Bab III

1338 Words
Telepon dari seketaris Mr. Ganendra tiga hari lalu menyebabkan Hannah duduk manis dengan senyum sumringah ala Kim Kadarshian dikombinasikan dengan semangat Manny Pacquiao yang menggebu – gebu di arena tinju. Nailed it daghling. Nailed it. Mata Hannah menangkap CCTV di sudut ceiling, mendadak dia menggigit bibirnya demi menahan senyum. Tiba – tiba dia menjadi sangat yakin harus melakukannya kalo tidak ingin Mr. Ganendra meragukan kewarasannya dan berbuntut dengan menimbang - nimbang sekali lagi atas keputusannya untuk memperkerjaan dirinya setelah dari CCTV melihat asisten barunya itu senyum – senyum sendiri kaya kodok yang lagi keselek vodka. Seketika Hannah ingin membolongi kepalanya karena sudah berfikiran ngaco. Boss mana yang mau kerajinan melototin CCTV. “Good morning!” suara ramah perempuan memenuhi ruangan. Saking seriusnya dengan lamunan, Hannah sampai gak sadar bunyi ‘jegrek’ dari pintu masuk di sudut ruangan. Seorang wanita sudah hampir setengah jalan menghampirinya  sambil tersenyum, dari suaranya Hannah agak yakin itu adalah Dian, seketaris Mr. Ganendra yang kemarin menelponnya. Dalam beberapa detik Hannah berhasil mengatur ekspresinya, berdiri dan menyalami wanita yang umurnya kira – kira tak jauh dengannya itu. “Nice to finally meet you, Ms. Dian?” Hannah memiringkan kepalanya seraya mengkonfirmasi identitas lawan bicaranya. “Just Dian..” Dian tergelak sambil melayangkan tangannya ke udara. Kemudian mereka duduk, “Okay.”  balas Hannah sambil tersenyum gak mau kalah ramah. Dian tersenyum setuju, lalu mengeluarkan sebuah map yang dari tadi dikepit di d**a dan pergelangan tangannya, dengan cepat ia menaruh map itu di atas meja dan membukanya, “Kemarin udah ketemu sama Mr. Roby ya..” tanyanya seraya membolak – balik lembaran kertas di dalam map itu. Hannah mengangguk, “Udah kok..” “Aku yakin Mr. Roby pasti udah ngejelasin semuanya..” “Detail..” sahut Hannah mantap. Dian mengeluarkan sebindel kertas yang sudah di beri clipper, lalu menaruhnya di hadapan Hannah. “Nah..ini surat kontraknya...Di baca dulu aja..Kalo ada yang gak jelas, atau keberatan tanya aku aja ya...Aku tinggal dulu, kira – kira setengah jam lagi aku balik.” Katanya lalu beringsut keluar. Sebenernya waktu lima belas menit aja untuk Hannah memahami surat kontrak itu, isinya gak jauh berbeda dengan surat kontrak yang dulu – dulu dia baca. Hak dan kewajiban Hannah tertulis sangat jelas di sana lengkap dengan sejumlah pasal – pasal yang berlaku bila salah satu pihak melangggar perjanjian. Tapi gak apa – apa, untung tadi gak lupa bawa obat bosen, Hannah mengaduk – ngaduk tas mencari benda tersebut dengan nafsu, tissue? Bukaan. Dompet? Bukan jugaa. Hape? Closed, tapi tetep bukan.. “Nahh..” akhirnya nemu juga, benda kecil putih yang nyambung via Bluetooth ke HP-nya sudah di tangan lalu dia memasangnya di telinga dan menekan tanda play di hapenya, suara Bruno Mars yang lagi ngomel gara – gara di lempar granat demi pacarnya pun mengalun. Tepat setengah jam kemudian, begitu playlist Hannah nyaris memutar lagu ke sembilan, Dian masuk. Hannah melepaskan airpodnya. “Gimana say?” tanya Dian yang udah duduk di tempat semula. Hannah tersenyum sambil mengangguk menandakan dia sudah oke dengan segala peraturan dari calon bossnya... Setelah menandatangi surat kontrak itu, Dian mengeluarkan selembar kertas lagi dari dalam mapnya, “Ini ada beberapa catatan dari Mr. Ganendra ...dan apa – apa aja yang perlu kamu lakukan..” Lalu Hannah mengulurkan tangan mengambil jadwal yang di sodorkan Dian kepadanya dan membacanya dengan seksama. Memastikan gak ada satu pun yang terlewat dari belanjaan Mbok Ani setiap belanja dua minggu sekali. Mengatur keseluruhan jadwal Mr. Ganendra , selalu berdiskusi dengan Dian untuk menyesuaikannya agar urusan kantor tidak bentrok dengan kegiatan pribadi. Setiap tanggal 5, mengatur gaji supir dan asisten rumah tangga. Setiap hari jumat mengecek persiapan studio Mr. Ganendra  di rumahnya untuk latihan band. WHAT? Boss gue anak band? Mata Hannah mendadak melotot secara sistematis selama seperskian detik lalu tersenyum geli. Keren juga. Pengen deh dia ngikik ngebayangin boss-nya yang kemungkinan seumur Mr. Roby versi local megang gitar betot.  Hannah baru saja penasaran dengan tugas berikutnya begitu sadar sebaiknya ia membacanya di rumah daripada berlama – lama di sini. “Okay thanks ya Dian...Jadi hari senin, aku mulai masuk ya...” “Yep..jam 10 teng di rumah si boss..Untuk pertama kali, perlu supir kantor gak buat jemput?” “Oh..gak perlu..aku nyetir..Lagian alamatnya gak gitu ribet..” “Okay then..Welcome to EVA!”     Jam 9 kurang 10 menit Hannah berangkat dari apartmentnya yang di daerah Salemba menuju rumah Mr. Ganendra  di jalan Hang Lengkir. First impression menentukan segalanya. Demi mitos itu Hannah memilih berangkat lebih awal daripada telat di hari pertama kerja. Khawatir jam segini dia bisa – bisa menghabiskan banyak waktu untuk memanuver mobilnya di tengah kemacetan Jakarta. Tadi pagi dia sengaja rela bangun lebih pagi dari Ola, daripada harus berebutan kamar mandi. Pekerjaan Ola yang eight to five di perusahaan yang berkaliber dan menggunakan finger print untuk absen pegawainya, agak – agak membuat Ola super ribet kalo pagi. Belom lagi kalo sang tuan putri yang satu itu lagi milih baju, Ya namanya juga Ola a guenine fashionista, the girl next door, the it girl, kalo kata Tyra Banks ‘high fashion’ apa lah itu....selalu kesulitan dengan kebiasaanya menyiapkan segala sesuatunya pada last minute, termasuk urusan kostum kerja. Untung meskipun berbagi kamar mereka tidak berbagi lemari. Di dalam apartment yang mereka sewa berdua ada dua kamar. Mereka memutuskan untuk memakai satu kamar saja untuk tidur, dan yang satunya lagi direlakan untuk 3 buah lemari dua pintu, satu buah rak tempel lebar, dan sebuah bench untuk bersantai. Walk-in closet dadakan itu di khususkan untuk menaruh baju – baju, aksesoris, sepatu, peralatan makeup. Hannah dan  Ola masing – masing berjatah satu lemari, sementara lemari yang satu lagi di bagi dua. Rak tempel yang cukup lebar dipakai untuk menampung sepatu – sepatu yang banyaknya hampir menyaingi koleksi Imelda Marcos. Sekitar 45 menit kemudian Hannah sampai di depan rumah berpagar putih bernomor cantik 88, sesuai dengan alamat yang di berikan Dian kemarin. Seorang satpam menghampiri Hannah, setelah menanyakan kebenaran alamat ini, Hannah mengutarakan maksud kedatangannya kepada pak satpam. “Oh...Sudah di tunggu mbak..” kata pak satpam yang tadi memperkenalkan diri sebagai Nurdin. Pak Nurdin segera menggiring Hannah kepada lahan parkir yang tersedia. Kemudian Hannah turun dari mobilnya, sempat bingung apakah dia harus menunggu atau langsung masuk ke rumah. Namun begitu melihat Pak Nurdin yang sepertinya sudah menghilang dari peredaran, Hannah memutuskan untuk masuk. “Selamat pagi...” sapa Hannah kepada siapa saja di rumah itu yang mendengar suaranya. Beberapa lama matanya mengelilingi pemandangan yang ada di hadapannya mengagumi interior rumah mewah itu. Bukan pemandangan pertama buat Hannah yang beberapa kali bekerja dengan orang – orang yang uangnya gak berseri, tapi tetap saja..Setiap melihat rumah boss di hari pertama kerja, bukan Hannah kalo gak langsung excited. Hannah gak ngerti apa sifat noraknya ini bawaan dari lahir, soal mama gak pernah cerita tentang dia memiliki kelainan apa kek gitu. Senorak – noraknya Hannah dia yakin semua orang setuju kalo rumah ini sebenernya agak boring karena perabotannya simple banget. Tapi hawanya bikin cozy, dua sofa putih besar dengan meja kaca di tengahnya plus cermin di sisi dinding sebelah kanan membuat ruang tamu yang sudah lega itu jadi keliatan super lega. Di dinding tengahnya ada sebuah jendela yang cukup lebar untuk memasukan kira – kira sepuluh sampai lima belas maling sekaligus, selanjutnya karpet bulu coklat yang ada di sana yang di jamin super lembut bikin Hannah mau guling – guling di atasnya. Ini baru ruang tamunya, mendadak Hannah jadi penasaran dengan ruangan lainnya. Tapi buru – buru mengubur keinginannya menyadari ini rumah orang. “Pagi, Mbak Hannah ya?” Hannah hampir meloncat ketika mendengar suara itu dari belakangnya. Ia berbalik menuju sumber suara. Wanita berumur sekitar 30 tahunan dengan baju kedodoran dan celana selutut tersenyum kepadanya. “Pagi, Mbok Ani ya?” kata Hannah menebak. Seingatnya hanya nama Mbok Ani yang di sebut dalam daftar tugas yang di berika Dian kemarin. “Bukan mbak...Saya Jum, anaknya. Ibu mah lagi ngejemur...” jawaban Mbok Jum membuat Hannah manggut – manggut. Ternyata Mr. Ganendra  demen memperkerjakan orang turun menurun. Jadi ngebayangin gimana ya kalo anak cucunya juga bekerja untuk anak cucu, atau mungkin cicit Mr. Ganendra . Ih amit – amit anak cucu gue jadi asisten. Jadi boss kali. Tepisnya buru – buru dalam hati. “Mbak Hannah, sudah di tunggu di ruang makan....Mari..” Selanjutnya Mbok Jum membimbing Hannah menuju ruang makan. Sepanjang perjalanan, Hannah masih tergiur untuk menikmati interior rumah ini. Tak jauh berbeda dengan ruang tamunya, biar pun itu tadi simple banget furniturenya cuma rumah ini terkesan lebar, nyaman, sejuk, adem, bikin betah lama – lama di sini. Setelah sampai di tempat yang di maksud, Hannah dapat menatap dari samping seorang laki – laki yang sedang duduk di hadapan piring berisi nasi goreng yang tinggal setengah. Menyadari ada yang datang laki – laki itu menoleh. “Mas Adam, ini Mbak Hannah...” kata Mbok Jum, lalu pamit dan berlalu. Dan detik itu juga ruangan yang cukup lebar untuk menampung 20 sapi Qurban ini menjadi sempit karena nafas Hannah hampir habis.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD