Bab XVI

955 Words
Hanya orang yang tidak waras yang menolak Sarah. Pikir Adam. Siapa pun akan bangga jalan di samping perempuan itu, di anugerahi wajah kebule – bulean dengan bentuk hidung mata dan bibir yang nyaris sempurna, membuat semua kaum pria di sekililingnya bagai rakyat jelata yang melihat koin emas begitu berpas – pasan dengannya, bahkan kaum hawa pun gak bisa gak sirik begitu menyadari Sarah adalah saingan berat mereka, dan beda banget dengan perempuan – perempuan lain yang di kenal Adam yang gak ada ‘isi’nya, Sarah adalah lulusan Universitas berkaliber di London dengan nilai c*m laude, wawasannya luas membuat Adam gak pernah bosen ngobrol dengannya, dia tidak takut memulai topik baru karena dia yakin Sarah akan selalu nyambung dengan jenis topik apa pun, seakan belum puas dengan itu semua, diluar prestasi akademiknya Sarah adalah salah satu pelukis kebanggaan di tempat asalnya, Bali.  Itulah alasan Adam untuk mencoba lebih dekat dengan Sarah, pasca berasa di tolak mentah – mentah sama  Hannah, gak ada salahnya kan mencoba hubungan baru dan move on. Dan kebetulan, Sarah adalah perempuan yang lebih dari tepat untuk membantunya memulai semuanya. Kali ini tidak ada niat untuk bermain – main seperti dengan mantan – matannya dulu, dia sadar sudah waktunya dia mulai berfikir untuk hubungan yang lebih serius. Kejadian dengan  Hannah, dia anggap adalah karmanya yang membuatnya kini harus belajar menjadi pria yang lebih dewasa dan bertanggung jawab. Namun ada yang mengganjal, begitu dia melihat Shean. Gadis kecil yang tanpa disadarinya sudah belajar dari banyak hal. Mungkin dari majalah yang di bacanya, atau dari film – film yang di tontonnya, atau dari logikanya sendiri yang memang ‘jalan’. Pagi itu, setelah malamnya Adam menemani Sarah menghadiri pameran lukisannya sendiri, cewek itu memutuskan menginap dirumahnya. Pagi – pagi selesai sarapan Adam mengantarnya pulang, dan begitu kembali ke rumah, dia menemukan Shean di ruang TV. Dia duduk di samping adiknya, “Hey..” “Hey mas...” sahutnya. Adam menaruh tangannya di belakang leher Shean. Dia terdiam sebentar. Lalu untuk pertama kali seumur hidupnya, dia merasa harus menanyakan pendapat Shean tentang pacarnya, “Gimana menurut kamu Mbak Sarah?” “Kok tumAdam Mas nanya aku?” tanpa di sangka – sangka Shean mengecilkan volume TV, dan menatap kakaknya serius. Pandangan yang terlalu dalam untuk ukuran anak kecil yang di kenal Adam selama ini. “Mas niat serius sama dia ya?” tanyanya lagi. Adam hanya bisa mengangguk. Shean memutar bola matanya, “Uh...Mas, ngapain dari dulu putus nyambung kalo akhirnya sama yang gak jauh beda juga..” Adam memutar posisi duduknya agar bisa lebih menghadap Shean, dia ingin melihat ekspresi wajah adiknya secara lebih jelas, “Maksud kamu?” “Yah gitu deh...” “Kok gitu deh sih..” balas Adam gak puas. Shean mengangkat bahunya lalu kembali menaikan volume TV. Tak berniat untuk melanjutkan pembicaraanya dengan mas-nya yang menurutnya sekarang lagi kena masalah berat di otaknya. Adam mendadak kalang kabut dengan sikap Shean yang membuatnya penasaran setengah mati, gak cool sama sekali. Akhirnya dia memutuskan untuk sekali lagi memulai kalimat, “Mbak Sarah tuh beda dari yang lain..” suara berat Adam diusahakan mengalahkan suara Juliana Rancic yang keluar dari speaker TV. And it works, perhatian Shean resmi kembali padanya kali ini gadis itu menekan tombol ‘mute’ pada remote TV. “Menurut aku sama aja Mas,” katanya. “Kamu bahkan belum pernah ngobrol sama dia Shean, you should, nanti kamu tahu kenapa Mas bilang dia beda. Dia perempuan paling cerdas yang pernah Mas ajak ngobrol.” Shean mendengus, “Mas, penampilan dia kayak supermodel, dan dandannya menor. Sama aja kayak mantan - mantan Mas Adam yang lain.” “Kamu kan liatnya semalam, dia abis dari acara penting, makanya penampilannya begitu.” “Oke kalo gitu, aku tanya kapan mas kenal sama dia?” “Maret lalu di Bali.” “Terus langsung pedekate gitu?” “Gak.” “Kok bisa jadian sekarang?” Seketika itu Adam ingin menyuntik adiknya dengan obat bius, dia kan cuma nanya tentang pacar barunya, kenapa malah di BAP gini. “Kamu kenapa sih Shean?” “Jawab aja Mas...” “Fine. Minggu lalu Mas gak sengaja ketemu dia lagi.” “Terus?” “Ya gitu deh..” “See?” “Huh??” “Minggu lalu tuh terlalu cepet buat pedekate. Typical, not interesting.” Wait, wait, Adam berusaha meyakinkan dirinya bahwa adiknya tidak mengatakan itu untuk menghina pacar barunya sebagai perempuan murahan. “Sama kayak pacar Mas Adam yang dulu, jadiannya instan.” Sambung Shean, “Terus mantan – mantan Mas Adam hobi banget nginap di sini, tidur di kamar Mas Adam.”  Muka Adam mendadak merah, dia merasa seperti baru saja ketangkap basah melakukan dosa besar. Sebenarnya adiknya ini sedang membandingkan Sarah dengan mantan – mantannya, atau memojokannya sih. Atau...mungkinkah selama ini tanpa dia sadar dia sudah memberikan contoh tak baik dengan membawa perempuan menginap di rumah?  Bah! Pernyataan Shean barusan membuka mata Adam lebar – lebar untuk melihat Shean bukan lagi sebagai remaja polos yang bisa mengira dia membawa pacarnya ke dalam kamar lalu mengunci pintu hanya untuk sekedar main game bareng atau ngobrol semalaman selanjutnya hanya tidur berdampingan tanpa melakukan apa – apa. Sejauh apapun pikiran Shean tentang apa yang dilakukan dia dan pacarnya di dalam kamar dijamin bahkan tidak lebih parah dari kenyataannya. “Hobi gimana sih? Mbak Sarah kan baru sekali nginap di sini, Shean.” mungkin ini sisa kalimat terakhir yang bisa dia gunakan untuk membela Sarah. “Mas, percaya deh, soon, dia akan sering nginap di sini.” Tandas Shean yakin, “Mbak  Hannah pernah bilang sama aku, perempuan cerdas itu perempuan yang bisa menjaga dirinya sendiri, terutama di depan COWOK, terus mbak Sarah-sorry to say-cerdas darimana?? She’s a lot like.... your exes.” Lidah Adam langsung kelu. Sebagian karena kalimat Shean yang langsung membuatnya seratus kali seratus persen terpojok, oh sadarkah Shean bahwa ‘cowok’ yang di maksud dalam kalimatnya barusan ibarat telunjuk yang langsung tertuju pada muka kakaknya sendiri.  Sebagian lagi karena nama  Hannah yang mencelat dari bibir Shean dengan enteng. That name, THAT CRAZY NAME, THAT F*CKING CRAZY NAME, berhasil menembus ke jantungnya secara otomatis. Dia baru sadar kalau nama itu masih memiliki efek yang sama setiap kali terdengar di kupingnya.  “Mbak  Hannah tuh yang cerdas. Keren lagi...” Seakan ingin memperparah keadaan Adam sekarang Shean terus melanjutkan meng’input’ nama  Hannah kedalam kalimatnya. Anak itu terdiam sebentar, lalu berkata “I miss her mas...” Me too kiddo..me too...Sahut Adam dalam hati.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD