Bab XII

788 Words
“FINE! I QUIT!” “FINE!......... wait what?” Adam sadar dia sudah berseru melebihi emosinya, beberapa detik kemudian baru dia mencerna kata terakhir yang seenaknya meluncur dari bibir Hannah. Tapi terlambat... gadis itu sudah tancap gas dan menghilang dari pandangan. Dan sekarang dia merasa menjadi orang paling t***l di dunia. Adam adalah manusia super i***t yang sedang menyesal dengan kata – katanya sendiri.  Dengan langkah gontai dia masuk ke rumah, masih ada satu urusan lagi yang perlu di selesaikan, dia menaiki anak tangga menyusul Shean yang dia yakin sekarang lagi di kamarnya. Begitu sampai di depan kamar Shean dia menekan daun pintu dan mendorongnya, tumben gak di kunci. Pemandangan yang tersuguh di balik pintu adalah selimut di atas ranjang yang kembung gara – gara tubuh Shean bersembunyi di bawahnya. Adam mendekat, dan memilih duduk di pinggir ranjang, lalu kepala Shean menyembul tiba – tiba, dia menatap Adam melas “Mbak Hannah gak salah..” suaranya terdengar serak habis nangis. Nafas panjang Adam terbuang, “Jangan ulangin lagi Shean, Mas khawatir banget pas tadi pulang kamu gak ada di rumah tau gak.” Suaranya lemas. Hilang energi marah – marahnya dan emosinya yang datang satu jam lalu. “Mas, dengerin aku...” Shean mengangkat tubuhnya lebih tinggi dan bersandar, “Aku pergi di jemput sama temen aku, dan gak sengaja ketemu Mbak Hannah di The Cer. Mbak Hannah yang maksa aku pulang...Mbak Hannah gak salah.” Adam langsung meyakinkan bahwa pendengarannya tidak salah dan selanjutnya penyesalannya dengan pasrah naik drastis dua kali lipat, segenap jiwa dia hanya mampu berkata, “WHAAT?”     Drastic times call for drastic measures. And here we go, jam 4 pagi masih nongkrong di Mcd Sarinah sambil melototin koran loker. Hannah mengesampingkan semua perasaannya dan membuat logikanya berkerja keras dari semalaman sampai sesubuhan begini. Persetan dengan omongan Adam yang bikin sakit hati, persetan juga dengan kelakuan cowok itu yang membuatnya menderita penyakit patah hati, saat ini yang lebih penting adalah dia dan nasib finansialnya.  Sekarang mengerti kenapa kata finansial di sebut finanSIAL. “Nah...” matanya menangkap beberapa penawaran kerja yang lumayan, dia mengambil pulpen dari tasnya selanjutnya melingkari beberapa pilihan loker.     Samuel memasuki rumah Adam dengan langkah tergesa – gesa, Mbok Ani yang hendak mengatakan selamat subuh malah di serobot duluan sama cowok itu, “Adam mana mbok?” tanyanya buru- buru. “Di studio kayaknya tadi mbok liat mas..” sahut Mbok Ani sambil terheran – heran. “Oke makasih.” Samuel langsung melesat. Begitu sampai di studio, pemandangan yang di liat adalah seonggok daging tampan yang duduk di pojokan sambil memainkan asal senar gitarnya dengan tampang frustasi. “Man.” Tegurnya hati – hati. Adam tidak bereaksi. Tadi pun ketika meneleponnya untuk minta datang ke rumah, cowok itu hanya mampu berkata seadanya dengan nada gak beraturan, wajar kalo Sam langsung kelabakan, secara dia gak pernah ngedenger suara Adam sehoror itu. “Lo kenapa??” Sam berdiri di hadapan Adam dengan wajah khawatiir. Adam menyingkirkan gitarnya dari tubuhnya, “Gue aja gak tau gue kenapa, apa lagi elo...” sahutnya pelan dengan nada super flat. Suasana hening sesaat, Sam berkutik dengan kebingungannya. “Lo inget asisten gue gak?” tanya Adam tiba – tiba. “Inget, yang lo cium itu kan?” Sam mengambil duduk di samping Adam. “Dia ngundurin diri...” Mata Sam langsung menyipit, jidatnya mengkerut, “Lo kayak gini gara – gara dia ngundurin diri???” tanyanya gak percaya. “Masalahnya, gue tuh g****k banget Sam.” Adam mulai menormalkan nada bicaranya, “Gue nuduh dia sengkokol sama Shean buat bohongin gue, ternyata dia malah yang bawa pulang Shean dari tempat clubbing.” “Hah? Shean clubbing?!” Adam menggeleng, “Birthday party temennya di The Cer.” “Oh...” sahut Sam lega, “Lagian lo, gue bilangin stop terlalu protektif sama Shean, come on...Lo pernah seumur Shean kan, gak suka kan lo di kekang – kekang ya Shean juga lagi.” omelnya, dan Adam kembali tidak bereaksi, membuatnya mengafiri sesuatu, selama beberapa detik Sam diam, “Well, I'm on the ball.” Katanya kemudian. Adam menengok “Huh?” “It’s her, isn’t it?” “What?” “I'm not talking about Shean..” kata Sam lalu melirik Adam penuh arti “You’re losing your marbels..” ucapnya. “Ich bin ein Narr” Adam mengutuk dirinya dalam bahasa Jerman, which is bahasa planet bagi Sam. Sam gak sama sekali berniat untuk buka google translate, dia sudah akrab dengan kebiasaan sahabatnya itu yang suka mengeluarkan bahasa – bahasa aneh di saat - saat tertentu. Dari nadanya dia menebak sepertinya itu adalah sebuah kalimat yang mengandung sesuatu yang cuma layak di dengar anak – anak berumur 18 tahun ke atas.  Adam membuang nafas lalu memijit – mijit keningnya, “Gue harus gimana sekarang...” dia menyerah untuk berdalih. Dia sudah meminta cowok itu untuk datang kerumahnya, dan dia salah orang kalo mengharap tidak akan berasa trasparan di hadapan Sam. Percuma, sahabatnya itu ahlinya membaca situasi. “Call her, say sorry, ask her to come back, simple as that.” Kata Sam. Jauh dari perkiraanya ternyata Adam tidak membantah tebakannya. Yang ada di pikirannya sekarang adalah, setiap laki – laki pasti akan bertemu seseorang yang mampu menjadi kelemahannya, dan Adam,  dia beruntung kalau memang sekarang sudah menemukannya   “Is it simple as that?” “Yes..” “Are you sure?” “Fish or cut bait!” seru Sam gemas.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD