Hadid baru kembali dari masjid terdekat. Suara kicau burung, kokok ayam dan bisik suara alam menyapa telinganya. Damai, tenang dan sejuk pagi udara yang disuguhkan alam. Namun, saat memasuki pekarangan rumah, ada napas lelah yang ia embuskan. Ada Anin di dalam sana, lalu ada pula masalah baru lainnya, Mutia. Hadid bisa saja membiarkan Mutia tinggal gratis di salah satu kamar hotel miliknya, tapi itu akan jadi bencana lain. Mutia dan mulutnya yang suka membanggakan hal-hal tak wajar pasti membawa masalah lebih pelik, juga jika begitu Hadid tak mendapatkan apa pun dari bantuannya. Dengan satu rumah begini ia ingin membuat Anin tak betah. Hadid memantapkan langkah membuka pintu dengan ucapan salam pelan. Anin yang semula di dapur berlari menyambutnya. “Anin siapin ayam goreng sama tahu temp

