Bab VI

1623 Words
Keesokan harinya Hannah bisa lega, karena hari itu adalah hari liburnya. Paling tidak dia punya waktu dua hari untuk mempersiapkan mentalnya terhadap Adam untuk hari senin nanti. Dia tak berhenti mengutuk dirinya atas tindakan Adam terhadapnya, dan juga tindakannya dia terhadap Adam kemarin di pagi yang menjelang siang itu. Akibatnya dari sisa jam kerjanya kemarin, setelah ciuman itu, Hannah berusaha mencari – cari kesibukan untuk menghindari Adam. Dan untungnya hari itu Adam terlalu sibuk dengan band-nya, lebih untungnya lagi dia juga tahu diri untuk tidak menganggu Hannah. Hal yang terberat adalah ketika malam dia harus menyiapkan pakaian kantor Adam untuk hari senin. Wangi mint bercampur vanila langsung masuk ke hidungnya begitu masuk ke kamar Adam, daaaan menyebabkan Hannah berpikir harus memakai masker setiap masuk ke ruangan ini. Belum cukup dengan itu, ketika sedang menggantung dasi Adam pada tempatnya, di tengah – tengah ketidak tenangannya, cowok itu keluar dari kamar mandi dengan handuk terikat di pinggangnya. Pemandangan Hannah langsung distract pada tempat yang tak seharusnya, yaitu tubuh Adam yang bertelanjang d**a. “Akhirnya kamu datang sendiri juga tanpa harus saya minta,” goda Adam sambil menikmati tatapan Hannah. Hannah langsung mengalihkan pandangan pada pekerjaanya yang sudah setengah jalan, dan ketika dia merasa hawa tubuh Adam yang mulai mendekat ke arahnya dia mempercepat gerakan tangannya, setelah yakin selesai dia langsung ngibrit keluar dari kamar Adam. Membuat Adam terbahak – bahak. “Gue yakin dia udah sering turn on kalo ngeliat lo...” Ola tergelak begitu Hannah selesai menceritakan kejadian kemarin. Hannah langsung melotot, “Gak ada komentar yang lebih mutu apa..” Ola menaruh kuas blushon-nya, mereka sedang bersiap – siap karena malam ini mereka akan melakukan ritual ‘malming-an’ bareng Nadine, satu lagi bff tercintaah, “Yeeee gue seriussss...You should have seen that, gue aja yang gak ngerasain tau. Masa lo gak, susah ih ngomong sama perawan.” Ola greget. “Sialan lo.” Pekik Hannah, “Jangan kenceng – kenceng dong!” “Pardon my french..” Seketika apartment mereka terkontaminasi dengan bahakan Ola. Tampang sewot Hannah langsung meyeruak. Ola yang memang 2 tahun lebih tua dari Hannah dan sudah resmi menjadi janda sejak tahun lalu dan otomatis sudah lama kehilangan hak menyebut dirinya perawan, dan memiliki pengalaman percintaan yang lebih banyak dari Hannah. Tapi bukan berati Hannah rela mendapatkan tawa tidak senonoh darinya.  Ketika tawanya reda Ola melanjutkan pendapatnya, “Lagian....jangan telmi dong cintaahhh...Lo itu gak cerita detailnya ciuman itu, tapi dari situ aja gue udah bisa nebak that he’s very very interested in you..And vice versa.” “Errr....Tau darimana?” “Dari cara dia memulainya....Dia suka cara lo ngeliat dia, makanya sebelum ciuman itu di mulai, maksud dia nanya ke lo gitu adalah obviously... he was trying to keep the way you look at him, and ada baiknya untuk yang satu itu, don’t you ever change.” Hannah langsung mengingat – ngingat pertanyaan Adam yang membuatnya seperti maling ketahuan nyolongkotak amal di Masjid, sebelum menciumnya.  “Kenapa kamu tadi liatin saya kayak gitu waktu di kolam?”   Seketika Hannah meringis dalam hati. “And after that,  yang dia  minta bukan ‘jangan bilang siapa – siapa ya’ atau ‘kamu bisa lupakan ini semua kan’ tapi dia minta lo gak manggil dia ‘pak’, dengan secara gak langsung dia berharap suatu hubungan yang ‘lain’ dari lo. Berati ada harapan dong dia mau lanjut.” Jelas Ola panjang lebar. Dalam otaknya, Hannah menyetujui sebagian besar dari omongan Ola, mendadak dia jadi merasa bersalah sudah membuat Adam merasa tersinggung setelah ciuman itu, tapi sedetik kemudian dia memilih untuk tidak ke-geeran dulu.  “Yeah, mungkin emang gue perempuan yang paling pantes di cium di rumah itu di banding Mbok Ani dan Mbok Jum.” “Hmmm mungkin...” sahutan Ola, membuat mata Hannah langsung melotot, “Serius?!” “Hahahahaha......Tuh kaaaan ngarep! Hahahahahaha.” Sekali lagi tawa Ola mengisi apartment itu karena Hannah yang terjebak kalimatnya sendiri. “Dasar durjana...” Hannah mendengus. “You are not five years old kid yang tabu ngungkapin perasaan kayak waktu di cium sama temen sekelas lo. You’re f**k*n 26,” “Languange.” Sergah Hannah. Tapi gak di gubris, “Too old to play dumb honey..Stop wishing he will figure out the riddle without the clues.”  Ola nyerocos cepat menyebabkan Hannah perlu waktu ekstra untuk mencerna kalimat Ola yang ia yakin adalah sebuah perumpamaan. “Show him.”  tandas Ola lagi. “What? No...He sucked me like...”  Hannah berhenti mencari – cari perumpamaan yang tepat untuk membalas, kebingungan setelah insaf tak sepatutnya meng-kambinghitamkan Adam, karena dia juga membalas ciuman itu dan...menikmatinya.  “Whatever.”  Kata Hannah akhirnya, di sambut dengan senyuman menang Ola.  Meskipun dia tahu sahabatnya itu hanya sedang berupaya membuatnya sadar akan apa yang sebenarnya dia inginkan. Dan harus di akui, Ola berhasil. Screw it, sekarang Hannah harus sibuk mengusir nyamuk – nyamuk Adam yang beterbangan di atas kepalanya.     “For new year and new boy!”  Nadine mengangkat tinggi satu gelas Macallan 18th on the rock.  “Untuk target tahun ini bikin luntur predikat gue sebagai janda kembang!” balas Ola pede gak mau kalah sambil ikutan mengangkat Bacardi Mojito-nya sejajar dengan cocktail Nadine, cekikikan dua sobatnya langsung menyusul. Hannah mengangkat shot tequilanya “For new year, new boss!” “Cheers!”  seru mereka bersamaan. Bunyi ‘ting’ langsung terdengar setelah itu selanjutnya mereka meneguk minuman masing – masing. Mereka gantian menatap Hannah dengan shot tequila ke-7nya. “She needs it.” Gumam Ola pelan kepada Nadine. Nadine menaruh gelasnya yang isinya tinggal setengah di meja bar. Lalu mengambil tempat duduk di tengah – tengah Hannah dan Ola. Seperti biasa, she’s way too hot to every club. Especially this Irish bar,Boyd, favorite mereka hang out tiap weekend. Gak terhitung deh sudah berapa pasang mata yang dari tadi memberikan perhatiannya pada miss jagonya-wooing-people-wherever-she-is, “So what’s new?” tanyanya. Lirikan Ola langsung jatuh kepada Hannah, saat ini di merasa topik menarik untuk menjawab pertanyaan Nadine adalah kisah ‘Rama-Shinta’ sahabat tercintanya itu, Hannah menarik nafas sejenak sebelum mengatakan. “My boss kissed me.” “Hah? Seriusss???? Maksud lo si Adam?!” Nadine membelo. Secantik – cantiknya dia, adalah sekepo – keponya Ola. Dan sekarang level kepo mereka adalah sepadan. “You’re first kiss has been stolen by a mister-so-not-your-boyfriend?” katanya lancang. “Well, I had never been kissed for like...I can’t remember, but that WAS NOT my first kiss anyway.”  Bantah Hannah sewot.  Ola ikut menyeringai, “Saking lamanya gue yakin lo udah lupa siapa yang cium lo pertama kali..” “Just focus to the damn topic.”  Geram Hannah. “Indeed. I need the whole damn story.” Muka ala ibu – ibu ngeliat tukang sayur Nadine keluar, sejenak dia melupakan betapa jelita wajahnya, “Detail.” Katanya lagi.   Tampang Hannah berubah bloon, “What my first kiss?”  “Bukaaan...Adam!” balas Nadine gak sabaran, demi mengakhiri bombardir keingintahuan Nadine, Hannah akhirnya menceritakan kejadian yang di alaminya. “Gue udah sering ketemu laki – laki model kayak Adam.” Tanggap Nadine dengan ekspresi yang jauh dari menyenangkan.  “I know...” balas Hannah pelan. Nadine menatap sahabatnya itu khawatir, Ya mantan – mantan pacar Nadine adalah gak jauh dari laki – laki berjenis Adam, pengalamannya dengan semua laki – laki itu selalu berakhir sama. Putus. Bosan. Gak cocok. Blablabla. Bagi Nadine mereka semua hanyalah penghias ibukota yang terlalu menganggumi diri sendiri, dan menghindari komitmen. Tapi Ola malah berpendapat lain. “Bisa aja kan tapi Adam ada rasa sama Hannah. Secara...” “Tapi menurut gue,” Nadine memotong, “Biasanya cowok kayak Adam tuh ngincer cewek – cewek yang sejenis sama mereka, I mean, yang juga mau ‘main’. Ngerti kan? Jadi karena mereka gak mau ambil resiko sama komitmen, ya mereka juga ngincer cewek – cewek yang gak mau ambil resiko sama komitmen.” Hannah manggut – manggut menerima penerawangan Nadine, “So why are you keep going with those guy?” Nadine mendelik, “Because I’m one of those girl.” Miss sophisticated ini memang mempunyai hak istimewa untuk menjalani hidup ‘semaunya’ tanpa rasa khawatir. Who cares tentang masa depan, who cares kata orang? Dia bisa mendapatkan laki – laki mana pun yang dia mau karena dia cantik, dalam tubuhnya pun mengalir harta warisan uang orang tuanya yang gak habis 9 turunan. Orang tua Nadine sudah berpisah waktu dia masih SMA, Nadine memilih tinggal di Indonesia dengan mendiang papanya (Sudah meninggal 3 tahun lalu), dan mamanya sekarang menatap di Brussels, kampung kakek Nadine bersama anak laki – lakinya a.k.a kakak kandung Nadine.  She loves freedom and freedom loves her. Tapi Hannah, jomplang maksimal dengan Nadine, dia berasal dari keluarga yang biasa – biasa saja, tidak kekurangan, tidak juga berlebihan, tapi sangat menjunjung tinggi harga diri. Boleh tanya Ola gimana galaknya papa plus kumis mautnya yang memiliki dua fungsi yaitu, satu buat nakutin orang, dua memikat hati mama. Dia dan Ola jauh lebih dulu kenal daripada Nadine. Ola merupakan tetangga sekaligus teman sekolahnya di Palembang, mereka berdua datang merantau ke Jakarta 5 tahun silam. Ola melanjutkan S1 nya di sebuah universitas dan di situlah dia bertemu Nadine yang merupakan teman satu jurusannya, sementara Hannah memilih berkerja freelance. Lulus kuliah Ola memutuskan berumah tangga, pilihan yang sampai sekarang agak dia sesali karena akhirnya berujung perceraian. Hanya bertahan 1 tahun. Pahit asem manis kehidupan sudah mereka lalui di kota orang ini, satu – satunya hal yang akan Hannah jaga seumur hidupnya adalah, apa yang telah di tanamkan keluarganya pada dirinya semenjak, harga diri.  “Dan menurut gue, gue bukan cewek yang kayak gitu. Mestinya Adam tau itu.” Sahut Hannah menyambung. “Ya...Dia tau itu...Kecuali...” kalimat Nadine terputus. “Apa?” Ola jadi penasaran “Kecuali dia tipe cowok yang super b******k yang main ‘habek’ aja asal ada cewek.” Lanjut Nadine sadis. “Ew. Is he that bad?” Ola meringis ngeri. Nadine mengangkat bahunya. Tubuh Hannah mendadak loyo di atas stool kepalanya terasa berputar. Dia tak rela dengan pendapat Nadine tentang Adam, tapi dia juga tak bisa main tidak setuju dengan perkiraan seorang Nadine. Kemungkinan pernyataan Nadine adalah akurat hampir 80%, pertama karena Nadine super pengalaman dalam hal ini. Kedua dirinya? Dan Adam? Adam suka sama dia? Asiten? Apa bandingannya dia dengan mantan – mantan pacar Adam yang rata – rata adalah model, bintang film, atau kalangan setara lainnya? Tapi.... Benarkah Adam seburuk itu? Kenapa dia bisa sejahat itu? Sial, bahkan dalam jarak sejauh ini dia masih bisa mengintimidasi hati dan pikiran Hannah. “Hoyy, lo gak apa – apa kan? Gue straightforward aja nih.” Nadine menggenggam bahu Hannah lembut, di balas senyuman lemah olehnya. “Gue bukannya bilang Adam gak mungkin suka sama lo loh Han.” Hannah tau Nadine bermaksud menghiburnya. Tapi dia gak mau keliatan lemah. “Gak apa – apa lagi, lagian gue cuman butuh pendapat doang. Mau dia suka sama gue atau nggak, who cares?” gengsi Hannah emang lebih gede daripada tembok Cina yang bisa diliat dari bulan. Nadine dan Ola yang sudah afal betul dengan itu, hanya tersenyum.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD