpa ia ketahui. Saat ia ingin memutar balik badannya, tiba-tiba punggungnya di dorong keras oleh seorang bertopeng gelap di belakangnya itu, ia pun jatuh dari lantai empat tanpa teriakan ketakutan, dan bahkan, ia seolah-olah menikmati kejatuhannya hingga ia memejamkan mata.
Seandainya tunangannya itu kembali datang menemuinya, ia akan mengajaknya berbicara, ia hanya akan melemparkan satu pertanyaan saja, yaitu “Siapa kamu sebenarnya?” mengapa ia terlalu sulit di tebak dan membuat ia selama ini bingung dan susah.
Akan tetapi hampir tubuhnya satu meter lagi mencapai dataran tanah, seketika datang kilat dengan cepat dan lalu kedua tangan yang kuat menangkap tubuhnya dengan mudah, bagai ia menangkap sebuah benda ringan.
Kepala Hana terpental keras ke belakang dan rambutnya menutupi sebagian wajahnya. Ia kira, ia telah mati dengan tubuh yang hancur berantakan, akan tetapi ia sama sekali tak merasakan sakit sedikit pun di tubuhnya.
Saat ia berusaha membuka matanya pelan-pelan, ia melihat dalam buram wajah putih pucat yang amat tampan dan gagah. Rambutnya rapi dan tubuhnya kekar dan agak tinggi.
Terbesit sekilas dalam pandangan Hana, bahwa mungkin kali ini benar-benar malaikat pencabut nyawa yang datang, dan akan mengantarkan jiwanya ke tempat asalnya.
Tetapi ternyata, tangan kuat itu berasal dari tubuh seorang pria yang tak di ketahui asal dan tujuannya. Ia berkekuatan di batas ke normalan manusia, ia seperti gambaran super hero di dalam film-film besar hollywood, hanya saja ia tak memiliki kostum kepahlawanannya, ia hanya mengenakan pakaian serba hitam saja.
Kemudian angin berembus meniup rambut yang menutupi wajah Hana hingga terbuka, di saat itu pula, pria itu menunduk menatap wajah Hana. Ekspresinya sangat kaget, ia bagai teringat pada wajah seseorang, di saat itu pula ia melepaskan Hana dalam rangkulannya secara tiba-tiba, lalu ia pergi melaju dengan gesit bagai kecepatan cahaya.