Bab XVII

1268 Words
Selesai sudah urusannya dengan Adam, pengunduran dirinya sudah di terima, gaji selama sebulan lebih satu minggu sudah ada di rekeningnya sejak beberapa hari lalu. Lumayan buat beli bensin untuk bolak – balik pergi interview. Dan sudah habis tiga panggilan interview di lahapnya hari ini, hingga matahari yang sebentar lagi tenggelam mengingatkan saatnya untuk tancap gas pulang, kalo gak mau kena macet atau ganjil genap. 20 menit kemudian sampailah dia di dalam apartment, Ola langsung melompat ke arahnya, “Haaaan! Akhirnya lo pulang juga.” Katanya panik, “Kemana aja sih lo gue teleponin sampe bosen juga.” “Hape gue lowbat cintah,” jawab  Hannah tenang sambil menggantung jaketnya, lalu menatap Ola lurus – lurus, “Kenapa sih lo.” “Adam dateng!” “What?” sebelum  Hannah bereaksi Ola sudah menariknya ke meja makan, benar saja, Adam sedang ngobrol dengan ibu sambil makan makanan yang ada di meja makan. Pemandangan yang sangat tidak bagus. Dia sadar langkahnya yang grasak grusuk gara – gara di tarik Ola membuat dua orang yang lagi berbincang itu jadi ngeh akan kehandirannya. “Nah..yang di omongin datang..” kata ibu. Apa apa? Siapa yang di omongin? Gue? Adoohh...Ngomongin gue apaan? Berabe dah kalo ibu tahu yang sebenernya.  Hannah jadi parno level 12. Otak nya  mendadak langsung jalan, dia harus bisa bersikap normal. Setelah menetralisir emosinya dia duduk di samping ibu yang duduk berhadapan dengan Adam. Cowok itu menatapnya dengan pandangan tak biasa.     Jantung Adam bak roller coaster begitu menyadari  Hannah berada di ruangan yang sama, gadis itu dengan wajah tak suka menatapnya, yang Adam bisa lakukan hanyalah menatapnya balik dengan perasaan yang tak bisa di tutupi lagi. Tatapan dengan perasaan yang campur aduk, antara rasa bersalah, dan rasa rindu. Hampir dua minggu dia tak melihat gadis mungil itu, dan itu sudah cukup membuatnya meragukan kewarasannya. Sekarang gadis itu ada di hadapannya, berjalan dan duduk cukup dekat dengan dirinya walau bukan di sampingnya. Akal sehat mulai tak berkerja, hormonnya membuat dia menelan ludah dan dengan susah payah menahan diri untuk tidak menarik tubuh mungil itu kedalam pelukan. “Kamu lagi ngapain??” suara ketusnya malah terdengar merdu. Adam hanya nyengir, “Makan.” Katanya cuek sambil menyuap dan menerima pelototan dari  Hannah . Dia tahu itu bukan jawaban yang di harapkan, tapi sekarang otaknya lagi gak bisa memproses apa pun karena perhatiannya sedang teralih kepada sesuatu yang lagi hiperaktif di hatinya. “Hannah, kamu gak sopan sama atasan kamu ndok...Gak boleh begitu...Nak Adam masih muda, tapi tetap toh atasanmu...” aduh Ibu, emosi  Hannah membuatnya melupakan keberadaan ibu di samping. “Iya bu..” kata  Hannah nurut.  Selanjutnya, untuk sekian menit berlalu  Hannah hanya menjadi patung, dia resmi tak terlibat dalam percakapan antara Adam dan ibu. Gak tertarik juga sih untuk terlibat.  Cih. Ibu begitu antusias cerita tentang Solo, kunjungannya ke Jakarta sampai yang membuat wajah Hannah memerah, ibu juga berceloteh tentang masa kecil  Hannah kepada Adam. Dan aneh bin ajaib boss-nya ups ralat  -mantan-boss-nya- itu gak keliatan risih sama sekali, malah keliatan nyambung dengan ibu. Bikin  Hannah greget, karena ibu sepertinya sudah lupa dengan anaknya yang sebenarnya. Pfffff. Kalo aja gak merasa perlu untuk mengawasi obrolan mereka berdua,  Hannah sudah gabung dengan Ola yang lagi enak – enakan nonton TV di ruang tamu. Akhirnya piring – piring di meja sudah kosong, dan semua orang di meja makan kecuali dirinya sudah kekenyangan. Dia berinisiatif untuk membereskan meja makan dan meminta ibu untuk istirahat, ibu yang untungnya membaca signal untuk memberi anaknya ruang dengan bossnya pun hengkang dari ruang makan. Beberapa menit di awal hanya suara dentingan piring yang terdengar, Adam dan  Hannah sama – sama diam karena alasan masing – masing. Muka  Hannah yang keliatan sangar saat itu ngebuat Adam ngeri untuk mengucapkan kalimat barang sepatah pun, sementara si judes  Hannah, emang gak berniat memulai percakapan duluan walau pun dalam hatinya dia penasaran apa yang membuat si nyebelin ini memunculkan batang hidungnya yang super gede itu di ruang makan di apartmentnya. Nyempit – nyempitin aja.      Hannah mengangkat piring – piring dari meja makan ke tempat cuci piring yang berada di dapur. “Saya bantu..” tahu – tahu Adam mengekor. Dan dengan cepat mengambil alih piring – piring di tangan  Hannah yang malah bengong karena kaget. “Gak perlu, ini rumah saya..” jawab  Hannah begitu kesadarannya penuh. “Gak apa – apa  Hannah...Saya bantu kamu.” Sekarang piring – piring itu sudah berpindah ke bak cuci piring, Adam menyalakan air dan membilas piring – piring itu sebelum membubuhkan sabun. “Saya yang cuci kamu yang lap ya..” katanya. Di saat seperti ini pun dia masih punya niat mengomando.  Hannah menurut, dia mengambil lap selanjutnya melakukan apa yang di bilang Adam dalam diam. Kedua orang itu berkerja sama seperti robot yang sudah di setel. Adam hampir lupa dengan tujuan awalnya kemari hingga pekerjaan itu selesai dan mereka terdiam sambil bersender di sisi kitchen sink. Setelah beberapa saat keduanya bak enggan untuk saling membuka suara, terutama  Hannah. Adam yang merasa sebagai yang berkepentingan akhirnya memutuskan bicara, “Saya minta maaf...” katanya.  Hannah menoleh dan menemukan wajah Adam yang terlihat sungguh – sungguh, “Hah?” “Saya minta maaf..” ulang Adam. Kali ini dengan lebih serius, pake acara natap langsung ke mata  Hannah segala lagi. “Kamu menyesal?” tanya  Hannah sambil nahan deg – degan. Adam mengangguk, “Saya datang ke sini untuk minta maaf secara pribadi, minta kamu untuk kembali bekerja dengan Eva secara pribadi..Sebagai asisten pribadi saya..” Adam sempat tersenyum geli pada kalimatnya sendiri sebelum perlahan dia mendekati  Hannah dan dia meraih tangan gadis itu..Oh holy very bery SHIT..batin  Hannah tapi diam aja tangannya diangkat ke udara, Adam pun lega karena yang punya tangan keliatan gak melawan. Seperti biasa  Hannah selalu tidak bisa menolak efek samping dari sentuhan Adam, terlebih sudah terlalu lama dia tidak merasakan perasaan yang membuatnya tidak bisa berdiri dengan benar ini. Dia bersyukur tubuhnya tidak salah bersender, di banding harus merosot ke lantai gara – gara pesona Adam yang too yummy to be ignored alias undeniable. Tapi sebenarnya rasa kesalnya terhadap cowok ini belum sepenuhnya hilang, dia masih bisa merasakannya walaupun beriringan dengan hatinya yang meleleh, di jamin gak sih orang model kayak Adam benar – benar menyesal? “Saya gak tahu...Mungkin perlu waktu untuk mikir..” putus  Hannah akhirnya. Adam membuang nafas dia membelai jari  Hannah dengan ibu jarinya, Lalu ia kembali menatap  Hannah, “No problem.” Katanya mantap. “Saya tahu saya gak bisa mengharapkan kamu langsung menjawab iya, walau pun saya mengharapkannya..tapi paling gak, jawaban tadi itu...lebih baik daripada jawaban kamu waktu Dian nelfon kamu.” Dia tersenyum tipis, dan oh-so-sugar alias sweet. Menonton ekspresi Adam yang di luar dugaanya, rasa kesal  Hannah langsung menguap. Dia menggaris senyum tertahan, “Kamu sebenarnya bisa aja kan cari asisten lain..” bermaksud mengetes. “Oh no no no.” Sahut Adam panik. Yes berhasil, kena lo. Batin  Hannah. Cowok itu menatapnya superserius, “Kamu harus mikir dulu, oke?” entah bagaimana prosesnya tahu – tahu tangan Adam sudah berpindah dari tangan  Hannah. Dia meremas pundak  Hannah, selanjutnya langsung menciptakan sensasi lain dalam tubuh cewek itu “Janji sama saya kamu akan berfikir. Oke?” ulangnya.  Hannah mengangguk canggung. “Thank you so much,” kata Adam lalu menghela nafas lega, “Ada 4 perempuan dan satu laki – laki, yang menyalahkan saya atas pengunduran diri kamu  Hannah..” “Huh?” jidat  Hannah mengerut. “Shean, Mbok Ani, Mbok Jum, Donat-ya dia bukan manusia, tapi dia juga perempuan dan biar pun dia gak ngomong saya tahu dia nyariin kamu karena dia nungguin kamu di teras dan terus ngeliatin saya, bikin saya merasa tertuduh.” Jelas Adam dalam sekali tarikan nafas.  Hannah tergelak, “Satu laki – laki lagi?” tanyanya. “Saya..” sahut Adam, dan sekarang  Hannah resmi meleleh. “Saya menyalahkan diri saya sendiri...” kata cowok itu lagi sambil menatap  Hannah sungguh – sungguh, suara serak – seraknya bikin  Hannah teringat sama David Cook yang lagi akustikan. “I don’t hate having you around...” lanjutnya. Hannah yakin wajahnya sudah memerah, dia mencoba mengingat kapan terakhir kali menerima kata – kata manis dari seorang cowok sampai dia bisa jadi seperti.....entahlah. Yang pasti apapun yang keluar dari mulut Adam tadi lebih dari cukup untuk memompa jantungnya sehingga organ itu berkerja lebih keras. Adam mengulas senyum, tanpa di suruh tangannya merambat ke pipi  Hannah. Mata  Hannah terpejam sebentar menikmati rasa hangat dari telapak tangan Adam yang bersinggungan dengan wajahnya, saat kembali membuka matanya ia tahu bibirnya secara otomatis ikut menggaris senyum.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD