19 🦋

1251 Words

Semalaman Anin dan Mutia tak bisa tidur karena azab datang menimpa perempuan itu. Dia menjerit, menggaung ingin kehadiran Hadid, tapi lelaki itu tak kunjung datang hingga pagi menjelang. Sejak pukul sepuluh malam, Mutia kembali penuh air susunya. Dia sudah seperti orang gila kesakitan. Tiap perawat ingin membantu memerah ASInya, Mutia menepis karena nyeri dan sakit. Kini, setelah Hadid pergi, Anin tertinggal berdua dengan Mutia di rumah mereka. Lelah mengambil alih tubuh Anin, alih-alih istirahat, Anin malah menyuci pakaian yang menumpuk. Sejak menjaga Mutia di rumah sakit Anin kekurangan waktu untuk mencuci dan menyetrika. Apalagi beberapa kali tempias hujan membasahi lagi pakaian kering yang belum sempat diangkatnya. “Kamu gak masak, Nin?” Anin yang sedang menjemur pakaian jadi berbal

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD