Jantung Anin bagai ditabuh. Detaknya cepat memompa aliran darah. Anin benar-benar tak suka pikirannya dan takut kepada kenyataan jika sesuatu terjadi lagi antara Hadid dan Mutia. Langkahnya tergesa, tanpa mengetuk pintu Anin menyibak langsung pintu kamar suaminya. Pasangan itu serta-merta langsung melihat ke arah Anin. Bagai dikomando, luka dalam batin Anin menyerbu cepat. Tak ada yang mencurigakan dari mereka berdua. Tidak pakaian bererakan, tidak tampak aurat pribadi, tapi sakitnya hati Anin melihat kedekatan mereka menghunjam jantungnya. Mutia tersenyum licik selagi tangannya memegang kancing jas yang Hadid kenakan. Layaknya merekalah pasangan suami istri bukan Anin dan Hadid. “Gak sopan masuk kamar orang sembarangan,” ucap Mutia sedikit manja nadanya. Anin tentu tau apa yang Mutia m

