Anin memakan roti isi cokelat keju sambil duduk di kursi tunggu dengan kaki berayun riang, senangnya bukan kepalang. Roti Hadid yang belikan terasa sangat nikmat disantapnya. Anin masih berdebar sekali disebut istri. Anin juga gugup menanti pembicaraan mereka yang di dalam ruangan selesai, apalagi Anin akan diantar pulang setelahnya. Satu mobil dengan Hadid lagi setelah sekian lama. Anin duduk menerka apa yang nanti akan dibahasnya dengan suami tercinta. “Ayo, Nin!” ajak Hadid begitu muncul di pintu. Anin menelan cepat sisa rotinya sambil bangkit. “Pulang, Mas?” “Iya.” Kepala Anin beralih ragu ke pintu kamar rawat, “Tapi Mutia ... siapa yang jaga?” “Di sini ada perawat 24 jam, Nin. Dia gak pa pa ditinggal sendiri sebentar,” jawab Hadid yakin. Anin masih ragu-ragu. Tetapi Hadid dan te

