Bab VII

1775 Words
“Mas Adam, can you stop ruining everyyyyythiinnng!”  Shean mengekor Adam dari belakang sambil menghentak – hentakan kakinya. Dia tidak akan berhenti sampai mendengar kakaknya menyetujui apa yang diminta. “Mas Adam, mas tuh gak bisa seenaknya kayak gitu, aku udah gede, it’s my life, I have plan for it, aaaandddd please don’t ruin itttttt. Since you have no idea how matters something to me that doesn’t matter to you!”  rengekan panjang Shean akhirnya berhasil membuat Adam berbalik menghadap kepadanya. Shean langsung menyisir raut muka kakaknya, berharap ada sedikit harapan. Donat yang lagi duduk sambil menjulurkan lidahnya terlihat terhibur menyaksikan tingkah kedua majikannya itu, kepalanya bergerak dengan setia mengikuti keberadaan mereka. Adam menghela nafas panjang, “Kamu gak tau ya diluaran sana banyak orang jahat? Shean, kamu itu perempuan..” tahu – tahu Adam merasa perlu mengoreksi kata terakhirnya, “ralat, cewek di bawah 16 tahun.” “What the hell is the difference between perempuan and cewek.” Gerutu Shean sambil mendelik. Adam tidak menghiraukan kalimat Shean terus berbicara, “Mana boleh pergi – pergi tanpa pengawasan. Mas ngelarang kamu untuk pergi, bukan gak ada alasan loh. Daripada kamu yang nginap di rumah teman – teman kamu, gimana kalo mereka aja yang nginap di sini?” Demi Tuhan, sebenarnya Adam sangat tidak nyaman kalo ada orang asing menginap di rumahnya (kecuali pacarnya atau teman – teman band-nya), tapi egonya yang besar mendadak ciut kalau di depan Shean. Dan sayang sepertinya Shean tidak menyadari pengorbanan Adam yang diperuntukan baginya. Dia malah membayangkan betapa ngerinya keterbatasan kebebasannya dan teman – temannya kalo harus satu atap dengan Adam.  Nooooooooooooo. Sebuah alasan pun meluncur dari bibir Shean “Arrrggh! Gak mau, Liezzy punya seasons komplit Dynasty yang belum ada di Netflix, terus kalo Mas Adam berpikir aku mau suruh Liezzy dan temen – temen aku yang lain repot bawa barang – barang buat nginep, you know what? I'm not that selfish! Lagian aku, Stefany, and Jill udah sepakat ke rumah Liezzy. Secara kan kita yang butuh, aku yang butuh, masa Liezzy yang mesti repot – repot bawa baju, peralatan mandi dan lain - lainnya. ” penjelasan panjang lebar Shean yang kayak busway gandeng membuat Adam gak habis pikir dengan pertumbuhan adiknya ini yang menurutnya terlalu cepat, mestinya kalo lagi libur begini anak seumur Shean tuh masih nonton Barney di ruang tamu. Dia sendiri aja masih nonton Cartoon Network. “Mas bisa cariin kamu seasons lengkap yang kamu bilang tadi, apa itu namanya Decade?” Adam memberi usul. “Dynasty!” ralat Shean kesal. “Lagian apa bedanya mereka bawa barang – barang buat nginep sama kamu bawa barang – barang buat nginep?” “Barang mereka lebih banyak dari aku gimana sih mas kan sering gak ngijinin aku beli bikini, tanning lotion etcetera.” Tandas Shean hanya dalam satu tarikan nafas, sekarang dia memilih menjauh dari Adam, dia berjalan ke meja makan, lalu duduk sambil melipat tangannya di d**a. Kemudian mendadak perhatiannya tersedot pada seseorang perempuan yang berjalan menuju meja makan. Lalu ia melirik kakaknya tajam. “Mas, Is she your new girlfriend?”     Kuping Hannah langsung berasa panas begitu mendengar kalimat yang sekoyong – koyong terlontar dari bibir anak ABG yang sedang duduk dua meter di depannya itu. Meskipun dia mengatakannya dengan pelan, tapi pendengaran Hannah masih terlalu tajam dan ruangan ini masih terlalu lowong untuk menangkap suara tipis itu. Ia menengok ke kanan dan kiri untuk memastikan tidak ada perempuan lain di ruangan ini, dan baru sepenuhnya mengarifi yang di maksud oleh anak itu adalah dirinya. Dia menatap Adam berharap cowok itu akan menjawab tapi yang ada Adam malah keliatan lagi ribet dengan ekspresinya sendiri. “Hmmmmppp...” Adam menggaruk – garuk kepalanya. Dia ingin menjawab ‘tidak’ untuk pertanyaan Shean, tapi entah kenapa malah tak rela. Yang ada kejadian dua hari lalu melayang - layang di otaknya, membuat dia semakin bingung judul jalinan antara dirinya dengan Hannah. Kalo dia menyangkal, dia ngeri Hannah akan menganggapnya laki – laki b******k yang mempermainkannya hanya demi sebuah ciuman, tapi kalo dia mengiyakan pertanyaan Shean, hmmm...jika diingat – ngingat dari sambutan Hannah yang begitu dingin terhadap ciuman itu, yang dia khawatirkan adalah...asistennya itu akan menamparnya di depan adiknya karena sudah ngaku - ngaku, dampaknya adalah harga dirinya akan turun kasta dan yang terburuknya mungkin saat itu juga Hannah akan mengundurkan diri.  Sial. Seumur hidup baru kali ini dia merasa membutuhkan pengakuan dari seorang perempuan sebelum menamakan hubungan mereka. Dan baru kali ini dia merasa khawatir akan di tolak mentah – mentah. Daaaan baru kali ini juga dia peduli akan reputasinya di mata seorang perempuan.  What you’ve done to me.  Di sela – sela kepenatan yang sedang berlangsung, Hannah maupun Adam tidak menyadari Shean hanyalah seorang ABG yang gak ngeh pertanyaan barusan membuat dua orang dewasa di sekitarnya ini menjadi salah tingkah. Bahkan dia malah bertingkah seakan – akan kalimat tadi tidak pernah di ucapkannya dengan serius. Shean yang hanya dengan melihat Hannah sekilas, sudah merasa cukup yakin dengan pemikirannya sendiri tanpa perlu jawaban apa – apa dari kakaknya atau perempuan yang menarik perhatiannya itu, bahwa kakaknya yang sering gonta – ganti pacar itu, kali ini merubah total seleranya. Hari ini Hannah baru menuruti saran Adam untuk berpakaian lebih santai, pilihannya jatuh kepada ripped jeans hitamnya dan t-shirt longgar abu – abu bergambar The Beatles. Membuat pemikiran Shean bercabang ke mantan – mantan pacar Adam yang selalu berpenampilan seperti seorang model, lalu membandingkan dengan penampilan simple dan edgy Hannah.  360 derajat.  Akhirnya Shean memutuskan turun dari bangkunya lalu dengan antusias menghampiri ‘pacar baru’ mas-nya itu. “Hey...” senyum Hannah menukik. Shean membalas senyum itu, “Aku adiknya Mas Adam, Shean..” “Nice to meet you, Shean...Aku Hannah...Asistennya kakak kamu.” Hannah menggunakan kesempatan itu untuk meluruskan pikiran Shean. Reflek Adam menatap Hannah kesal untuk beberapa detik, efek rasa kecewa yang mendadak akibat klarifikasi yang di dengar kupingnya dari mulut perempuan yang dua hari lalu mendapat perlakuan ‘istimewa’ darinya itu. Seakan mengerti Donat yang beralih duduk di sampingnya sambil menatapnya prihatin. Air muka Shean kelihatan tidak puas, “Uh...Menurut aku Mbak Hannah terlalu keren buat jadi asisten.” Senyum polos anak itu membuat Hannah menahan nafas. Hannah tergelak, “Oh ya?” “Iya, makanya tadi aku kira Mbak Hannah tuh pacarnya-“ “Shean, duduk. Makanannya entar keburu dingin tuh...” Adam sengaja memutus percakapan itu sebelum Shean bicara lebih lanjut tentang ketidakcocokan Hannah sebagai seorang asisten dan membuat dirinya sendiri setuju dengan pendapat adik tercintanya tentang asistennya yang barusan mengobrak – ngabrik hatinya itu. Hannah bersyukur saat melihat Shean mengangguk. Gadis berambut panjang bergelombang itu tiba – tiba menarik tangannya, dia bengong sesaat menerima keakraban ini tapi lalu tubuhnya mengikuti langkah Shean ke meja makan. Setelah sampai di depan meja makan, Shean meloncat ke kursinya, dan Hannah seperti hari – hari sebelumnya dia mengambil posisi 45 derajat dari Adam yang membuat dirinya sekarang bersebrangan dengan posisi Shean. Donat menaikan dua kakinya kepangkuan Hannah, anjing itu bertingkah manja seakan mengatakan I miss you, “I miss you too cutie..” gumam Hannah sambil mengelus sayang kepala Donat, setelah merasa mendapat cukup kasih sayang Donat turun dan duduk di antara jarak kursi Hannah dan Adam. “He likes you..” gumam Adam sambil tersenyum. Setelah itu selama beberapa detik rasa canggung Hannah yang belum hilang membuatnya urung untuk memulai perkataan, dia hanya bisa membalas senyum Adam sekilas. Ah..bahkan dia masih merasakan jejak bibir cowok itu di bibirnya, terutama sekarang ketika duduk di sini wangi parfum Adam yang otomatis terhirup dan hampir menyerang pertahanannya setiap dia menarik nafas. “Mbak Hannah sampai jam berapa di sini?“ suara Shean membuat Hannah berhenti dari atmosfirnya. “Sampe malam kok.” Jawab Hannah. “Mas Adam, aku gak jadi nginap di rumah Liezzy.” Shean mengalihkan pandangannya pada Adam yang jidatnya berkerut tiba – tiba. “Aku mau sama Mbak Hannah aja dirumah.” Mendengar itu senyum Hannah mendadak tersungging. Antara bingung dan geer.  “Kenapa?” Kepala Adam seperti terkantuk batu mendengar kata – kata Shean barusan, membuatnya sungguh – sungguh ingin menelpon dokter spesialis bedah terbaik di Indonesia untuk meihat apa yang ada di dalam otak setiap anak ABG sehingga jalan pikiran mereka bisa belok – belok begini, atau... apa jangan – jangan cuma adiknya aja yang menderita ‘kelainan’ ini. Perasaan tadi dia merengek – rengek seperti siap memusuhi kakaknya sendiri hanya demi teman – temannya dan segala macam ocehan tentang rencana hidup, DVD, model apalah itu, tapi sekarang dia membatalkan keputusannya segampang itu cuma karena Hannah yang baru di kenalnya 5 menit lalu. Artinya adiknya yang amat sangat di sanyanginya itu lebih memilih orang lain di banding dirinya?! Rasanya Adam mau loncat dari lantai 20. “Oh…She’s cooler than you. I’d like to get to know her.” sahut Shean  semangat. Kontan senyum Hannah semakin lebar, dia  merasa terhibur dengan tingkah lucu Shean yang menurutnya ABG banget dan semakin geli melihat respon Adam yang keliatan bloon. “Eh kalo di liat – liat Mas Adam mirip Nate Archibald deh..” Hannah iseng sengaja menyambung. “Siapa tuh?” tanya Adam. “Nate tuh hoott banget and Jenny tuh rock and roll princess banget mirip mba Hannah...Itu loh mas yang di Gossip Girl itu.” sahut Shean gak sabaran. “Oh tukang gosip...” tanggap Adam tambah bloon.  Karena tak tahan Hannah langsung terkikik pelan, tapi lama – lama tawanya meledak. Adam menatapnya sewot juga menatap Shean kesal karena ikut tertawa. “What are you guys launghing at??” tapi bukannya menjawab, gadis – gadis di hadapannya itu (kecuali Donat), malah tertawa makin kencang. Wajah Adam sudah out of control saking gemasnya dengan kedua perempuan yang di hadapannya. Ingin sekali sekarang juga membawa Shean pergi jauh - jauh dari ruang makan atau mengurungnya di ruangan dimana pun di rumah ini, lalu kembali ke meja makan untuk membekap bibir Hannah dengan bibirnya sampai gadis itu kehabisan nafas. Dia harus mendapat pelajaran karena telah menertawakan seorang Adam. “Ngomong – ngomong,” Hannah sudah bisa menghentikan tawanya walau wajahnya masih merah, “Kok mbak, gak liat kamu kemarin – kemarin?” rasa canggung yang tadi dirasakannya sudah lumayan luntur.  “Baru pulang dari Jerman.” Lanjut Adam kepo. “Ih Mas Adam apaan sih, Mbak Hannah kan nanya aku bukan nanya mas...” bibir Shean maju dua senti. Adam menatap adiknya tak mau kalah, “Tapi kan jawaban mas bener.” Sekali lagi Hannah geli melihat tingkah laku dua kakak beradik ini. Belum dua minggu dia kerja di sini, dia sudah melihat banyak sisi dari lelaki yang menjadi boss-nya itu. Pertama – tama Adam yang di kantor, dinamis, santai tapi tegas lalu Adam yang seorang laki – laki normal dan seksi ketika menciumnya dua hari kemarin (diam – diam sisi Adam yang kedua ini adalah favoritnya), dan sekarang Adam yang bertingkah immature mengikuti adiknya. Shean memutuskan untuk berhenti beragumen dengan kakaknya, sekarang pandangannya beralih penuh pada Hannah, “Mbak Han, aku mau di rumah sama mbak Hannah ya hari ini...” rengeknya. Hannah gak tau pasti kenapa permintaan Shean barusan membuatnya meleleh, sebentar saja bertemu dengan Shean, tapi gadis mungil itu sudah membuat Hannah yakin akan betah untuk beberapa jam kedepan di rumah ini. “Well, that’s  good idea. Hannah, if you don’t mind baby sitting dadakan...”  kata Adam sambil menatap Hannah meminta persetujuan. Hannah mengangguk dan tersenyum. “Sisters power! Mbak Hannah let’s attack Adam monsterrrr! YEAHH!”  Shean meloncat ke badan Adam yang sama sekali tidak memperhitungkan serangan itu. Ia langsung terjerembab ke lantai dan adiknya itu mendapat akses untuk menyerangnya bertubi - tubi. Adik kakak itu langsung bergulat di lantai, dengan backsound tawa Hannah yang meledak. “You guys!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD