Suara keramaian memenuhi setiap sudut arena gedung futsal malam ini, entah dari seruan untuk sebuah gol, kemenangan tim, sorak-sorai atau bahkan mengumpat. Semua itu berkolaborasi menjadi satu, dan mobil seseorang baru saja menepi di parkiran setelah memutuskan keluar dari apartemennya jam delapan lewat. Segara lebih baik membuang tenaga untuk bermain futsal—ketimbang pergi bersama Rara, itu tak masuk list, sementara kekasihnya sibuk bekerja. Terkadang ia berpikir—mengapa bos Lintang sebaik itu sampai mengizinkannya tetap bekerja meski sudah libur berkali-kali bahkan sebelum memasuki masa sebulan. Padahal Segara sangat berharap kalau Lintang dipecat saja. Mungkinkah hatinya terbuat dari malaikat? Atau Lintang merayu? Untuk opsi kedua, Segara menepis jauh-jauh, mana mungkin Lintang merayu

