Tatapan Adam mendadak beku saat menyadari perempuan yang berdiri samping Mbok Jum sedang menatapnya dengan ekspresi campur aduk seakan dia ingin melahapnya. Sepeninggal Mbok Jum pun perempuan itu tetap diam, wajahnya memerah, membuat Adam ingin sekali menebak apa yang ada di alam otak perempuan itu. Sementara pikiran Adam sendiri langsung otomatis melayang mundur ke 6 tahun lalu.
“Adam..Gue butuh ngomong sama lo..” Joshua yang biasa gak pernah serius itu kali ini menunjukan ekspresi yang tak biasa. Kelihatannya ada yang serius. Pagi itu Joshua menelponnya untuk bilang bahwa dia akan mendatanginya ke rumah, membuat Adam bertanya – tanya setan mana mana yang masuk ke dalam tubuh temannya ini, sampai dia bela – belain bangun pagi untuk datang ke rumah Adam.
Adam melempar handuk yang melingkar di lehernya ke lantai, turun dari alat treadmill-nya kemudian langsung memasang posisinya untuk menghadap Joshua , dengan matanya ia mempersilakan sahabatnya itu untuk bicara.
Desis nafas Joshua mengawali kalimatnya, air mukanya gak seperti biasa, “Gue bikin account pake foto lo di Tinder..”
Jidat Adam langsung mengerut, “Hah? Ngapain?”
“Tadinya mau ngerjain lo..tapi keterusan...”
Jawaban Joshua terasa menggantung, “Maksudnya gimana?? Coba jelasin..” tanya Adam penasaran.
“Iya..Tadinya gue cuma mau ngejailin lo..Tapi gue malah kenalan sama cewek.”
“Hah terus?”
“Gue suka sama dia.”
“Terus?”
“Gue pacarin.”
Mata Adam terbelalak. “Gila! Ngerusak citra gue namanya. Kalo cewek gue liat gimana?? Mening lo apus semuanya. Udahin!”
“Tapi...Udah 8 bulan Adam.”
“WHAT?!”
“Sorry bro...Gue kelepasan...Parahnya lagi, tuh cewek udah anggep gue serius. Dia polos banget Dam..Gue jadi gak tega kalo dia tau yang sebenernya.”
“Lo harus kasih tau dia.” Geram Adam.
“Udah..udah gue jelasin semuanya...” mata Joshua menatapnya nanar. Seakan tak berdaya, membuat Adam yang baru saja berniat untuk mengutukinya dengan mulutnya menjadi urung karena tak tega.
“Terus?”
“Dia minta ketemu sama lo..”
Kepala Hannah mendadak berat. Sekujur tubuhnya merinding, rasanya pengen angkat kaki saja segera dari sini. Mr. Ganendra yang kurang dari 5 menit lalu dipikirannya adalah seorang bapak – bapak yang mungkin sebaya dengan Mr. Roby, mungkin dengan sedikit uban dan atau mungkin perutnya buncit, sekarang malah menjelma menjadi sosok laki – laki muda bertubuh tegap dan besar, lengkap dengan tampang yang amat sangat tak asing bagi dirinya.
Samar – samar dia jadi menyesali surat kontrak yang dia tanda tangani dua hari lalu, tapi kemudian tersadar betapa dia memerlukan pekerjaan ini. Mencari kerja dengan gaji dan segala tunjangan yang melebihi dari cukup di kota ini tidak gampang mengingat dia hanya lulusan SMK.
“Kamu..” suara Adam memotong keheningan yang barusan merajarela lalu cowok itu menahan senyum geli. Bukan karena ada yang lucu.
Dunia ini sempit ketika dia tidak sengaja bertemu kolega – koleganya di sebuah acara. Dia tidak pernah setuju dengan ungkapan itu, dunia bukan sempit tapi pergaulannya lah yang luas.
Kecuali hari ini.
Hannah menarik nafas sebelum melakukan ini, tapi dia harus melakukannya. Perlu beberapa detik untuk menstabilkan ekspresi wajahnya, kemudian tersenyum kepada Adam, “Selamat pagi Mr. Ganendra .” Dia bergerak maju dengan semangat sementara Adam yang masih diselimuti kebingungannya berusaha mengulurkan tangan untuk menyalaminya.
Hannah berdoa dalam hati, semoga kejadian enam tahun lalu tidak membuat Adam berfikir untuk membatalkan kontrak kerja dengannya. Mendadak Hannah menjadi parno, lebih dari ke-parno-annya ketangkap basah di CCTV lagi senyum – senyum sendiri di ruangan kantor Adam kemarin itu.
“Sudah makan?” tanya Adam, yang sepertinya sudah berhasil mengontrol emosinya.
Hannah mengangguk. Adam mempersilakan Hannah duduk, Hannah menurut dengan mengambil jarak 90 derajat dengan Adam.
Kalo dibolehkan Hannah ingin sekali membeli walkie-talkie untuk memfasilitasi komunikasinya dengan Adam sehingga tidak perlu berjarak sedekat ini dengan cowok itu. Jika Adam memerlukan bantuannya dia hanya akan menghubunginya melalui walkie-talkie itu.
“Apa kabar?” suara Adam membersihkan pikiran Hannah dengan segala bayangan konyol tentang walkie-talkie.
Niat Hannah untuk tidak mengingat – ngingat pertemuannya dengan Adam dulu kandas seketika, “B-baik..” Hannah meringis.
Adam menatap naas nasi goreng buatan Mbok Ani favoritnya yang masih tersisa, seleranya sudah menguap kemana – mana. Entah kenapa ia merasa asisten barunya ini lebih menarik perhatiannya di banding apapun yang ada di meja makan ini. Pandangannya kembali kepada Hannah, rasa penasaran, takjub, surprise sekaligus geli menjalar. Lebih menarik lagi ketika flashback pada waktu itu dia pertama melihat gadis mungil ini menangis di hadapannya, dan sekarang datang lagi kehadapannya berwujud seorang asisten boss. Membuat Adam tergoda untuk mengevaluasi perubahan pada garis wajah Hannah yang lebih matang, gesture tubuhnya yang lebih teratur, cara berpakaiannya yang lebih mature, gaya bicaranya yang lebih perempuan, bisa di bilang cewek mungil itu sudah berubah menjadi seorang wanita dewasa. Tapi mengetahui ukuran tubuh Hannah yang hampir 25 cm lebih pendek darinya, Adam jadi merasa Hannah..Masih cute – cute aja seperti dulu.
Adam berhenti menelanjangi Hannah dengan matanya begitu perempuan itu menyuarakan namanya dengan nada gemas.
“Ya, hmm...kamu sudah tau tugas kamu kan?” sahut Adam sambil pura – pura fokus.
Hannah sempat mendelik kesal sebelum menjawab dengan nada jutek, “Sudah.”
Selanjutnya Adam hanya manggut – manggut sedangkan Hannah bersabar menunggu kalimat berikutnya. Dia memilih untuk tidak banyak bergerak dan berbicara, takut – takut malah salah tingkah nantinya. Apalagi rasa kesalnya belum hilang setelah dua menit lalu memergoki Adam yang terang - terangan menatapnya dengan pandangan yang...menurutnya... tak senonoh.
“Hmm..Ngomong – ngomong....Mulai besok kamu boleh pakai baju lebih santai supaya gak gerah..” Akhirnya Adam membuka suara. “Sepatu kamu menurut saya terlalu tinggi untuk bolak – balik di rumah ini, lagian kalo pake sepatu itu suara langkah kaki kamu bisa ganggu Donat tidur, terus sleeves kemeja kamu yang lebar itu berpotensi bikin kamu nyangkut setiap nutup pintu. Tas kamu, kurang lebar untuk map – map yang kemungkinan akan saya titip ke kamu, bisa – bisa nanti surat – surat penting di dalamnya lecek."
Reaksi Hannah begitu mencerna kalimat Adam adalah, memperhatikan penampilan dirinya, mempertanyakan apakah ada yang salah dari celana bahan hitam dan kemeja kremnya. And who the hell is Donat??!!
“Not that I don’t like the way you dress today. You look stunning anyway..” Ucap Adam begitu menangkap wajah Hannah yang kelihatan bingung.
Suka gak suka, boss macam apa yang merangkap menjadi fashion police. Hannah menatap Adam, dan dengan berat hati mengakui cowok itu tentu lebih mirip si ganteng Brendon Urie versi kekar dan daripada Kelly Osbourne.
“Tapi yaaa...Pasti kan kerja kamu lebih luwes kalo bajunya lebih santai, dan tas kamu lebih berguna kalo sedikit lebih besar...Dan kalo kerjaan kamu selesai dengan baik, saya juga yang seneng. Lagian kerjaan kamu nanti banyakan di rumah kok daripada di kantor. Jadi pakai baju santai juga gak mas-”
“Saya pastikan kostum saya tidak akan mempengaruhi kinerja saya, Mr. Ganendra .” Tandas Hannah tajam memotong kalimat Adam.
“Alright..” sahut Adam sambal tersenyum tipis, “Panggil saya Adam aja ya.”
“Oh..”
“Iya jangan panggil saya pake nama Bapak saya lah.”
Satu jam berikutnya Hannah mendapati dirinya bisa bernafas bebas karena Adam yang sudah menghilang dari peredaran dan melesat ke kantornya. Walaupun masih statis dengan rasa shock-nya, ya Tuhan..Sesempit inikah dunia, apa ini yang namanya takdir atau lebih tepatnya nasib. Masa sih dia gak liat di Wikipedia yang punya Eva Prouds tuh siapa, sejenak dia meluangkan waktu untuk membuka safari melalui hapenya dan mencari wajah Adam di Wikipeda.
Errr. Gimana dia mau ngeh orang yang di pajang foto bapaknya si Adam, sekalinya ada itu foto Adam pas masih kecil. Fiuhhhh.
Tapi gimana mungkin Adam bisa bersikap setenang itu? Well, Hannah merasa dirinya orang terbodoh sedetik kemudian untuk menanyakannya. Yaiyalah.... Kejadian itu memang berarti dan masih membekas baginya, tapi jelas tidak bagi Adam yang merupakan korban-tidak jadi-dari tragedi itu. Lagian itu bukan salah Adam, Adam hanyalah pihak ketiga yang dilibatkan dan setelah itu selesai. Jangankaaaaan Adam, Ola aja nganggep kalo kejadian itu konyol, gak pantes di tangisin. “Anggep aja lo abis di kerjain sama acara reality show..” begitu kata Ola waktu itu.
Setelah puas menelepon sahabatnya yang gak berperasaan itu untuk mencurahkan kejadian tadi, Hannah memulai untuk mengerjakan kewajibannya. Menurut ‘kamus pintar’ yang di berikan Dian, hari ini tepat dua minggu Mbok Ani biasanya me-restock persediaan di rumah Adam. Maka dia langsung mencari orang di maksud, dengan memanggil – manggil namanya. Seperti sudah membaca pikiran Hannah, gak sampe dua menit kemudian Mbok Ani pun muncul dengan sebuah kertas yang berisi daftar belanjaan. Mereka pun beringsut menuju dapur, yang letaknya dekat dengan meja makan tadi.
Memakan waktu setengah jam untuk mencocokan semua daftar belanjaan itu dengan isi kulkas dan lemari, 6 kaleng sarden, 6 kaleng kornet, 5 bungkus Samyang, satu lusin telur ayam kampung, roti tawar, nutella, sereal, Indomie.
Hannah hampir setengah jalan mencocokan daftar belanjaan itu ketika merasakan sejumput kejanggalan. Dia berhenti sesaat lalu matanya menyapu seluruh daftar belanjaan itu dengan cepat sampai habis, dan menyadari betapa tidak layaknya dianggap sehat gaya hidup Adam kalo di lihat dari isi dapurnya. Satu – satunya makanan yang tidak berasal dari proses kimia adalah telur ayam dan satu – satunya makanan yang tidak di bungkus kaleng adalah beberapa jenis makanan beku. Begitu juga satu – satunya buah yang ada dalam daftar belanjaan itu adalah....durian.
Hannah bergidik ngeri sendiri membayangkan segala dampak dari gaya hidup tidak sehat boss-nya itu.
“Mbok gak ada sayuran atau apa gitu bahan makanan buat masak?” tanya Hannah akhirnya.
Mbok Ani menggeleng, “Mas Adam suka bikin mubazir makanan Mbak...Pulang kantor makanan udah dingin, mas Adam paling gak mau makan makanan yang di angetin lagi. Akhirnya paling mintanya di bikinin makanan instan, abis kalo saya masak juga, suka gak mau nunggu. Paling pagi doang, makan nasi goreng pake telor sama kornet.” Sahut si mbok panjang lebar.
Hannah hanya menghembus nafas pelan sambil geleng – geleng kepala. “Emang Mas Adam biasanya pulang jam berapa dari kantor?”
“Nah itu dia Mbak..Gak nentu...”
Pikiran Hannah langsung berjalan mencari solusi. Emang bukan urusannya sih ngomong – ngomong, mau bossnya itu mendadak kena serangan jantung kek, darah tinggi, kolestrol dan macam – macam penyakit orang kaya yang lain. Bodo amat... Tapi selama dia masih ada di rumah ini, dia pasti akan merasakan gerah setiap dua minggu sekali menyisir isi dapur Adam sekaligus membayangan pola hidup barbarnya.
“Mulai dua minggu kedepan, Mbok Ani bisa diskusi sama saya dulu sebelum buat daftar belanjaan. Oke?” Hannah meminta persetujuan dan di sambut anggukan nurut oleh Mbok Ani.