…
Keesokan harinya, Anton pun pergi ke kantor. Seperti biasanya, ia melangkah dengan wajah angkuh. Tak berekspresi, seseorang cleaning servis pun menabraknya tak sengaja.
Bruk
Anton menahan napas sesaat, karena merasa tubuhnya tertabrak oleh seseorang.
“M-maafkan saya, Pak Anton…” ucap cleaning servis itu menunduk takut.
“Pergilah!” ucap Anton dengan wajah menahan amarah, cleaning servis pun langsung membungkuk dan pergi dari hadapan Anton.
“Sial! Ini sangat menjijikan!” gumam Anton sambil membersihkan lengannya karena tersenggol oleh cleaning servis tadi.
Anton pun berjalan masuk ke dalam ruang kerjanya, ia langsung di sambut oleh kekasihnya --- Alisa.
“Sayang,” sapa Lisa langsung menghambur peluk manja pada Anton.
Anton langsung menyingkirkan tangan Lisa yang memeluk lehernya.
“Jangan memelukku seperti itu, Lisa!” geram Anton pada Lisa.
Lisa pun langsung mendengus kesal.
“Memangnya kenapa? Aku kan kekasihmu, Sayang.”
“Kau memang kekasihku, tapi kau tak boleh terus bebas menyentuhku.”
“Tapi kau bebas menyentuhku, Sayang.”
“Hentikan! Sebaiknya kau keluar dari ruangan ini!” titah Anton dengan tatapan tajam pada Anton.
“Loh, kamu ngusir aku?”
“Aku sibuk!” tegas Anton pada Lisa.
“Hm, aku akan pergi ke Turkey, karena ada pemotretan disana.” Ucap Lisa pada Anton, Anton pun langsung menatapnya.
“Berapa hari?”
“Seminggu, mungkin… “
“Tambahkan waktu, aku akan menyusul mu ke sana,” ucapan Anton membuat Lisa tersenyum lebar.
“Baiklah, aku menunggumu disana,Sayang.” Lisa mengecup pipi Anton, ia langsung menahan pinggang Lisa dan mencecap bibir kekasihnya itu.
Bunyi decapan Lidah saling bertukar saliva menggema memenuhi sudut ruangan.
“Aku mencintaimu, Anton…” ucap Lisa memandang wajah tampan kekasihnya itu.
“Ya, aku juga mencintaimu,”
“Tapi kau menyeramkan,”
Anton tersenyum tipis pada Lisa.
“Pergilah, dan hati-hati…” ucap Anton pada Lisa tanpa menggubris ucapannya.
Lisa mengangguk dan melangkah keluar.
“Tunggu,” ucap Anton yang membuat langkah kaki Lisa terhenti dan berbalik.
“Pakai kartu ini, gunakan untuk apapun yang kau inginkan. Aku akan datang, jika pekerjaanku telah selesai,”
“Iya, Sayang. Aku mencintaimu, terimakasih… “ Ucap Lisa girang sambil mengambil kartu berwarna hitam di tangan kekasihnya.
Lisa berlari keluar dengan wajah berseri.
Anton tersenyum miring.
“Dengan uang, aku bisa melakukan apapun, bukan?”
Ia pun langsung duduk di kursi panasnya, menatap beberapa berkas yang sudah ada di atas mejanya. Meskipun ia sangat sombong, tetapi kemampuan kerjanya sangat bagus dan teliti. Hal itu yang membuatnya patut di sanjung dan di gandrungi oleh para gadis sexy.
Namun, tetap saja… meskipun ia sering berganti pasangan tidur, Lisa-lah yang masih menduduki sebagai kekasihnya. Anton tidak bisa mengganti Lisa dengan yang lain, karena dia pun mencintai Lisa. Tetapi, ia ingin kebebasan dalam hubungan mereka, dan dialah yang berhak memberi aturan, bukan Lisa.
Anton pun mulai bekerja dengan serius, ia akan memikirkan kata yang di ucapkan sang ayah nanti, jika pekerjaannya telah usai.
Meskipun ia memiliki Lisa, tetapi ia sangat yakin kalau kedua orang tuanya tak akan setuju, jika ia menikah dengan Lisa. Karena Lisa bukan gadis baik-baik, ia sering berpose dengan vulgar.
Karena pekerjaannya sebagai seorang model yang tak menolak, jika ada tawaran untuk menjadi foto model di majalah dewasa.
Hingga, waktu makan siang pun tiba… ia meminta anak buahnya untuk membawakan makanan yang biasa di masakan oleh chef pribadinya, ia tak bisa memakan makanan sembarangan karena ia sangat merasa jijik, jika bukan memakan masakan dari sang ibu, atau chef pribadinya.
“Jef!” serunya memanggil anak buah yang biasa ikut kemanapun ia melangkah.
“Ya, Tuan… ini makan siang anda,” sambil menata makanan di atas meja.
Anton sudah duduk di sofa dan siap untuk menyantap makan siangnya.
“Carikan aku istri,” gumam Anton sambil memakan makanan yang sudah tertata di atas meja.
“Istri, Tuan?” ulang Jef menatap sang Tuan yang sedang mengiris daging di piringnya.
“Apa kau mulai tuli, hingga aku harus mengulangi perkataan ku?” tanya Anton dengan nada tegas.
“Maafkan saya, Tuan… hanya saja, anda kan sudah memiliki Nona Lisa?”
“Kau tak perlu membantah, turuti saja perintah dariku tanpa banyak bertanya, Jef!” bentak Anton pada Jef –- anak buahnya.
“B-baik, Tuan…” jawab Jef dengan gugup, ia sangat takut pada Anton, karena ia tak akan segan untuk menghajar anak buahnya, jika ia tak menuruti perintah darinya.
“T-tuan, sepulang dari kantor kita ke tempat Zikri?”
Anton terdiam sejenak, ia pun mengangguk kemudian.
“Awasi setiap gerak geriknya, aku tak ingin dia kabur tanpa jejak!” titah Anton pada Jef.
“Baik, Tuan.” jawab Jef dengan membungkukkan tubuhnya.
Anton pun kembali melanjutkan makannya dengan tenang dan wajah tanpa ekspresi. Meskipun, sebenarnya… ia sedang memikirkan sesuatu.
…
Sedangkan disisi lain, Aruna yang sedang merasa sakit kepala pun tak pergi bekerja ke warung Bu Asna.
Ia dengan terpaksa harus mencuci seluruh pakaian milik ibu dan dua saudara tirinya.
Brakkk
Aruna terpekik, saat melihat adik tirinya melemparkan satu ember penuh pakaian kotor.
“Dasar bodoh! Harusnya lo liat dong, banyak pakaian kotor gini nggak lo ambil semua, gimana sih!” bentak Elis pada Aruna.
Aruna hanya menghela napas berta sambil menahan rasa sakit di kepalanya, dengan sabar ia mendengar percakapan kedua saudara dan ibu tirinya.
“Zikri, bagaimana dengan hutang kita pada Tuan Anton?”
“Ck, kau tukar saja Elis padanya , Bu.” Ucap Anton enteng yang membuat sang Ibu tersenyum licik, Zikri mengarahkan adiknya untuk menjadi barang yang akan melunasi hutang-hutangnya pada Anton.
“Abang pikir, aku ini barang apa, hah!” Elis merasa tak terima dengan ucapan sang kakak.
“Alah, lo bakal seneng kalau bisa jadi teman kencan dia,”
“Ya bukan begitu juga, Bang. Kan Elis maunya, jadi istri dia…”
“Ya nggak mungkinlah, lo sadar… lo itu burik!” ucapan sang kakak sangat menohok pada hati Elis.
“Sudah-sudah, begini saja…” ucap sang ibu sambil menghela napas berat.
“Bagaimana, jika rumah ini dan kebun kita di jual saja?”
“Jangan!” teriak Aruna mencegah ucapan sang ibu tiri.
“Heh, gadis tak tau di untung! Kamu tidak ada hak untuk melarang kami!”
“Bu, itu harta peninggalan Bapak, jangan di jual. Itu kenangan terakhir Bapak untuk Aruna,”
“Alah, masa lo nggak sadar, kalau itu bukan punya lo lagi. Salah bokap lo juga, mau kawin dua kali, tapi nggak ngasih apa-apa!” ucap Zikri lagi pada Aruna.
“Ya, Allah… Bang, Bapak nikahin Ibu itu karena sayang, Ibu juga nggak nolak ajakan Bapak waktu itu,” ucap Aruna yang langsung mendapat pukulan dari ibu tiri.
Bugh
Aruna meringis, saat ia merasakan punggungnya di pukul oleh ibu tiri.
Zikri dan Elis hanya menertawakan Aruna yang sedang kesakitan.
“Rasain lo!” ejek Zikri pada Aruna.
“Lanjutin tuh kerjaan lo, nggak usah ikut campur.” Lanjut Elis menyuruh Aruna melanjutkan pekerjaannya.
Aruna pun melanjutkan pekerjaannya dengan perasaan yang sangat sedih, ia sangat sedih karena ayah menitipkannya pada wanita dan keluarga yang salah.
Ia menangis sambil merasakan nyeri di kepalanya.
…
Bersambung…