Minggu pagi sekitar jam 10, pulang dari gereja Ola langsung tancap gas ke airport. Tante Ina, mamanya Hannah berlibur di Jakarta dan akan menginap di apartment mereka selama dua mingguan. Semaleman tadi Hannah susah di hubungin, telepon gak di angkat, w******p centang satu, sms gak di bales. Mungkin dia nginap di rumah boss-nya yang kayak hottie apple pie itu. Alhasil Ola-lah yang menjemput Tante Ina ke airport.
“Tante Ina!” panggilnya begitu melihat perempuan paruh baya yang sangat dikenalnya itu diantara kerumunan. Tante Ina yang mendengar namanya di panggil langsung menemukan sumber suara yang berjalan mendekat ke arahnya. Sebuah pelukan hangat mengawali pertemuan mereka setelahnya.
“Apa kabar tan...” Ola mengambil alih barang bawaaan Tante Ina dengan sopan. Terakhir kali dia bertemu Tante Ina sekitar 2 tahun lalu pas pulang ke Palembang, setelah itu karena Hannah yang lebih rajin pulang ke Solo Tante Ina jadi jarang ke Jakarta deh. Kalo di liat – liat penampilan Tante Ina masih seperti dulu, tak jauh dari celana kulot dan atasan berbahan rayon. Tetap sederhana seperti biasanya, senyumnya yang bikin betah, suaranya yang ramah, Tante Ina sebenarnya asli orang Solo, aksen jawanya masih halus gak terpengaruh dengan gaya ngomong si om yang orang Palembang asli.
“Baik...Kamu gimana, hayooo udah dapet mas yang baru?” goda Tante Ina.
Ola tergelak, “Aduh..nanti – nanti aja deh tante...” sahutnya, “Om gimana kabarnya tan, kok gak ikut?”
“Biasa..Dirumah jagain Kalika, sudah mulai pacar – pacaran itu anak...” Tante Ina tersenyum simpul. Kalika adik Hannah satu – satunya, baru lulus SMA tahun kemarin. Dari sini keliatan papanya Hannah masih overprotektif seperti dulu. Jadi ingat waktu zaman – zaman jahiliyanya bareng Hannah, si Om sempet gak bolehin Hannah keluar rumah selama satu minggu (Kecuali sekolah) gara – gara Hannah ketahuan hampir jadian sama kakak kelasnya yang merupakan teman sekelas Ola. Ola pun juga gak luput dari ceramahan si Om Seto yang setengah galak dan setengah baik itu.
Ola tertawa renyah, “Udah gede kan tan, gak apa – apa toh tante..”
“Ya kamu tau toh Om gimana..” jawab Tante Ina memaklumi sifat suaminya itu sambil tetap tersenyum.
“Iya sih...” Ola cekikikan, “Oh ya ngomong – ngomong Hannah kayaknya masih ada urusan sama kerjaanya, jadi gak bisa ikut jemput...”
Beep beep. Ponsel Ola bergetar yang barusan di sebut namanya tertera di layar. Panjang umur ni anak.
“Halo.”
“Halo La, lo jemput nyokap gue ya? Aduh sorry gue lupa banget hari ini nyokap dateng..” suara Hannah bernada menyesal.
“Iya...nih gue bentar lagi on the way pulang ama nyokap...Lo dimana neng geulis...” sahut Ola greget, semaleman ngilang nih anak. Bersamaan dengan itu tiba – tiba dari kerumunan Ola melihat sosok tak asing melambai ke arahnya. Matanya terpaku begitu sosok itu semakin mendekat dan semakin memperjelas wajahnya.
Hembusan nafas Hannah terdengar frustasi di telepon, “Gue udah di apartment, and I have bunches things to tell.”
“Okay me too.” Jawab Ola sambil tak berpaling dari sosok yang sekarang berdiri di hadapannya dengan senyum sumringah.
“Joshua?”
Dengan alasan ada urusan penting Ola berhasil menghindar dari Tante Ina selama kurang lebih sepuluh menit dan menarik Jeremy ke tempat yang agak sepi.
“Apa kabar La?” tanya Joshua dengan nada normal, terakhir kali Ola bertemu cowok itu adalah beberapa tahun lalu ketika dia datang untuk menemui Hannah dan Ola mengursirnya sampe keluar dari gedung apartment, dan beraninya sekarang dia bersikap senormal itu sementara hati Hannah sudah di obok – obok olehnya. Emang udah lama sih...Tapi dia gak tau apa sekarang itu masih berdampak ‘pake’ banget kepada Hannah.
“ Hannah gimana La?” tanyanya lagi.
“Baik..” jawab Ola singkat, “Gue cabut dulu ya, itu nyokapnya Hannah udah nungguin gue gak enak..” katanya.
“Itu nyokapnya Hannah??” tanyanya.
Ola menatap Joshua garang, “Iya. Kenapa lo mau kenalan?” dari pelototan matanya jelas Ola gak serius dengan ajakan ini.
“ Hannah-nya dimanaa??” dia gak menggubris sindiran Ola.
“ Hannah di rumahhh...Udah dulu yaaa Josh, gue mau cabut..”
“Oke...tapi gue boleh minta nomor Hannah gak? Gue mau hubungin dia.”
“You wish!” jawab Ola sinis lalu melenggang meninggalkan Jeremy tanpa mengingat sifat Jeremy yang pantang menyerah.