Bukannya terlalu mencampuri urusannya, meski ia tergeletak tujuh haru berturut-turut dalam sebulan ini, ia tidak akan peduli dengan keadaannya. Tetapi ini masalah cinta yang ia rebut di hatinya. Dan lama-lama ia melihat, guru matematika itu semakin memainkan dramanya, bermanja-manja supaya Ye Jun semakin memperhatikannya. Begitulah ungkapan geram guru kimia itu yang cemburu pada Hana.
Sedangkan geng Siput tak memiliki keberanian untuk melawan ungkapan konyol dari guru kimia itu, mereka hanya membantu Hana secepatnya pergi dari jeratan omelan guru judes itu. Dan Hana pun tak memunculkan pembelaan sedikit pun, ia hanya pasrah di caci maki oleh guru berbibir sexi itu. Ia hanya bisa menunduk, sesekali ia menarik nafas panjang, bagai ingin melawan, tetapi rasanya ia terlalu capek meladeni perkataan yang tak berarti itu.
Sore pun datang menelan siang, tak kuat rasanya menunggu jam pulang sekolah sampai malam, Hana pun pulang menuju apartemennya. Di perjalanan, ia hanya menyandarkan kepalanya ke kaca pintu mobil, melihat lesu lalu lintas yang tak begitu padat, memunculkan bayangan apa saja di dalam pikirannya. Apalagi perkataan guru kimia itu. Memang selama dua puluh menit ia di serang bertubi-tubi tanpa sedikit perlawanan darinya, baginya itu tak apa, bagai kicau burung saja. Masih mending kicauan burung, tapi sama persisnya seperti istilah tong sampah nyaring bunyinya, bahwa semua perkataan yang keluar dari bibirnya itu adalah sampah, tak pantas untuk di rasa.
Akan tetapi, ada satu perkataan yang membuat Hana tidak terima, ia di katakan p*****r sekaligus pembuat masalah. Wanita mana yang tak marah di katakan seperti itu, terkecuali memang benar faktanya.
Namun bibir guru itu seakan tak sekolah, ia sama sekali tak memiliki kepandaian menjaga perkataan, menjaga perasaan seseorang. Ia hanya cantik dari luarnya saja, namun di dalam bagai buah busuk yang di penuhi ulat-ulat busuk pula.
Untung saja Hana tak hanya berparas cantik, tetapi ia memiliki segudang kesabaran dan pandai menjaga etika berbicara, jadinya jika api melawan api, maka makin membara, untung saja dia adalah air yang memadamkan suasana.
Tak payah semua perkataan tak jelas itu di simpan erat dalam hati lalu membuat sinar terang semangat hidup dalam diri menjadi redup. Itu hanya kepandaian guru kimia itu agar Hana kembali merasa bersalah, lalu berupaya melakukan bunuh diri kembali. Guru itu memang pandai membuat luka tanpa bekas karena menyerang dari segi psikisnya.
Setibanya di apartemen, ia pun masuk dan berbaring di sofa. Baru ia sadari setelah ingin membuang sehelai tisu yang barus saja ia gunakan ke wajahnya, bahwa kini apartemennya tiba-tiba bersih dan sangat rapi. Padahal seingatnya, sebelum ia tinggalkan, masih banyak sampah kertas dan tisu berserakan dimana-mana. Tapi mungkin yang datang kesini dan membersihkan apartemennya ialah Papanya, kalau tidak dia, berarti Ye Jun. Soalnya, hanya mereka yang tahu letak apartemennya.
Tetapi kenapa tidak ada pemberitahuan kepadanya mengenai itu, biasanya jika ada tamu sekaligus itu keluarga, bagian Resepsionis akan memberitahukan. Dan lagi pula, seorang tamu tidak akan bisa masuk ke dalam ruangan apartemen seseorang jika tidak memiliki seizin pemiliknya. Apa mungkin Cleaning Service apartemen yang membersihkannya. Lancang sekali mereka, memasukkan orang tanpa seizinnya.
Ia pun teringat sesuatu di dalam kamar, dan langsung tersentak bangkit menuju kesana. Ia khawatir barang-barang berharganya hilang.
Hana pun mandi menyegarkan diri setelah memeriksa lemari tempat penyimpanan barang berharganya dan ternyata masih lengkap dan utuh. Lima belas menit kemudian setelah mandi, ia membenamkan diri di kasur empuknya dengan Kimono yang masih melekat di tubuhnya.
Saat ia memejamkan mata, bayang wajah pria mirip tunangannya itu kembali muncul dalam kepalanya. Bahwa semua yang ia saksikan dan ia rasakan sendiri malam itu benar-benar kenyataan, dari embusan angin sangat terasa malam itu.
Hana membatin, “Penasaran ini harus segera di selesaikan, agar tidak menjadi beban yang berlarut dalam diriku.” Segera ia mengenakan pakaian dress berwarna hitam, kali ini ia berencana menemui Mama, Papa tunangannya, lalu menceritakan semua kejadian yang menimpanya. Kalau bisa ia meminta kuburan tunangannya di bongkar kembali. Karena ia takut mayat tunangannya hilang dari tempat istirahat terakhirnya.
Memang akhir-akhir ini sering di beritakan di media televisi tentang mayat yang kembali hidup dan hilang dari pemakamannya, dan ternyata mayat tersebut hanya di manipulasi kematiannya dengan di suntikkan zat kimia agar ia terlihat seperti telah mati.
Biasanya mayat yang ternyata masih hidup itu digunakan sebagai alat perancangan teknologi rahasia, dimana seluruh organ tubuhnya di ganti dengan mesin. Semacam tikus percobaan. Dan baru-baru ini, lagi marak tersebar luas berita tentang hal itu, dimana lima dari mayat yang hilang, hanya satu yang berhasil terlihat masih hidup.
Jarak apartemennya dengan rumah orang tua tunangannya hanya memakan waktu setengah jam, setibanya disana, ia menyalami lalu mencium tangan Papa, Mama seperti kebiasaannya saat bertemu dengan mereka. Hal itu di tegaskan oleh tunangannya sewaktu masih hidup, ia meminta Hana untuk melakukan hal sederhana itu agar terkesan lebih sopan dan menghargai orang tua kesayangannya.
Namun semenjak tragedi meninggalnya tunangannya itu, Papanya mulai memandang ia sebagai wanita yang berperilaku buruk, sebab Hana diyakini terlalu meminta apa-apa secara berlebihan, dan itu telah membuat anak tunggalnya itu terlalu memaksakan diri, ia bekerja keras untuk mendapatkan jabatan tertinggi.
Lain dengan Mamanya, ia anggap Hana sama sekali tidak bersalah atas kematian anak kesayangannya. Sebab ia memahami karakter Hana berdasarkan tingkah yang satu jenis dengannya. Mamanya memahami bahwa yang terlalu ambisius itu adalah anaknya sendiri, ia hanya membuktikan pada Hana, bahwa ia bisa mengejar apa yang ia citakan selama ini hingga ia lupa diri, dan Hana hanya mendukungnya tanpa menuntut yang berlebihan.
“Ada apa Nak... ?” kata Mamanya penuh anggun. Kemudian Hana menjelaskan panjang lebar mulai dari awal di hadapan Mama, Papa tunangannya itu hingga ia menangis.
Hanya Mamanya yang memahami apa yang dirasakan gadis cantik itu, apa yang di ceritakan Hana bukanlah tipuan palsu belaka, bukan hanya air mata, bukti kurus tubuhnya sudah jelas menggambarkan bahwa ia benar-benar kehilangan tunangannya dan sangat mencintainya. Mama itu pun memeluknya erat, mengatakan padanya agar bersabar.
Namun di akhir cerita, ketika ia menjelaskan telah di selamatkan seseorang yang menyerupai anak mereka di udara ketika berupaya bunuh diri, kedua orang tua itu pun kaget sekaligus tak percaya. Apalagi Hana meminta agar kuburan anak mereka di bongkar kembali, tambah ia dianggap gila oleh kedua orang tua tunangannya itu.
“Kau sudah gila ya... Lebih baik kamu pulang sebelum aku bawa kamu ke Rumah Sakit Jiwa,” tegur Papanya sambil menunjuk ke arah pintu.
Hana pun berlutut memohon di hadapan kedua orang tua yang menganggapnya gila itu, berurai air matanya dalam sembahannya. Lima belas menit, tetesan air mata Mama itu pun membuatnya iba, dengan pelan ia mengucapkan, “Baiklah... Besok kita bongkar pemakamannya.”