Aruna dan Anton

1166 Words
… Aruna benar-benar merasa sangat sedih, ia baru saja selesai solat ashar, Aruna masih duduk sambil bersandar di ranjang yang sudah reot, tempat ia biasa mengistirahatkan tubuhnya. Aruna benar-benar merasa sakit kepala, ia belum makan sejak pagi. Ia memiliki kesempatan makan, jika ibu dan kedua saudara tirinya sudah makan. Aruna memegang kepalanya, meringis pelan, kepalanya terasa sangat berat. Terlebih lagi, tumpukan pakaian kotor terpaksa ia cuci. Mencuci manual, tidak ada mesin cuci untuk meringankan pekerjaan nya. Jangankan untuk membeli mesin cuci, untuk makan saja ia harus berjuang dan bekerja di warung bu Asnah. Beruntung, Aruna bisa mendapatkan kesempatan bekerja disana. Aruna menghela napas panjang, ia berniat untuk mengangkat pakaian yang ada di jemuran, ia melepas kain mukena yang warnanya sudah pudar, lalu memakai kembali hijab agar ia tak memperlihatkan auratnya. Ia pun berjalan menuju samping rumah, tepat dimana ia menjemur pakaian tadi. Aruna mengernyit heran, saat mendengar suara seorang laki-laki berteriak pada ibu dan kakak tirinya. Aruna mempercepat gerakannya untuk mengangkat pakaian di jemuran dan menaruhnya di keranjang. “Hei, mana uang yang kalian janjikan, aku sudah muak dengan janji kalian!” seru Anton angkuh pada mereka. “Maaf, Tuan… saya ingin bernegosiasi dengan anda, jika anda bersedia,” ucap ibu tiri Aruna. “Cih, wanita tua… kau banyak sekali bertingkah. Katakan, apa yang ingin kau negosiasikan padaku,” ucap Anton menatap mereka dengan tatapan sinis. “Ini, aku memiliki anak gadis. Dia masih gadis dan saya siap menukarnya dengan hutang kami,” ucapan ibu tiri Aruna sambil mendorong Elis yang tersenyum manis pada Anton. Anton tertawa remeh, menatap jijik pada Elis. Ia bergidik ngeri saat melihat penampilan Elis dari atas sampai bawah. “Menjijikan,” ucap Anton dengan tegas. Zainab dan kedua anaknya pun terkejut dengan penolakan Anton. “Tuan, anak saya masih perawan dan kau bisa --- “ ucapan Zainab terhenti saat Anton justru menohok dengan tegas. “Melihatnya saja aku sudah jijik, dan aku tidak bisa menyentuhnya. Masih perawan sekalipun, dia tak pantas bersanding denganku!” ucap Anton dengan tatapan tajam. “Ibu, ada apa ini?” tanya Aruna yang baru saja selesai mengerjakan tugasnya. “Diamlah! Kau tidak bisa membantuku, tidak perlu ikut campur.” ucap Zainab pada Aruna. “Hei, Aruna… lo nggak boleh halangin gue sama ibu buat jual ini rumah sama tanah lagi,” “Nggak, Bang. Itu nggak boleh dijual, itu peninggalan ayah…” ucap Aruna dengan nada memohon. “Kalau lo mau nanggung hutang gue sama ibu sih, gue nggak apa-apa…” jawab Zikri dengan menyeringai licik. “Berapa hutang kalian?” tanya Aruna yang langsung mendapatkan seringai Anton. “Hei, Nona… kau tidak akan mampu melunasi hutang-hutang mereka,” “Memangnya berapa, Tuan?” tanya Aruna lagi. “Tiga ratus juta…” “A-apa?” tanya Aruna shock mendengar jawaban yang lolos dari bibir Anton. Anton pun terkekeh kecil, “Jika kau tidak mampu membayar, jangan berlagak seolah kau akan membayar hutang mereka saat ini juga, Nona!” jawab Anton menatap tajam Anton pada Aruna, Aruna lantas menunduk --- memutus pandangan mereka. Anton terlihat terdiam sambil mengamati gerak gerik Aruna, Zikri yang sadar akan pandangan Anton pun tersenyum licik. “Kau boleh membawanya, jika kau tertarik, Tuan…” “Kau licik sekali, Zikri…” “Ku dengar, kau sedang mencari istri, bukan?” Anton terkejut, karena tak menyangka jika Zikri mengetahui hal itu. “Tak perlu terkejut, saya sudah tahu itu. Kau boleh membawa Aruna, jika kau mau.” Aruna menggelengkan kepalanya. “Abang, hentikan!” teriak Aruna pada Zikri. “Heh, Aruna… lo harus bantuin gue sama ibu, biar hutang cepat lunas!” “Apa? Nggak!” tolak Aruna dengan tegas. Membuat Zikri menatap tajam padanya. “ Itu urusan kalian, aku nggak ada ikut campur soal hutang kalian!” sambung Aruna lagi. “Kalian pikir, aku datang kesini untuk melihat drama menjijikan kalian, hah!” bentak Anton yang membuat mereka menoleh padanya. “M-maaf, Tuan…” jawab Zainab pada Anton. “Tidak bisakah, kau menukar hutang dengan Elis?” “Sudah ku katakan, jika aku menolak anak menjijikan mu itu, Wanita tua!” suara Anton meninggi, benar-benar merasa sangat emosi. Uang tiga ratus juta itu tidak sedikit, ia pun membutuhkan uang itu meskipun ia masih memiliki banyak uang. Aruna terpekik saat mendengar suara Anton yang menggelegar. “Bahkan, anak tiri mu jauh lebih menarik, di banding dengan anakmu yang terlihat lebih pantas mengemis di jembatan,” ucap Anton tajam, tangan Elis terkepal kuat mendengar hinaan yang Anton lontarkan untuknya. “Astaghfirullah….” Gumam Aruna sambil mengelus dadanya. “Hei, kau…” ucap Anton pada Aruna. “S-saya, tuan?” “Jef, bawa dia ke mobil. Lapisi kain jok mobilku untuknya, agar tak ada kuman dan virus yang menempel disana!” titah Anton pada Jef. Aruna tersentak saat tiba-tiba laki-laki berbadan tinggi besar menariknya dengan kasar. “J-jangan, s-saya akan bekerja, Tuan. Saya akan membayar seluruh hutang mereka,” ucap Aruna pada Anton. “Jangan bermimpi, aku membawamu karena tak ada pilihan lain dan tak sudi membawa adik tiri mu yang jauh lebih menjijikan darimu,” Hinaan Anton terdengar begitu menyakitkan, tetapi Aruna sudah terbiasa dengan hinaan seperti itu. Karena ia selalu di perlakukan kejam oleh keluarga tirinya. “Tuan, apakah hutang kami sudah lunas?” tanya Zikri pada Anton. Anton tersenyum mengejek mendengar pertanyaan Zikri. “Aku hargai adik tiri mu seratus juta,” “A-apa?” tanya Zikri seolah tuli mendengar jawaban Anton. “Kau pikir, adik tiri mu ini sangat berharga, hah? Tentu saja tidak!” bentak Anton lagi. “Aku akan memberikanmu waktu hingga akhir bulan!” Setelah mengatakan hal itu, Anton pun masuk ke dalam mobil dan menghadap depan tanpa ekspresi. “Menjijikan sekali aku harus berurusan dengan manusia miskin seperti kalian,” ucap Anton pada Aruna. “Tuan, saya tidak tahu menahu soal hutang itu. Tidak bisakah anda turunkan saya?” “Hei, apa kau tuli? Aku sudah menghargaimu seratus juta! Dan kau ingin kabur?” Aruna menatap takut pada Anton yang menatapnya tajam, ia segera menundukkan pandangannya. “Jangan berani kau coba kabur dariku, atau mereka akan ku lenyapkan!” Aruna meneguk ludahnya susah payah, ia tak mengerti mengapa ia yang di bawa oleh Anton. “Saya mau di bawa kemana, Tuan?” “Jangan banyak bertanya! Kau ikuti saja segala permainanku!” “B-baik, maaf…” “Cih,” Anton hanya berdecih mendengar kata maaf dari Aruna. Aruna menunduk sambil meremas jari jemarinya. Ia merasa gugup dan takut. Ia berdoa dalam hati, berharap ia selalu dalam perlindungan Allah SWT. “Ya Allah, lindungi lah hamba… hamba tidak mengerti, mengapa mereka tega dan membiarkan hamba di baa oleh orang ini,” “Tuan, apakah dia yang akan --- “ pertanyaan Jef belum selesai dan Anton sudah menjawabnya dengan wajah datar. “Ya,” jawab Anton singkat. Aruna mengernyit bingung, ia tak mengerti apa yang mereka bahas dan ia benar-benar merasa takut. Ia takut, jika tiba-tiba Anton menjualnya dan di jadikan sebagai wanita malam. “Astaghfirullah…” Aruna kembali beristighfar untuk menenangkan hatinya yang sedang gelisah dan takut. … Bersambung…
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD