Ini terlalu membingungkan dan membuat malu Hana, setelah keinginannya di turuti oleh orang tua tunangannya untuk membongkar makam, ternyata sama sekali tak membuahkan hasil, sebab jasad tunangannya masih tergeletak kaku di peti mati tempat pengistirahatan terakhirnya. Yang ada, Mama tunangannya itu jatuh pingsan tak tahan menahan kepedihan kerinduannya pada pria yang ia lahirkan itu.
Tak tanggung-tanggung ocehan Papa tunangannya itu padanya, kini ia tidak lagi di sebut-sebut sebagai wanita gila, tetapi bekas mertuanya itu berharap ia mati saja. Selain itu, ia dianggap ingin membunuh perlahan keluarga mereka, karena sesudah tunangannya meninggal karenanya, kini yang ia incar adalah Mamanya.
Ia dianggap telah sengaja merencanakan pembongkaran makam ini, agar mantan mertuanya itu kembali histeris saat melihat anaknya yang telah mati. Sebab berdasarkan pengalaman yang ia ketahui saat awal kematian tunangannya itu, Mamanya lah yang hampir meninggal, karena seakan ia tidak terima anak satu-satunya itu meninggal mendahuluinya.
Hana juga diancam, apabila Mama tunangannya itu meninggal dunia, maka tak segan ia akan di laporkan kepada pihak kepolisian atas tuduhan pembunuhan. Tak segan-segan pula, mantan mertuanya itu akan membayar seseorang untuk membunuhnya jika hukum tidak dapat menjeratnya.
Kini hidup Hana bagai tanaman layu yang tak terawat, lusuh dan tak lagi mengenal kata semangat hidup. Ocehan itu serupa kilat yang telah menghancurkan hati serta pikirannya. Makin ia memadamkan ingatan ocehan itu, makin deras pula tangisan rasa bersalahnya. Satu-satunya yang dapat ia lakukan adalah menghentikan nafas hidupnya... Seakan dunia ini tak lagi mengharapkan kehadirannya. Dari itu, ia rasa bunuh diri adalah satu-satunya jalan terbaik baginya.
Jam dua belas siang, selepas dari pemakaman, ia pun tiba di sekolah dan langsung menuju ke kantin sekolah.
Ia berharap lima anak didik kesayangannya itu ada di tempat pojok biasa mereka berkumpul. Entah menantinya atau tidak, ia tetap akan menghampiri mereka, ia ingin sekali bercerita keluh kesah yang ia rasa.
Tentang beban pikiran dan beban moral yang selama ini ia rasakan. Ia tak butuh anak didiknya itu memberikan solusi atau tidak, namun ia hanya butuh seorang teman untuk melampiaskan keseluruhan yang ia rasa. Tak peduli lagi ia dianggap cengeng atau tidak tahu malu oleh segelintir siswa yang melihatnya apabila mengaduh sambil menangis pada geng Siput itu. Sebab ini masalah mendalam yang tak kunjung usai atas hati dan pikirannya.
“Heh, itu Ibu Hana...” kata salah satu dari geng Siput. Mereka semua kaget, lalu serentak menghampiri Hana yang datang dengan linangan tangisan. Mereka saling memeluk, dan merangkul Hana tanpa mempertanyakan perkara apa yang sedang terjadi hingga Ibu guru kesayangan mereka itu menangis sejadi-jadinya, layaknya anak gadis yang sedang di putuskan pacarnya.
Mereka seakan merasakan kepedihan yang di rasakan Ibu Hana hingga mereka hanya diam dan paling merasa ialah si tomboi, ia tak kuat menahan tangisnya melihat Hana menangis oleh deritanya. Meski belum lama ia mengenal Ibu Hana, namun seakan ia sudah mengenal Hana telah lama. Ia sangat paham, karena setahunya Ibu Hana selalu menutupi kesedihan atau masalah yang ia rasakan pada siapa saja, menyimpannya erat-erat dan menyelesaikannya sendirian tanpa berharap ada orang yang membantunya memecahkan masalahnya.
Namun kali ini benar-benar berbeda dari sifat Ibu Hana, pasti masalahnya sebesar gunung bila di darat, dan sebesar ombak bila di laut. Ia tak dapat lagi membendung air pasang yang telah menimpanya. Seolah-olah di dalam tangisnya itu terucap kata jeritan tak kuat menahan asa.
Di kursi, meja bundar kantin itu, mereka duduk berkumpul di sekitar Hana, mereka ikut meneteskan air mata sambil mengelus-elus tangan Hana. Sekian kali Hana membersihkan aliran air mata ke pipinya, namun tetap saja mengalir sederas hujan yang turun di awan mendung. Sedang si tomboi, menangis tanpa menahan suaranya, suara tangis dan air matanya sama derasnya.
Hana pun mengusap air matanya kembali lalu menatap ke arah mereka sambil berbicara, “Apa kalian masih percaya sama aku? Masih menginginkan kehadiranku? Aku tidak punya siapa-siapa tempat bicara selain pada kalian, aku percaya sama kalian melebihi percaya pada diriku sendiri.” Serentak mereka menganggukkan kepala.
Entah ia memiliki seorang mata-mata atau indra ke enam yang bisa merasakan suhu hawa tubuh Hana, atau entah kenapa! Guru kimia yang akrab di sapa dengan panggilan “Cantik” itu tahu keberadaan Hana. Kemungkinan ia memiliki perangkat pengetahuan dalam kepalanya, tentang bagaimana menciptakan susunan zat-zat berdasarkan rumus kimia tentang menelusuri keberadaan seseorang. Atau ia telah menaruh sebuah zat aktif di tubuh Hana hingga ia bisa mencium keberadaannya.
Keningnya telah berubah menjadi lengkung, bibirnya telah menggumpal jadi satu, langkahnya secepat dua kali kecepatan kayuh sepeda saat melihat Hana, yang ia anggap Hana kembali memainkan dramanya.
Ketukan keras sepatu satu kalinya menandakan akhir dari langkahnya, bahwa ia telah sampai di belakang Hana, “Drama apa lagi yang kamu mainkan guru gila? Drama sedih pura-pura menangis ya? Oh... Iya, aku dengar kamu akan di pecat di sekolah ini, karena sering lalai menjadi guru. Apa gara-gara itu kamu menangis? Hah... Cengeng banget jadi orang. Tapi kasihan juga hidupmu, tunangan meninggal, dan kariermu juga berakhir. Apa kamu tidak berencana melompat di atas gedung lantai empat lagi? Aku rasa memang itu yang terbaik untukmu!”
Tak tahan ocehan itu, si tomboi pun bangkit dan tiba-tiba tangan kanannya langsung menampar pipi guru kimia itu. Seketika mereka menjadi pusat perhatian seisi kantin... Dan guru kimia itu kaget lalu ingin membalas tamparan di pipi si tomboi, namun ketangkasannya dapat menghentikan gerak ayunan tangan guru kimia itu. Kemudian si tomboi itu berkata, “Jika Ibu masih bermulut besar dan memaki Ibu Hana, aku yakinkan Ibu akan segera di pecat juga disini!” ia pun melepaskannya dan duduk kembali.
Ternyata orang tua si tomboi penyumbang dana teraktif dan terbanyak di sekolah itu, bahkan nama Papanya tercetak dan bertanda tangan atas pembangunan sekolah megah itu. Sekali ia minta Papanya berbicara pada kepala sekolah untuk memecat guru kimia yang bawel itu, maka akan tamat kariernya.
Lalu guru kimia itu pergi dengan kesalnya. Dendam membara telah tercipta di hatinya. “Hana harus segera mati,” ucapnya.
Di meja bundar di pojok kantin, tambah membara pula tangisan Hana, celoteh tadi itu telah menjadi racun ampuh yang sulit di halang apalagi di obati. Seribu kata sabar yang di ucapkan bergantian oleh grup Siput, tak menjadikan api rasa bersalahnya kunjung padam, bahkan tambah menjadi-jadi dan mungkin saja akan menghanguskan kewarasannya.
Kemudian Ye Jun menghampiri mereka, ia berlari bagai menginfokan berita genting. Setibanya di depan mereka, ia langsung melihat kondisi Hana yang tengah di peluk.
“Jangan pernah dekati aku lagi,” ucap Hana tiba-tiba pada Ye Jun.