Penuh Tanda Tanya

1046 Words
Akan tetapi, wanita yang doyan membaca novel romantis sebelum tidur itu pun juga terheran saat tubuhnya melayang-layang dan mendarat ke permukaan tanpa segores luka. Memang sulit ia yakini tentang peristiwa semalam itu, walaupun begitu, ia amat percaya bahwa ia di selamatkan jiwa kekasihnya yang meninggal enam bulan yang lalu itu. Ia tahu persis dari lembut tangannya, mata serta keseriusan wajahnya. Itu benar-benar tunangannya. Kekasih yang amat ia cinta. Tak peduli Ye Jun menuduhnya ngelantur bahkan di sebut-sebut pandai berdongeng olehnya, ia percaya bahwa itu benar-benar nyata. Ia dikte satu persatu apa yang ia lihat sewaktu sekilas ia sadarkan diri, gedung itu, cahaya lampunya, langit-bintang, serta wajah tampan yang sangat ia rindukan, tunangannya itu. Tetap saja Ye Ju tak percaya. Lagi-lagi ia menganggap Hana bercerita isi buku yang sering ia baca. Lagi pula, mana ada jiwa, ruh yang dapat menyentuh manusia, apalagi bermesra-mesraan, menyelamatkannya bagai seorang super hero menyelamatkan kekasihnya saat keadaan genting. Memang benar-benar ngelantur Hana. Saat itu juga, Hana tak terima hasil tanggapan Ye Jun, ia ciutkan kening serta bibirnya hingga terlihat manyun. “Awas kalau aku bisa membuktikan,” ucap Hana dalam batin. Ia berjanji akan mencari tahu dan akan membuktikannya pada pria yang doyan minum susuk kedelai tiap pagi itu. Jika memang itu bukan jiwa tunangannya, berarti kemungkinan itu sebuah robot aktif yang sengaja di ciptakan untuk mengurangi tingkat kematian bunuh diri di negaranya. Ya, benar. Kemungkinan seperti itu nyatanya. Selepas ini, ia akan mencari tahu sampai ia temukan bukti kongkretnya. “Han, aku sudah berjanji pada diriku sendiri. Jika terjadi apa-apa padamu, aku yang merasa paling bersalah dan tidak terima. Jika dewa menyakitimu, maka aku yang pertama maju melawannya. Jadi aku mohon jangan pernah melakukan hal seperti ini lagi!” kata Ye Jun, sedang Hana membelakanginya di pembaringannya. Ia agak cemberut atas tuduhan cerita dongeng yang tadi ia sampaikan pada Ye Jun. “Hem... ” sahutnya sekilas. Mengetahui arloji di tangan kiri menunjukkan jam sebelas, Ye Jun pun pamit pada Hana dengan sehelai kata mesra, “Ingat... Siapa yang akan cemas jika kamu kenapa-kenapa.” “Mama-Papaku,” jawab Hana singkat, hingga membuat Ye Jun ketawa. Ia pun meninggalkannya. Hana pun mulai termenung, di kepalanya masih penuh tanda tanya tentang pria yang menyelamatkannya semalam. Sebenarnya ia pun sedikit ragu, apakah itu memang jiwa tunangannya, robot atau malaikat? Jika seorang manusia biasa, tentu jelas itu tidak mungkin, sebab manusia tidak bisa terbang. Pun jika itu jiwa atau ruh, maka benar apa yang dikatakan Ye Jun, ia tidak bisa menyentuh. Jika robot maka tangannya seharusnya kaku. Jika itu malaikat, berarti artinya Tuhan masih sayang padanya. Tetapi itu juga tidak mungkin. Lalu itu siapa? “Aku berpikir, maka aku ada.” Pernyataan dari seorang filsuf itu, ia ulang-ulang sampai berapa kali sambil membayangkan kejadian-kejadian aneh yang selama ini ia alami. Sewaktu dia di rawat inap hari lalu, Dokter yang menanganinya, memvonis ia akan tergeletak koma hingga beberapa bulan mendatang, namun nyatanya tidak, belum genap sehari, ia sadarkan diri setelah mengalami mimpi yang ia tak tahu apakah itu mimpi buruk atau sebaliknya. Dan apakah mimpinya itu bersangkutan dengan apa yang terjadi dengannya semalam? Atau jangan-jangan semua itu... Hanya Fatamorgana belaka. Hanya sebuah ilusi, atau apalah yang bersangkutan dengan sebuah dunia khayalan. Sampai-sampai Hana berpikir bahwa kemarin waktu ia pergi ke lantai empat gedung, mengambil matras yang memang tiba-tiba ada, menghitung bintang-bintang, lalu melompat terjun itu hanya lah suatu ilusi, atau bentuk-bentuk khayalan yang bersarang di kepalanya. Dan mungkin sebenarnya ia hanya pingsan sewaktu ingin pulang. Bisa jadi pula, seorang yang menyelamatkannya itu hanya lah hasil bayangan ilusi di kepalanya. Tetapi tunggu dulu, Hana seakan tidak terima dengan visual yang di gambarkan oleh kepalanya. Ia ingat satu hal baru lagi, yang agak sedikit memiliki kemiripan dengan penyelamatannya semalam. Jangan-jangan apa yang di katakan Papanya sewaktu kecil itu memang benar kenyataannya, Papanya mengaku bahwa mereka dari keturunan orang-orang super. Buyutnya sewaktu lampau, seorang prajurit dinasti yang memiliki kecepatan layaknya kecepatan cahaya, ia bisa terbang semudah kapas melayang di udar, dan ia selalu menyelamatkan orang-orang dalam kesukaran pada zamannya. Tak segan membunuh jika itu penjahat yang selalu meresahkan warga. Itu artinya, Hana telah di jaga arwah nenek moyangnya hingga ia beberapa kali berusaha bunuh diri ini, selalu selamat tanpa kurang satu apa pun dari tubuhnya. Mungkin arwah buyutnya itu memahami kondisi Hana dan ingin menyenangkan keturunannya yang lagi merana, hingga ia merubah wujudnya persis tunangannya. Tetapi... Hana ingat-ingat kembali mimik muka Papanya sewaktu menceritakan itu, dua, tiga kali ia mengidentifikasi wajah Papanya, apakah ia benar-benar serius menceritakannya atau apakah ia hanya seperti biasanya, mengarang cerita konyol yang sangat menyenangkannya. Astaga... Itu benar-benar cerita konyol, tak pantas di percaya. Itu hanya dongeng semata. Cerita khayalan Papanya saja. Tak kuat atas hasil pikiran dirinya sendiri, ia pun duduk dan diam menundukkan kepala, bagai wanita murung memikirkan sejuta masalah. Ditambah wajah, rambut dan pakaiannya yang kusut, serta wangi parfumnya telah tak sewangi biasanya, membuat ia seperti mayat yang baru saja hidup. “Sepertinya aku harus mandi lalu istirahat,” ucapnya pada perawat di Klinik itu. “Aku rasa juga seperti itu, silakan Anda sudah bisa pergi.” Hana pun berjalan dengan sangat lemas. Belum jauh meninggalkan ruang Klinik, akhirnya tengah hari menghentikan aktivitas belajar dalam kelas. Semua para siswa keluar bergerombol sesuai kelompok mereka dengan amat riang. Ini yang paling memalukan, pasti isu tentang ia pingsan sudah tersebar ke seluruh penjuru sekolah, apalagi turunan isu tersebut menjelma menjadi isu yang paling buruk yang telah sengaja di isukan oleh bibir yang tak ingin bertanggung jawab. Di hari-hari biasa saja, ia telah kenyang oleh berbagai isu yang menjelekkan namanya, mungkin jika ia hitung, selama delapan bulan ia kenal dan dekat dengan Ye Jun, setiap harinya isu baru bermunculan. Nyatanya ia sudah kebal dengan isu-isu seperti itu. Namun, kali ini, di tengah langkahnya yang lunglai, ia amat penasaran, kira-kira isu seperti apa hari ini yang akan ia dapatkan. Perasaannya mulai tidak enak, ketika berpapasan dengan para siswa, tatapan mereka terlihat sinis. Mungkin kali ini akan ada badai dahsyat menimpanya, serupa banjir banding yang akan menenggelamkannya, atau tsunami yang akan menghanyutkannya. “Ibu Hana... Ibu Hana, itu Ibu Hana.... ”, teriak kelompok geng Siput yang dari mencari di depannya. Namun, saat Hana menoleh ke belakangnya, ternyata bunyi ketukan sepatu itu, memang benar penggunanya Ibu guru kimia musuh bebuyutannya. Tampaknya, raut wajah murka darinya tertuju padanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD