Bab XI

1009 Words
Hari – hari selanjutnya Hannah tetap tidak berniat sama sekali merubah misinya dalam menghindari Adam. Alih - alih pembicaraan kemarin itu berdampak positif pada hubungan antara dirinya dan cowok itu, yang ada emosinya malah naik beberapa level sekaligus. Sebenernya gak ada hal yang patut di besar – besarkan tentang kalimat Adam tempo hari. Wajar aja sih seorang boss meminta karyawannya untuk tidak ikut campur dalam urusan pribadi, dan percaya deh, udah beribu – ribu kali Hannah ngomong gitu ke dirinya sendiri, sampe nunjuk – nunjuk kaca segala. Tapi sia – sia, hmmmmm.......boro – boro rasa kesalnya ilang atau bukannya sadar diri, yang ada setiap kali keinget sama kata – kata Adam itu dia malah mewek di kamar mandi.  “Adam tega!” geramnya. Amarah di hatinya yang udah mau meledak malah makin komplit. Di tambah efek shot barusan. Lima belas menit berlalu akhirnya Hannah memutuskan untuk keluar dari toilet sebelum di dobrak sama OB. Secara kali ini yang dia pergunakan untuk memuntahkan emosinya adalah toilet di The Cer, dan dia cukup tau diri untuk gak lama – lama di dalam toilet yang bukan berada di tempat tinggalnya. Jari – jari ramping Hannah mengaduk - ngaduk tas hitam mungilnya demi menangkap peralatan touch up, sebuah lip tint, compact powder dan eye shadow. Berada di club dengan muka sembab tak baik bagi presepsi dikemudian. Beberapa kali dia pernah melihat cewek – cewek menangis di toilet ini, ada karena yang hamil gara – gara one night stand, berantem sama pacar, lost control karena mabok dan alasan – alasan memalukan lainnya. Which is kalo gak mau dianggap yang enggak – enggak, berati harus touch up setebel mungkin paling gak nutupin hidungnya yang masih merah. “Damn you Adam..” gumamnya sambil menahan emosi. Sembab yang ini belom ilang, jangan sampai deh air matanya meleleh lagi.  Sepertinya dia harus menggunakan jasa concealer untuk masalah yang satu ini, untung bawa. Hannah me-roller benda berbentuk stick itu di bawah mata dan ujung hidungnya yang merah lalu merapikannya dengan jari. Beberapa detik berlalu, kemudian dia mendengar pintu tolet terbuka dan sekurang – kurangnya 5 ABG masuk ke dalam toilet, dan di tengah – tengah rasa syukurnya karena telah berhasil mengatasi wajah sembabnya, ujung matanya menangkap sosok mungil yang tak asing di antara para remaja itu.  “Shean?!”     Hannah memanuver Mazda-nya di jalanan ibu kota yang sepi karena sudah tengah malam, konsentrasinya terbagi dua dengan suara Ola di ujung telepon yang menanyakan keberadaannya, “Iya sorry La gue cabut duluan, gue ketemu adiknya boss gue di toilet, harus gue balikin dulu nih anak..” dia melirik Shean yang terduduk pasrah di sampingnya dengan sadis. “Lo pulang nebeng Nadine aja ya..Gak apa – apa kan?—Okay bye...Have fun.” Hannah melepas earphone-nya. “Mbak Hannah, please jangan marahin aku. Karena pasti pas pulang aku pasti di marahin lagi sama Mas Adam...” Shean langsung mencuri start bicara begitu melihat kesempatan. Hannah menepuk – nepuk setir dengan jari – jarinya sambil berfikir, lalu melirik Shean, “Jadi birthday-nya Belinda di club? Dan kamu pergi tanpa sepengetahuan kakak kamu?” “Yes..” sahut Shean pelan. Hannah menghela nafasnya keras, “Oh God..Dia pasti lagi khawatir banget sekarang, Shean.” Kata Hannah prihatin. Bola mata Shean berputar, “Always mbak, either I go or I dont Mas Adam akan tetep selalu khawatir sama aku. So, apa bedanya? Aku kesel sama Mas Adam selalu di larang – larang, kenapa gak bikinin aku kandang aja sekalian kayak punya Donat.” Oceh anak itu menggebu – gebu, “Waktu aku tinggal sama mama-papa tuh gak kayak gini...” Hannah menggigit bibir bawahnya, “Mbak ngerti Shean, tapi untuk kali ini mbak gak bisa bilang kakak kamu salah ngelarang kamu pergi. Tempat kayak tadi itu terlalu awful buat anak sekolah kayak kamu, gimana kamu bisa masuk kalo gak ada ID anyway?” “Aku punya fake ID..” “What??” Hannah terpekik tak percaya, mungkin gak sih anak itu gak sepolos keliatannya. Kontan perasaan kecewa menjalari dirinya, sekaligus rasa khawatir kalau – kalau Adam sampai tahu kelakuan adiknya ini. Apa reaksinya? Can’t imagine. “Mbak, aku bisa jaga diri aku. Even I have a fake ID.” Shean tidak menyambut baik reaksi Hannah yang menurutnya berlebihan. Dan tanpa terasa mereka sudah sampai di depan rumah. Jarak antara rumah Adam dan The Cer memang gak terlalu jauh, bisa di tempuh sepuluh menit kalau dalam kondisi jalan selowong tadi. Jantungnya mau loncat begitu melihat Adam berdiri di depan pintu sambil melipat tangannya di d**a dengan wajah penuh emosi. Setelah berhasil memarkir mobil putih itu dan mematikan mesin, Hannah dan Shean turun dari mobil dan mendekati Adam.  Shean menunduk. “Kamu pergi ke party Belinda, hah?” rahang Adam sudah mengeras, Shean terdiam ngeri. “Sama Mbak Hannah?” Shean mendongak, “G-gak Mas, aku-“ “Masuk kamu Shean, nanti kita ngomong di dalam.” Tandas Adam sambil menancapkan pandangan tajamnya kepada Hannah yang lantaran ikutan gugup. Holy s**t, dia kan gak salah kenapa ikutan gugup. Pasti ini gara – gara, Adam keliatan seksi banget dengan celana training dan t-shirt abu – abunya.  “Tapi mas-“ “MASUK!” bentakan Adam mematikan suasana yang sedang berlangsung di kepala Hannah, peduli setan dengan celana training or t-shirt abu – abu, dia berhasil mengirim Shean kedalam rumah.  Selanjutnya cowok itu menatap Hannah tajam, dalam pikirannya dia berencana membuat cewek ini sadar dengan siapa dia sedang berurusan, “Saya udah bilang sama kamu jangan pernah-“ “Pak Adam tadi saya gak sengaja-“ “Jangan potong kalimat saya.” Sergah Adam gusar. “Pak Adam harus dengerin dulu penjelasan saya.” Hannah gak menyerah. “Gak perlu!” Mendadak emosi Hannah naik, “Pak Adam, anda gak pantas marah sama saya.”  “Jelas saya pantas, saya atasan kamu kan.” Hannah geleng – geleng kepala, “Wow..Saya baru tau ternyata atasan saya orang yang arogan, suka marah – marah sebelum ngedenger yang sebenernya dulu.” “Saya juga baru tau ternyata saya punya asisten saya gak bisa paham dengan omongan saya, dan super lancang..” balas Adam sadis. Hannah menganga tak percaya “Gak pernah saya bayangin selama karir saya, saya akan punya boss model kayak kamu!” saat ini akal sehatnya sedang tidak berkerja, sudah cukup, cukup untuk dirinya untuk bertele – tele. Tidak peduli apa yang akan dilakukan Adam padanya setelah ini, yang pasti dia harus puas menumpahkan semua kalimat sarkastik ke muka cowok itu demi membalas tuduhan yang gak sepantasnya dia terima. Thanks to tequila shot. “Oh cari aja boss lain kalo gitu!” “Apa menurut anda itu solusi terbaik Pak Adam yang terhormat? Hah?” “Why not, nothing to lose...” “FINE! I QUIT!” “FINE!” Hannah masuk ke mobilnya dan langsung tancap gas.                           
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD