"Saya terima nikahnya Valeta Eveline binti Kusuma dengan mas kawin seperangkat alat sholat dibayar
tunai."
"Sah."
"Sah."
"Alhamdullilah..."
Seluruh tamu undangan menyaksikan acara sakral ijab qabul yang digelar secara tertutup di kediaman keluarga Xavieer. Acara memang dibuat sederhana dengan tidak mengundang banyak tamu. Cukup dari keluarga terdekat dan para saksi yang hadir.
Valetta mencium tangan Keynan yang kini sudah resmi menjadi suaminya. Semua keluarga begitu bahagia menyaksikan kedua anak mereka akhirnya menikah. Namun tak terlihat wajah bahagia dari kedua mempelai saat ini, mereka memalingkan wajah satu sama lain.
***
Acara pesta meriah akan digelar malam harinya, dan kali ini pesta yang diadakan di salah satu hotel mewah di Jakarta yang tak lain juga hotel milik keluarga Xavieer tentunya. Seluruh tamu undangan telah banyak yang berdatangan, mulai dari klien bisnis, jajaran orang penting dan saudara memasuki ballroom utama tempat pesta diadakan.
Namun malam ini, sang pengantin perempuan yang harusnya mulai berdandan dengan gaun yang sudah disediakan tiba-tiba menghilang tanpa kabar. Seluruh keluarga terutama keluarga Valetta sangat kebingungan.
"Valetta kemana kamu pergi sekarang?" Olivia kesal begitu sangat kesal dengan kelakuan kekanak-kanakan dari putrinya sendiri.
Keynan yang telah siap dengan balutan jas putih hanya bisa menatap ketegangan yang terjadi di ruangan itu.
"Maaf nak Keynan, putri saya memang sangat susah diatur, tapi saya yakin Valeta pasti akan
kembali."
Acara akan digelar pukul 20.00 namun sampai sekarang Valeta belum juga pulang. Keynan sendiri hanya bisa menggelengkan kepala sesekali mendecak kesal karena ulah kekanak-kanakan Valeta sendiri.
Keynan tak bisa kalau hanya berdiam diri akibat ulah Valeta yang meninggalkan pesta dan membuat seluruh keluarga khawatir.
"Tante, ijinkan saya mencari Valeta sekarang, mungkin saat ini dia bersama teman-temannya."
"Kamu bisa membawa Valeta kembali nak Keynan? "
"Akan saya coba tante, lagipula itu sudah jadi kewajiban saya sebagai seorang suami. "
"Baiklah, tante ijinkan. Tolong bawa Valeta kembali nak Keynan."
"Baik tante."
***
Suara deru napas yang membara menyaksikan dua pasang insan sedang bermesraan di salah satu pojok diskotik malam dengan saling menempelkan bibir mereka rakus. Bahkan sang laki-laki dengan ganasnya menyerang bibir mungil perempuan yang hanya mengenakan baju hotpant pendek yang terlihat sexy itu.
Sementara di salah satu meja, terkulai lemas seorang gadis berpakaian tak kalah sexy yang hanya mengenakan tanktop dengan rok pendek memperlihatkan paha mulusnya. Di meja telah banyak botol minuman dan gelas kosong. Bisa dipastikan sudah berapa gelas gadis itu minum dan sekarang tubuhnya benar-benar sangat lemas.
Tak membutuhkan waktu lama, sesaat seorang laki-laki berjaket kulit masuk dan menghampirinya.
"Tetta, kamu ngapain ada disini?" ujar laki-laki itu khawatir.
Valetta samar-samar melihat laki-laki di depannya yang tak asing.
"Justin, my honey!" langsung saja Valeta memeluk tubuh laki-laki itu mesra.
"Aku antar pulang ya?" tawar Justin memapah tubuh Valeta yang lemas.
Valeta hanya bisa pasrah sambil bergelayut manja pada lengan sang kekasih, Justin Austin Lucas. Keduanya sudah menjadi hubungan selama satu tahun yang lalu.
"Ayo Tetta..."
Justin, laki-laki bertinggi 178 cm ini memiliki pribadi yang baik, ia merupakan wakil OSIS di sekolah Highlight dan juga termasuk siswa yang berprestasi dengan mendapatkan peringkat lima besar satu sekolah. keduanya bertemu saat pertama kali Valeta menghadapi MOS dan saat itu, Justin adalah bagian dari OSIS yang mengurus siswa angkatan baru.
Kelakuan Valeta di hari pertama MOS cukup membuat senior pengurus OSIS jengkel setengah mati, kecuali Justin. Ia langsung tertarik dengan pribadi polos dari Valeta yang menurutnya sangat unik.
Setelah MOS berakhir, Valeta mulai beradaptasi dengan lingkungan di sekolahnya—dan saat itulah untuk pertama kali Justin mulai mendekati Valetta. Awalnya mungkin bagi Valeta sedikit asing, apalagi yang mendekati adalah pengurus OSIS yang sangat disegani.
Hubungan mereka juga mendapat pertentangan dari kakak kelas yang mengira Valetta genit untuk mendekati Justin.
Justin sendiri memang orang yang susah untuk didekati. Ia pendiam namun sangat bijaksana. Pintar dan merupakan siswa kebanggaan sekolah. Jadi jangan heran kalau dulu Valeta sering mendapat bullyan dari teman-teman terutama kakak kelas karena mendekati Justin.
Namun bukan Valeta namanya kalau ia tidak bisa lolos begitu saja. Gadis itu memang cenderung suka tantangan. Menghadapi kakak kelas yang hanya bisa menggertak tak menyulutkan nyalinya. Valeta bahkan pernah membalas dengan meletakkan mainan tikus karet di loker milik kakak kelas yang membullynya tadi—dan alhasil suara teriakan membuat Valeta tertawa penuh kemenangan.
Valeta mungkin bukan siswa yang pintar dan mendapatkan peringkat di sekolahnya, namun ia pernah mendapat peringkat 20 besar dari 30 siswa di kelas dan itu pencapaian yang luar biasa menurutnya. Tapi bukan berarti ia bodoh, sejak kedatangan Justin justru membuat Valeta rajin belajar, mereka sering menghabiskan waktu di perpustakaan untuk belajar dan ujung-ujungnya Valetta malah tertidur cantik saat mendapat penjelasan dari Justin. Justin hanya bisa mengelengkan kepala melihat sikap Valeta ini.
Keduanya resmi berpacaran saat melakukan camping yang diadakan oleh OSIS sebagai acara untuk mengakrabkan semua siswa baru.
Justin yang menembak duluan, Valeta mengira Justin hanya bercanda waktu itu. Tapi kesungguhan Justin terlihat dengan mencium Valeta— dan saat itu Valeta mulai menerima Justin.
***
Justin membawa Valeta masuk ke mobilnya untuk mengantarnya pulang. Namun di tengah jalan Valeta merengek tak ingin pulang.
"Aku nggak mau pulang Justin." rengeknya masih menempelkan tangannya memeluk tangan Justin manja.
"Tapi kamu harus pulang, nanti tante Olivia bisa marah kamu nggak pulang, Tetta," bujuk Justin.
"Aku nggak mau pulang."
"Valeta sayang, kamu harus pulang. Ini udah malam." Justin terus membujuknya agar luluh.
Valeta hanya memanyunkan bibir, ia benar-benar tak ingin pulang. Biarkan saja orang rumah mencarinya. Pokoknya ia tak mau pulang sekarang. Namun pada akhirnya Valeta luluh menuruti permintaan Justin, mereka lalu masuk ke dalam mobil.
....
Sementara itu, Keynan terlihat gusar mencari keberadaan Valeta. Ia juga sudah menyuruh beberapa orang mencari Valetta.
"Kemana dia pergi?"
Keynan berusaha menghubungi di nomer handphone milik Valeta
namun sudah berulang kali ia mencoba menelpon. Tetap saja tak ada sahutan atau jawaban.
"Arghhh."
Sementara di mobil Justin. Valeta masih terlihat lemas dan lebih memilih untuk tidur, namun Justin tahu kalau Valeta belum sepenuhnya tidur.
"Teta!" panggil Justin.
"Hmm."
Tiba-tiba terdengar suara handphone milik Valeta yang berada di tas kecilnya. Karena Valeta masih lemas, akhirnya Justin yang mengambil handphone itu. Menggeser layar ke kanan untuk memulai pembicaraan.
"Ya, hallo!"
"Hallo. Apa Valetta ada disana?"
Justin mendengar suara laki-laki dari seberang yang mencari Valetta.
"Ini siapa ya?" tanya Justin mulai curiga.
"Tolong antarkan dia pulang sekarang juga!" pinta Keynan tegas.
"Saya tanya, siapa anda?"
"Saya Keynan..."
"Keynan?" Justin menautkan kedua alis heran .
"Siapa anda? Dan apa hubungan anda dengan Teta?"
"Saya suaminya," ucapan telak dari balik telepon genggam itu membuat seluruh tubuh Justin luruh seketika.
Suami? Sejak kapan Valetta memiliki suami, apa ia sudah menikah. Tapi bukankah selama ini mereka menjalin hubungan dan keduanya sudah bertahan satu tahun. Apa mungkin Valeta mengkhianatinya.
"Bisakah anda membawanya pulang?" pinta Keynan.
"Saya akan mengantar Tetta pulang, anda jangan khawatir. Valetta pacar saya, sudah jadi tugas saya mengantarnya pulang dengan selamat." Justin tak mau kalah dengan memperkenalkan sebagai pacar, walah ia tahu status suami jauh lebih tinggi darinya.
Justin menutup telepon itu, kembali ia melihat gadisnya yang masih lemas dengam bersandar di belakang kursi kemudi.
"Teta!"
"Hmm."
"Siapa Keynan?"
"Keynan?" Valetta mulai terbangun dengan kepala masih sedikit pusing.
"Dia bukan siapa-siapa, nggak penting Honey!"
"Tapi tadi dia bilang suami kamu?"
Sekejab kemudian Valeta tertawa dengan mata masih terpejam karena efek minuman tadi membuat kepalanya pusing.
"Suami? " Sharen kembali tertawa sambil menahan perutnya.
"Ini nggak lucu Ta!"
Valeta masih terus memegangi perutnya yang semakin bergejolak menahan tawa.
"Mana mungkin aku udah punya suami, " rancau Valeta. "Pasti tadi salah sambung Justin."
"Tadi nggak mungkin salah sambung, dia tahu nama kamu, dan---"
"Justin, udah deh jangan ngomongin dia lagi."
"Kamu jangan bohong." Justin mulai menaruh curiga.
"Kamu nggak percaya sama aku?" Valeta yang mulai tersadar sepenuhnya mulai menanggapi ucapan Justin.
"Aku percaya sama kamu."
"Ya udah kalau kamu percaya, kamu nggak usah dengerin laki-laki yang ngaku jadi suami aku," sergah Valeta tak ambil pusing.
"Tapi aku cuma mau mastiin Ta, kalau apa yang kamu ucapin ini nggak bohong."
"Udah deh Justin. Kepala aku pusing kalau kamu ngomongin dia terus."
Drttt...kembali handphone Valeta bergetar.
Saat Valetta akan mengambilnya, terlebih dahulu Justin mengambilnya. Tertera nama disana nama yang sama dengan laki-laki yang baru saja menelpon tadi.
"Lihat! ini namanya ada, sangat jelas. KEYNAN. Kamu bisa jelasin?"
"Apa itu penting sekarang?"
"Ini sangat penting Ta. Kenapa dia ngaku jadi suami kamu?"
"Justin, please deh. Berhenti ngomongin laki-laki itu sekarang," kesal Valetta.
"Kenapa kamu jadi marah?" Justin ikut terpancing.
"Aku nggak marah Justin."
"Lalu apa sulitnya ngasih tahu aku apa hubungan kamu sama laki-laki tadi."
Valeta mendecak kesal. "Itu nggak penting Justin."
"Kamu pacar aku Ta, gimana bisa kamu menganggap ini nggak penting. Kita udah janji untuk saling terbuka satu sama lain, kamu lupa?"
Valetta menghela napas panjang saat Justin semakin menyudutkannya.
"Karena kalau aku bilang sebenarnya. Hubungan kita akan berakhir," ungkap Valeta.
"Apa maksud kamu?"
"Kamu nyembunyiin sesuatu dari
aku." Valeta kini dilanda kebingungan bagaimana menjelaskan pada Justin tentang Keynan.
"Sebenarnya Keynan... Dia..."
Tanpa mereka sadari saat perdebatan panjang mereka, sebuah mobil melaju kencang dari arah berlawanan menuju ke mobil mereka.
"JUSTIN!" kejut Valetta melihat mobil itu menuju ke arah mereka.
Tin...tin...
Suara klason mobil mengagetkan keduanya. Justin berusaha membanting stir menuju ke arah lain namun sakit paniknya mobil itu justru menabrak sebuah pohon besar di depan mereka.
BRAK
Keduanya terbentur cukup keras hingga menimbulkan kepulan asap dari bagian mobil depan. Justin tersadar sesaat setelah kecelakaan yang dialaminya, ia menoleh ke arah samping, Valeta tak sadarkan diri.
"Va-le-ta." ucapnya terbatas sebelum ia kembali tak sadarkan diri sampai bantuan datang.
Darah mengalir dari ujung kepala membasahi pelipis hingga mengenai wajah mereka yang tak sadarkan diri.