1. Chapter awal
Pov. Cantik
Pendosa
Malam sunyi menghitam
Berbalut dingin berselimut kelam
Mencengkram gelap
Terjaga
Enggan tubuh ini terlelap
Kurasakan amarah kian tersulut
Menghancurkan asa hingga terhanyut
Membuncahkan kemarahan yang semakin merengut
Mengoyak hati menancap tersudut
Darah mendidih nafas memburu
Kala kurasakan gelombang amarah kian menderu
Remuk redam hati berseru
Senarai dosa torehkan raspodi baru
Pendosa...
Hina...
Kotor...
Msrunbelievable, Subang.
Namaku Cantik Syanella Budiman dua puluh tahun. Seorang gadis buta yang terpaksa harus melelang tubuh di pasar gelap demi untuk melunasi hutang-hutang kedua orang tua. Dengan sangat berat hati, aku melakukan semua ini, demi kedua orang tua tercinta agar tidak dicelakai.
Dan tibalah aku di sini sekarang. Di sebuah rumah yang katanya rumah orang yang telah memenangkan lelang. Ya Tuhan, malam ini aku akan menjadi seorang jalang. sungguh pedih hati ini kala mengenang nasib yang malang. Entah apa dosaku di masa lalu hingga harus berakhir di sini seperti ini.
Cklek, kudengar suara seseorang membuka pintu. Tubuh ini langsung bergidik kala mendengar langkah kaki yang terdengar kian mendekat. Siapa orang yang baru saja masuk ini? Apa mungkin dia tuan besar yang telah membeliku? Pikirku.
Tubuhku mulai bergetar, ketakutan menjalar kesekujur tubuh yang membuat tubuh ini seketika menegang dan mengeluarkan keringat dingin. Aku benar-benar sangat ketakutan. Ya Tuhan, aku mohon, selamatkan aku, do'aku di dalam hati.
"Permisi Nona, saya Lisa. Saya ke mari untuk menjemput, Nona. Mari Nona ikuti saya. Tuan sudah menunggu Nona di kamarnya." Suara lembut seorang perempuan berbicara kepadaku.
Aku hanya menganggukan kepala lalu kurentangkan tongkat penuntun yang sedari tadi di genggaman. Kemudian, bangkit dari duduk dan mengikuti arah suara.
"Sebelah sini, Nona," ucap perempuan itu sembari merangkulku.
Aku hanya patuh, mengikuti ke mana dia akan menuntunku. Ingin rasanya menangis meraung-raung, nyeri sesak rasanya d**a ini. Berat kaki ini melangkah. Aku merasa seperti kambing yang akan menyerahkan tubuhnya untuk dimakan seekor harimau. Sungguh menyedihkan hidup ini. Nasib seperti tak pernah berpihak kepadaku.
Hidup ini selalu saja sial dan malang. Di mulai dari lima tahun yang lalu saat kecelakaan naas itu menimpaku, yang malangnya merenggut penglihatanku. Hingga menghancurkan mimpi besar untuk menjadi seorang penyanyi pun lenyap tanpa ampun, tanpa sedikit pun harapan. Tak cukup sampai di situ, Ari kekasih yang sangat kucintai pun pergi meninggalkanku saat mengetahui mata ini mengalami kebutaan. Menyedihkan.
Tok tok tok, kudengar Lisa mengetuk pintu. Cklek, suara pintu terbuka.
"Masuk." Terdengar suara berat seorang pria mempersilakan kami masuk.
Lisa yang masih menggandengku, lantas menarik dengan lembut agar aku mengikuti langkahnya kembali. Dia menyuruhku duduk di kasur yang empuk dan nyaman.
"Kamu boleh keluar," ujar pria itu yang dipatuhi Lisa.
"Cantik memang," ucapnya yang seketika membuatku bergidik. Suara dinginnya menghunus tepat di d**a. "Saya Sam, namamu?" tanyanya.
"Ca-Cantik," jawabku dengan suara bergetar.
Terasa guncangan kecil pada pembaringan saat Sam duduk di sampingku, kemudian kurasakan dia menyentuh wajah ini. Aku merasa tersentak saat merasakan tangannya yang besar dan dingin menyentuh kulit.
Kuremas rok menahan takut seraya menundu dalam. Degup jantung semakin kencang kecang terasa, hingga membuat nyeri di sekitar leherku. Tuhan, aku mohon, lindungi aku, gumamku berdo'a di dalam hati.
"Badanmu berkeringat. Saya enggak suka. Saya mau kamu mandi dulu, tapi jangan lama-lama. Saya menunggumu, woman," bisik Sam yang membuatku semakin ketakutan.
Kemudian Sam menarik lenganku dengan sedikit kasar. "Ini kamar mandinya, ini shower- nya. Ingat! Jangan lama-lama. Ada banyak tugas yang harus kamu tuntaskan," bisiknya lagi sensual.
Brugh! Kudengar pintu ditutup. Seketika kaki ini menjadi lemas hingga jatuh teronggok karena tak tertahan. Wajahku seketika memanas lalu bulir bening pun luruh membasahi pipi. "Tuhan, hati ini terasa nyeri saat mendapati ketidakberdayaan ini," ucapku dengan cairan hangat yang sudah membasahi wajah. Sam begitu dingin, dia bahkan berani berbicara dengan tidak sopan. Namun, apa mau dikata? Memang begini adanya? Aku memang bukan wanita terhormat. Dia tidak salah memperlakukanku begini. Tiba-tiba aku pun terkekeh sendiri karena merasa lucu dengan diri.
Kubuka seluruh pakaian yang menutupi tubuh, lalu membiarkan tubuh ini diguyur dinginnya air shower. Air mata ini ikut tersapu derasnya air yang menghujami tubuh. Isak tertahan seraya kupegangi d**a yang terasa sesak, terasa ada benda berat menghimpit.
Selesai mandi, aku keluar dengan hanya memakai sehelai handuk yang menutupi sebagian tubuh. Aku pasrah, aku menyerah. Percuma aku memberontak atau memohon pada Sam untuk melepaskan. Itu takkan pernah terjadi.
Aku melangkah seraya meraba-raba dengan tongkat. Cklek, pintu kubuka.
"Aku ingin semua data tentang dia, detail. Aku beri kamu waktu dua hari," titah pria itu kepada sesorang entah siapa itu aku tak tahu.
Aku berdiri dengan lutut yang sudah linu lemah. Andai mataku tidak buta. Mungkin hidup ini tidak akan jadi seperti ini. Aku akan bisa diterima bekerja di mana saja dan bisa membantu ekonomi ayah dan ibu.
Namun aku segera tersadar dari khayalan kala sesosok tangan menyentuh tubuh yang seketika membuatku tersentak. Dia membelai wajah hingga ke leher jenjangku. Aku hanya diam seraya merapatkan bibir yang sudah bergetar. "Tubuhmu wangi," katanya.
Dia pun mendekapku lalu mencium bibir ini dengan lembut. Aku bisa merasakan bibirnya yang hangat dan kenyal saat menyentuh bibirku. Kemudian Sam mendorong tubuhku hingga terlentang di atas kasur empuk nan lembut. Seandainya aku tidak dalam situasi seperti ini, mungkin kasur empuk ini bisa aku nikmati dengan selayaknya.
Ini pertama kalinya aku berciuman dan rasanya sesak. "Jangan menahan napas, nanti kau pingsan." Terdengar suaranya berbisik di telingaku lalu mengigitnya lembut membuatku bergidik.
Sam membuka mulutku lebar, lalu kembali menyambar bibir ini memasukan lidahnya lalu melumat mulutku lembut hingga terengah. Aku belum pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya. Sam sangat ahli melakukannya hingga membuatku yang tak berpengalaman ini kualahan.
Lidah panas pria ini, terus merangsak menyerangku bertubi-tubi hingga aku merasakan tubuh ini mulai lunglai. Panas pun menyuruk-nyuruk kesekujur tubuh. Aku sungguh tidak bisa mengendalikan diriku. Semua gerakan terkendali alam bawah sadarku.
***
Pov Sam
Aku Sam Bradley Capaldi tiga puluh tahun, seorang CEO dari perusahaan Indonesian Tower Corporation. Hari ini aku benar-benar sial karena tadi siang ibu mengamuk di kantor. Dia menuduhku seorang gay, lalu memutuskan untuk menjodohkanku dengan Klarisa Brianna Drake teman sekolahku dulu. Dia melakukannya tanpa meminta persetujuanku. Klarisa adalah pewaris Tiffany group sebuah perusahaan bertarap internasional yang memproduki berbagai macam perhiasan mewah.
Kuhela napas lalu melepaskan jas dan melonggarkan dasi. Sebenarnya aku tak sepenuhnya menolek perjodohan itu karena yakin jika itu sampai terjadi, akan menjadi sebuah keuntungan besar bagi ITC. Namun, aku ingin menikmati kehidupan lajangku lebih lama lagi sebelum terikat dengan wanita yang sama sekali tidak kuinginkan.
Ya, semuanya masih tentang ambisi kekuasaan. Manusia harus mempunyai tujuan agar tidak monoton, terlebih lagi, aku ingin membuat seseorang terkagum-kagum atas pencapaianku dan menyesal karena telah mencampakanku dulu.
Kemudian kuhempaskan tubuh ke kasur. Sungguh hari yang melelahkan, kuharap wanita pembarian dari Will dapat memuaskanku malam ini.
Kemudian kudengar suara pintu kamar diketuk. Kupaksakan bangun untuk membuka pintu meski dengan malas, cklek. Namun, tiba-tiba saja aku terkesima saat melihat gadis yang digandeng Lisa. Cantik sekali, siapa gadis itu? Apa dia gadis yang dimaksud Will? batinku. Aku mendehem. "Hhhrrrmmm, masuk."
Lisa mengangguk patuh lalu menuntun gadis itu memasuki kamar. Tunggu, apakah dia buta? batinku.
Aku tertegun di tempatku seraya memandangi gadis yang kini duduk di atas ranjang. Lalu Lisa menghampiriku dan membuyarkan lamunan. "Kau boleh keluar," ucapku.
"Baik, Tuan." Lisa mengangguk hormat.
Perlahan aku mendekati sisi ranjang lalu duduk di sampingnya. Kubelai wajahnya yang terlihat cantik dan menarik. "Cantik memang." Aku tersenyum tipis saat merasakan getaran kecil dari tubuhnya. "Saya Sam, namamu?"
"Ca-Cantik." Dia membalas pertanyaan dengan penuh ketegangan, terlihat jelas bahwa dia tengah gugup. Namun, hal itu justru membuatnya terlihat semakin menarik dan menggemaskan. Ingin rasanya aku menerkamnya saat ini juga, tetapi tidak. Lebih baik biarkan dia relax dulu. Tak tega juga melihatnya segugup ini.
Gadis di sampingku ini begitu menggoda. Warna kulit, bentuk tubuhnya, dan wajah cantikannya, sungguh membuatku tak sabar untuk menyentuhnya. Will sangat mahir mamilih wanita genit. Kemudian kudekatkan wajah ke lehernya untuk mencium aroma harum dari tubuhnya yang mendominasi. Ini memabukan saat perlahan kuhirup seraya memejamkan mata sejenak. Aku tersenyum tipis lalu berbisik ke telinganya. "Badanmu
berkeringat. Saya enggak suka. Saya mau kamu mandi dulu, tapi jangan lama-lama. Saya menunggumu, woman," godaku.
Aku kembali merasakan getaran kecil pada tubuhnya yang anehnya hal itu justru membuatku semakin b*******h. Wajahnya terlihat semakin menggemaskan saat ini. Kemudian aku bangkit dari duduk lalu menarik tangannya menuju kamar mandi. "Ini kamar mandinya, ini shower-nya. Ingat! Jangan lama-lama," bisikku sambil tersenyum jahil. Kemudian aku keluar dan menutup pintunya lalu pergi ke balkon untuk menghirup udara segar. Agar pikiran kotorku sedikit dapat dinetralisir.
Aku sungguh penasaran siapa gadis itu? Lalu aku pun memutuskan untuk menelepon Will.
[Iya, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?] Suara Will dari sambungan telepon.
"Siapa gadis ini? Dan kamu mendapatkannya darimana?"
[Namanya Cantik, aku mendapatkannya dari lelang tadi sore.]
"Lelang?"
[Iya, dia mengikuti lelang di pasar bawah tanah.]
"Kau menang melawan Zhou?"
[Lelang kali ini Tuan Zhou tidak mengikuti.]
"Zhou pasti takkan terima, kau tau?"
[Saya tau. Tuan, tenang saja, ini urusan saya karena saya yang memenangkan lelang. Saya enggak membawa-bawa nama Tuan ataupun organisasi kita.]
Kupijat kening seraya menghela napas pasrah. "Baiklah, kamu atur saja. Saya sudah bosan berurusan dengan mafia sialan itu."
[Siap, Tuan.]
"Satu lagi."
[Apa itu?]
"Cantik.-" Diam sejenak. "Aku ingin tau semua tentang dia, detail. Aku beri kamu waktu dua hari," titahku lalu mematikan sambungan telepon. Kemudian aku berbalik hendak kembali ke kamar tetapi, aku terpaku sejenak saat melihat gadisku yang sudah berdiri di dekat ranjang. "Gadis baik," gumamku. Perlahan aku berjalan mendekatinya.
Aku tak dapat menahan diri untuk tak menyentuhnya. Gadis di bawah kuasaku ini begitu begitu menggoda. Dia cantik dan tampak lugu yang anehnya berhasil membuat kontrol tubuh ini kelojotan. Apalagi saat melihatnya dengan hanya memakai handuk seperti ini. Sungguh menakjubkan. Tunggu, apa dia menantangku?
Mataku tak dapat berkedip saat melihat hal itu. Aroma tubuhnya menguar menebarkan aroma birahi. Benar-benar tak sia-sia aku menerima pemberian Will, dia sangat pandai menebak kesukaanku. Wanita ini terlihat nikmat untuk kujadikan cemilan malam ini. Sepertinya malam ini akan berlalu lebih panjang dan menyenangkan.
Kuelus wajah hingga ke leher jenjang gadisnya. Ini terlalu menarik. Aku merasakan tubuhku tak tahan untuk menyentuhnya. Hal seperti ini baru pertama kali kualami dalam hidup, tak pernah selama ini aku memiliki ketertarikan sebesar ini terhadap seorang perempuan. Benarkah w************n ini begitu menarik perhatianku? Tidak, tidak, kutepis semua pikiran burukku karena tidak mungkin bagi seorang Sam akan jatuh cinta pada seorang jalang, lalu kembali kutatap wajah cantiknya.
Kemudian pandanganku turun ke bawah. Tubuhnya terlihat begitu mulus, lengannya begitu lembut saat kusentuh. Kubelai tangannya ke atas hingga ke bahu lalu ke leher jenjangnya. Tubuhnya begitu memikat tubuhku untuk mendekatinya. Tubuhku terpikat saat melihat betapa indahnya makhluk di hadapanku ini. "Tubuhmu wangi, aku suka."
Kutarik dia ke dalam dekapan, lalu menundukan kepala untuk mencium bahu dan tengkuknya yang terlihat putih dan membangkitkan birahi. Kemudian kudekatkan wajah perlahan dan mencium bibirnya dengan lembut. Bibirnya tidak tipis dan tidak juga tebal, bibir hangat yang terasa manis bagai buah stowberry yang memabukkan. Kulumat dan gigit daging lembut ini dengan penuh gairah. Tubuhku sungguh tak tahan ingin segera merasakan kelembutannya. Menginginkan kami segera bersatu. Ahh Cantik, kamu sungguh telah berhasil menggodaku. Entah mantra apa yang ia selimutkan pada tubuhnya sehingga tubuh indahnya mempunyai ketertarikan sebesar ini.
Kemudian kudorong tubuh gadis dalam kuasaku ke atas kasur hingga terlentang sempurna di bawah tubuhku. Aku tak dapat berhenti menyerang bibir Cantik, ini terlalu nikmat untuk kulepaskan. Aku masih belum puas.
"Jangan menahan napas, nanti kau pingsan." Aku mengingatkannya. Mungkinkah ini ciuman pertamanya? Hah? Bukankah dia?___ batinku. Cantik menurut, ia membuka mulutnya. Kesempatan ini kumanfaatkan untuk memasukan lidah. Aku sudah cukup puas dengan bagian luar, kini aku ingin merasakan bagian dalamnya, dan ternyata memuaskan. Mulut Cantik begitu wangi seperti aroma dari rongga mulut bayi. Nikmat, batinku sembari tersenyum ditengah pagutan kami. Imut, satu kata itu yang terlintas saat aku tengah merasakan bagian dalam mulutnya.