Kesepakatan

1700 Words
Lelaki angkuh nan sombong berjalan dengan dua bodyguard di belakangnya. Dialah Anton, Anton Rajasa si lelaki sombong nan arogan. Lelaki yang tadi pagi menabrak mobil parkir di pinggir jalan, akibat ulahnya dia berhasil membuat kemacetan dan dia dengan sombongnya langsung mengganti rugi pada pemilik mobil. Dan kening bagian kanannya pun terluka akibat kecerobohannya. Anton adalah manusia yang tidak memiliki hati nurani, dia tak segan-segan untuk membuat patah tulang orang yang sudah mengusik hidupnya, tak peduli ia adalah seorang wanita sekalipun. Anton berjalan dengan tatapan angkuh. "Kalian dobrak saja pintunya. Rumah kumuh seperti ini tidak perlu kalian ketuk!" Ucap Anton pada dua bodyguardnya. "Brakkk" Salah satu di antara bodyguardnya pun berhasil menendang pintu rumah sederhana itu hingga rusak terbuka lebar. "Hei, apa-apaan kalian berani merusak pintu rumahku. Siapa kalian, hah!!" Teriak wanita paruh baya tak terima. "Aku, aku yang menyuruh mereka mendobrak pintu gubuk reot milikmu ini, nenek peot." Jawab Anton sombong. "T-tuan Anton.." ucap wanita paruh baya itu gugup. "Mana uang yang kau janjikan?" Tanya Anton dengan tajam. "I-itu, s-saya…." "Jangan bilang, kau belum memiliki uangnya?" Tebak Anton dengan pandangan menusuk. "Maafkan saya, Tuan." Anton pun tertawa remeh "Maaf? Maaf katamu?" Wanita tua itu pun menunduk, dan disana ada seorang gadis di sampingnya. "Kalau tidak mampu membayar, tidak usah sok mampu untuk berhutang, wanita tua." Ujar Anton menatap tajam wanita itu. "M-maafkan saya, Tuan." "Menjijikan, bahkan keperawanan anak gadismu itu tidak sebanding dengan uang yang dihutangkan padamu dan juga putramu!" Ujar Anton pada wanita itu, sembari menatap seorang gadis disebelahnya. Gadis itu langsung menatap garang pada Anton. "Tapi, saya mampu memuaskan anda, Tuan." Ujar gadis itu dengan lantang, dan hal itu membuat sang ibu terbelalak, dan menatapnya. "Apa-apaan kau ini, hah?" Bentak sang ibu pada putrinya. "Sudahlah, Bu. Aku tidak apa," ujar putrinya dengan wajah menggoda Anton. Anton pun tersenyum sinis. "Kau murahan sekali, Nona. Wajahmu saja tidak cantik, kau bukanlah seleraku!" Jawab Anton lagi merendahkan gadis itu. "Ah, sial… dia menghinaku!" Batin gadis itu berteriak kesal, ia mengepalkan tangannya kuat. "Aku akan merobohkan rumahmu ini, jika dalam waktu satu Minggu kedepan masih tak ada hasilnya," ancam Anton kemudian berlalu meninggalkan gubug reot mereka. "Bodoh! Mengapa kau seperti w************n, hah?" Bentak sang ibu pada putrinya. "Yaelah, Bu… dia kan orang kaya, kita nggak bakalan hidup miskin lagi, kalau aku bisa ambil hatinya!" Ujar gadis itu lagi. "Astaga ibu tidak sampai sana memikirkan itu," ujar sang ibu pada putrinya. "Nah, kan… ibu sih, orangnya keburu pergi." "Ah, baiklah.. tidak masalah. Minggu depan, kita goda lagi dia," ujar sang ibu mendukung niat putrinya. Mereka pikir, Anton akan tergiur pada mereka. …. Anton pun menatap garang jalanan kota, hingga ia memarahi supirnya yang menurutnya tidak becus membawa mobil. "Bodoh! Apa kau ingin membunuhku, hah?" Bentak Anton pada supirnya. Sang supir pun berkeringat dingin, ia merasa takut dengan tuannya. Karena Anton bisa saja langsung membunuhnya, dan tak segan untuk mematahkan tangannya. "M-maafkan saya, Tuan… di depan ada seorang nenek yang menyebrang dengan cara tiba-tiba," jelas sang supir pada Anton. Dan, Anton pun menatap luar mobilnya. Ia pun melihat ada seorang nenek, dan juga seorang gadis yang baru saja datang membantunya menyeberang jalan. Lalu, mereka pun kembali melanjutkan perjalanan. "Maaf, Tuan… kita akan kemana selanjutnya?" Tanya sang ajudan pada Anton. "Pulang ke rumah orang tuaku." Jawab Anton dengan dingin. Mereka pun pergi menuju rumah orang tua Anton. Hingga setelah beberapa puluh menit menyusuri jalanan kota, mereka pun sampai di halaman rumah orang tua Anton. Sang ajudan pun membukakan pintu mobil untuk Anton, dan Anton keluar dengan gagahnya. Kemudian, dia melangkahkan kakinya dengan langkah angkuh. Sudah jelas terlihat, jika dia adalah laki-laki yang sangat angkuh, dan garang. "Anton," sang mama pun menyambut putranya yang baru saja datang. Anton pun menatap sang mama, ia pun menyalimi tangannya. "Dimana papa, Ma?" "Papa ada di ruang keluarga, dia sedang menunggumu, Nak." Ujar sang mama menjawab pertanyaan putra semata wayangnya. Lalu, mereka berdua pun berjalan menuju ruang keluarga Anton, dia tidak dekat dengan kedua orang tuanya. Dia mulai gila harta sejak ia sudah mulai mengerti cara menghamburkan uang. Lalu, ia pun menghampiri sang papa "Pa," Anton pun kembali menyalami tangan sang papa. "Duduklah," ujar sang papa pada putranya. Anton pun menurut, ia pun duduk di hadapan sang papa Ia melipat kedua tangannya di d**a. Menatap, dan menunggu sang papa berbicara. Sang papa terlihat menyesap kopinya terlebih dahulu "Kau tahu, Anton… sejak beberapa hari lalu, papa melihatmu pergi menuju hotel bersama seorang gadis," ujar sang papa dengan santai namun terdengar tajam. Anton pun terkejut, ternyata sang papa mengetahuinya. "Jangan bertanya, bagaimana papa bisa tahu semua itu. Semua bisa saja papa cari tahu dengan mudah, bahkan papa sangat tahu, siapa saja w************n yang kau pakai," ujar sang papa lagi pada Anton. Anton pun tetap santai, ia tak akan mengelak, karena itulah kenyataannya. Ia pun kembali menunggu sang papa melanjutkan perkataannya. "Papa pun tahu, kau pintar membuang uang dengan cara yang sangat tidak benar. Kau lebih suka berfoya-foya di luar sana, kau menghabiskan uang hanya untuk menyewa para gadis, dan juga berjudi." "Lalu, apa masalahnya denganmu?" Sang papa pun terkekeh kecil mendengar pertanyaan Anton. "Kau ini bodoh sekali!" Jawab sang papa sedikit mengejek putranya "Apa maksudmu mengataiku bodoh?" "Anton, jaga sikapmu! Dia adalah papa kamu!" Jawab sang mama saat melihat Anton akan melawan sang papa. "Biarkan saja, Ma. Anak itu benar-benar sudah sangat kurang ajar. Dan, papa sudah tidak akan tinggal diam," jawab sang suami pada sang istri. Anton pun tersenyum miring, entah terbuat dari apa hatinya. "Lalu, apa yang akan Papa lakukan, huh?" Tanya Anton meremehkan sang papa. "Kau begitu angkuh, Anton. Kami tidak pernah mengajarimu untuk melakukan ini," "Harusnya kalian sadar, siapa yang dulu meninggalkanku saat aku membutuhkan kalian? Apa kalian lupa?" Sang papa pun hanya tersenyum tipis, dan menggelengkan kepalanya. Ia benar-benar tak menyangka akan memiliki seorang putra yang seperti itu. "Kau benar-benar sangat tidak memiliki sopan santun, Anton!" Anton pun tertawa sinis, "Sudahlah, katakan saja… apa yang akan Papa lakukan padaku, huh?" Tanya Anton dengan sedikit remeh pada orang tuanya "Papa akan buat kesepakatan denganmu. Kau harus menikah dalam waktu dekat ini," "Apa? Menikah? Yang benar saja!" Ucap Anton memutus ucapan sang papa. "Papa belum selesai berbicara!" "Ck," Anton hanya berdecak kesal, ia benar-benar sangat marah dengan ucapan sang papa. "Jika kau tidak menikah, maka seluruh harta warisan papa, akan papa berikan ke panti asuhan." Anton terbelalak lebar saat mendengar ucapan sang papa, ia benar-benar merasa tidak terima dengan itu. "Apa-apaan itu, benar-benar sangat tidak adil!" Bentak Anton pada kedua orangtuanya. Sang papa hanya tersenyum menatap sang putra. "Dan, jika kau menikah… maka kau akan mendapatkan 50% dari seluruh harta warisan papa," "Apa? 50%? Bagaimana bisa?" Tanya Anton lagi. Sang papa hanya terkekeh. "Ya, tentu saja bisa. Dan, Papa akan memberikan separuhnya untuk wanita yang bisa membawamu ke jalan yang benar." Anton menatap tajam sang papa, ia benar-benar tidak terima dengan semua itu. "Benar-benar sangat tidak adil!" "Silahkan tanda tangani surat kesepakatan ini, atau kau sama sekali tak mendapatkan apapun!" Ujar sang papa menyodorkan surat yang berisi kesepakatan, dan juga sudah tertempel materai disana. Dengan tatapan tajam, dan tak bisa berpikir lagi. Akhirnya, Anton pun menandatangani surat itu. Dan, ia masih memikirkan, jalan apa yang akan ia pilih. "Kau pikirkan baik-baik apa yang papa katakan, kau berhak memilih, antara dua pilihan itu." Ujar sang papa menambahkan. "Aku benar-benar tidak menyangka, papa akan melakukan ini padaku," jawab Anton dengan tajam. "Ah, ya… papa pun lupa mengatakan, jika di surat itu. Ada persyaratan yang tak bisa kau tolak," Anton pun menatap sang papa dengan tajam. Anton terdiam menunggu sang papa melanjutkan ucapannya. "Hingga saat tiba kau menemukan keputusan apa yang kau pilih, kau harus tinggal disini. Dan, jika kau memilih menikah, maka kau akan kami bebaskan dari sini, dengan syarat… satu bulan pertama setelah pernikahan, kau tetap tinggal disini bersama dengan istrimu, kelak!" Ujar sang papa, dan Anton mengepakan tangannya kuat. Ia benar-benar sangat marah, ia berjalan pergi menuju kamarnya. Hingga ia pun sampai di sana. Brakkkk Anton menutup pintu kamarnya dengan kasar. "Sial, sial, sial!" Anton mengumpat dan mengacak rambutnya frustasi, ia meninju dinding hingga kepalan tangannya memerah. Ia benar-benar sangat marah, bagaimana mungkin sang papa membuat kesepakatan seperti itu? Itu benar-benar sangat tidak adil. "Apa-apaan orang itu membuat kesepakatan seperti ini, benar-benar sangat tidak adil. Bahkan, aku ini anak tunggal yang sudah seharusnya menjadi ahli waris seutuhnya, bukan malah membaginya menjadi beberapa bagian!" Anton terus menggeram marah, hingga ponselnya pun berdering. Ia pun menatap layar ponselnya, ternyata sang kekasihlah yang menghubuninya. "Sayang," panggil perempuan di seberang sana. Anton pun tidak menjawabnya. "Sayang, apa kau disana?" Tanya perempuan itu lagi. "Jangan hubungi aku dulu! Aku sedang tidak mood untuk berbicara denganmu!" Lalu, Anton pun mematikan sambungannya. Sedangkan di sisi lain, sang kekasih menjerit marah. "Sial, apa-apaan sih dia… kenapa telpon gue di matiin!" Ucapnya dengan marah. Ya, Anton adalah orang yang ingin selalu terlihat berwibawa. Ia tidak ingin berbicara dengan kata "lo gue" ia hanya ingin berbicara secara formal. Karena menurutnya, perkataan seperti itu membuatnya merasa sangat bangga. Ya, semua rekan bisnisnya menganggap, jika Anton adalah laki-laki yang sangat sopan, dan berwibawa. Namun, mereka tidak tahu bagaimana sifat aslinya Anton. Anton yang lebih suka berfoya-foya bersama wanita panggilan, ia pun tak lupa mengikuti perjudian, dan juga bisnis ilegal dengan menjual minuman, dan juga obat-obatan terlarang. Anton membuka sebuah club' malam, dan disanalah ia bertemu dengan seorang wanita yang saat ini menyandang status sebagai kekasihnya. Kekasih Anton adalah seorang model majalah popular, ia pun tak segan jika mendapatkan tawaran sebagai model majalah dewasa. Ia, dan Anton pun sering keluar masuk hotel bersama, dan kamar yang sama. Namun, mereka tidak tahu, jika orang tua Anton terus mengawasi mereka. Dan, Anton pun tidak sadar, jika sang papa sedang menjebaknya. Sang papa berharap, jika Anton menikah, mungkin istrinya kelak akan membantunya untuk berubah menjadi laki-laki yang baik. Dan untuk masalah harta warisan, kemungkinan orang tua Anton sudah dengan yakin, tidak akan melakukan negosiasi dengan putranya. Orang tua Anton sudah dengan yakin akan membagi harta warisan untuk menantunya yang berhasil membuat Anton menjadi lebih baik sebanyak 50% dari sahamnya. Mereka pun berharap, Anton akan memilih wanita yang baik, bukan salah satu wanita panggilan yang akan dijadikan istrinya. … Bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD