Sepulang sekolah, seperti biasa aku menunggu bus seorang diri di halte sekolah ketika sebuah suara tiba-tiba terdengar dan mengejutkanku. "Hai, Angie." Suara itu sudah tidak asing lagi di telingaku. Tanpa melihatnya pun aku tahu pemilik suara itu adalah Leo. Leo berjalan menghampiriku, dia berjalan dengan dibantu oleh tongkat. Kakinya juga terlihat dibalut dengan perban. "Bagaimana kakimu?" tanyaku mencoba bersikap seperti biasa walau faktanya aku kesal setelah mengetahui kebenaran tentangnya. "Seperti yang kau lihat, aku tidak bisa berjalan tanpa tongkat ini." "Maafkan aku, ini semua salahku. Kau jadi seperti ini karena melindungiku." Leo menggelengkan kepala. "Tidak. Akulah yang bersalah. Aku yang memintam

