Bunga

1101 Words
“Mbak, ini ada bunga lagi.” Seorang wanita menghampiri ruangan Aluna membawa buket bunga yang memiliki ukuran cukup besar. Melihat itu Aluna langsung menghela napas panjang sambil mengambil malas buket bunga itu dan mengecek surat yang terselip. Masih sama dari Mr.R. Sudah beberapa waktu belakangan ia selalu mendapatkan kiriman bunga dari si Mr.R ini, yang Aluna sudah yakin kalau itu adalah Revan. Awalnya hanya usaha untuk kembali bertemu, namun karena Aluna memutuskan untuk tidak merespon, Revan malah gencar mengirimkan bunga seolah memperlihatkan usahanya tidak akan surut. “Mr.R siapa sih mbak? Mbak Aluna lagi deket sama cowok ya? Manis banget selalu ngirimin bunga.” asisten Aluna mulai berani bertanya karena sebelumnya merasa tidak enak untuk menanyakan hal yang mungkin terkesan pribadi. Tapi karena melihat mulai sering namun wajah Aluna tampak tidak senang saat menerima membuat sang asisten penasaran. Aluna menggeleng, “hanya orang iseng.” “Fans sama Mbak Aluna ya?” “Gia, kamu tahu Revan anaknya Pak Surya Ardana ga?” Aluna memutuskan untuk bertanya pada Gia karena rasanya ia butuh berbagi cerita pada seseorang mengenai Revan. “Oh? Tahu mbak, memangnya kenapa?” “Kamu tahu sesuatu tentang dia?” Gia dengan sopan meminta ijin untuk duduk di sofa sebelah Aluna yang juga sedang duduk, dari pergerakannya sepertinya ia memiliki banyak hal untuk diceritakan, “jujur saya sebenarnya ga tahu langsung sih mbak, tapi tahu dari orang-orang aja, karena kebetulan teman saya ada yang kerja di kantornya Ardana. Lagi ada gosip seru.” Aluna mengangkat alisnya penasaran, “ada apa?” “Tapi mbak jangan bilang tahu dari saya ya, takutnya ini info ga bener.” “Yaudah okey.” Gia semakin mendekat dan mulai bercerita dengan suara yang seakan berbisik, “harusnya Pak Revan kan maju jadi kandidat tunggal pengganti posisi pimpinan utama. Tapi di rapat terakhir katanya ga jadi soalnya para direksi pada ga suka sama Pak Revan.” “Ga suka kenapa?” “Karena katanya sifatnya Pak Revan membahayakan branding perusahaan walaupun secara kinerja Pak Revan ga perlu diraguin. Tapi saya emang denger Pak Revan itu sering main di klub dan gonta ganti cewek gitu.” “Oh ya??” “Lah? Saya pikir Mbak Aluna sama Pak Damar ga mau kerja sama dengan perusahaan sebesar Ardana karena citra kurang baiknya Pak Revan.” Aluna menggeleng, “kita sama sekali tidak tahu itu.” “Eh tapi ini mah belum tentu benar ya mbak, cuma isu aja. Tapi kalau info pasti sih kata teman saya kalau di kerjaan Pak Revan emang agak serem soalnya kalau ngomong beneran terang-terangan tanpa filter gitu. Tapi di luar itu emang ada banyak cewek yang ngejar Pak Revan. Secara dia kan putra tunggal Pak Surya Ardana ditambah emang ganteng.” Gia menutup ucapannya dengan tawa. “Eh tapi, apa mungkin Mr.R yang ngirim Mbak Aluna bunga itu maksudnya Pak Revan??” Gia baru tersadar dan menatap Aluna dengan wajah kaget. Dengan cepat Aluna menggeleng, “ah bukan, ini bukan Revan.” Gia kembali tertawa, “oh bukan, lagian kayanya Pak Revan bukan tipenya Mbak Aluna juga ya?” “Lah emang menurut kamu tipe saya yang gimana?” “Pasti yang kaya Mbak Aluna juga lah kerennya, ya kan? Yang dewasa, kalem dan berkelas gitu. Dan yang pasti punya prinsip yang keren juga kaya Mbak Aluna.” canda Gia hanya bisa membuat Aluna tertawa. “Yaudah kalau gitu aku ijin balik ya mbak, by the way file yang tadi Mbak Aluna bilang sudah saya teruskan ke divisi produksi ya. Nanti saya follow up berkala.” “Okey, thanks Gia.” “Oiya jangan lupa rapat terakhir sore ini ya mbak, jadwal terakhir sebelum pulang.” ** “Pa, aku sudah mulai benar-benar ga suka dengan cara mereka di rapat tadi. Itu namanya sudah bukan diskusi namun sengaja ingin jatuhin papa. Aku tahu banget maksudnya,” Aluna mengomel menyampaikan ketidak senangannya setelah rapat berakhir. Papa Aluna hanya diam, namun bagi siapapun yang melihat pasti tahu kalau ia sedang banyak pikiran. “Padahal semua usul mereka sudah jelas tidak masuk diakal dan akan merugikan. Dan yang paling tidak aku suka adalah pola komunikasi mereka seperti sudah diskusi untuk selalu meragukan kebijakan kita.” “Syukurlah kamu menangkap pola itu, analisa kamu semakin tajam. Kamu tahu apa yang harus kita lakukan kan?” “Maksud papa?” Aluna memiringkan kepalanya bingung. “Mereka sengaja mengarahkan kita untuk mengambil kebijakan yang disepakati semua orang. Namun saat kebijakan itu berjalan dan benar-benar merugi, itu tentu atas nama kebijakan papa dan itu akan ditangkap menjadi momen kegagalan papa. Itu adalah momen paling tepat untuk menjatuhkan kita.” “Ah semua orang benar-benar sudah gila, demi kepentingan pribadi rela mempertaruhkan perusahaan.” “Jadi untuk sekarang kita tidak boleh pecah fokus mau bagaimanapun gejolaknya. Kita harus fokus pada kebijakan paling ideal walaupun kesannya tidak ada yang berada di pihak kita.” Papa bicara sambil matanya kita terarah ke luar jendela, tatapannya tampak jauh ke depan. Mendengar itu Aluna menghela napas panjang, setiap rapat internal keluarga Aluna merasa sangat kesal karena makin kesini semenjak kakek meninggal semuanya terasa berbeda. Semua orang tampak ingin menjatuhkan papanya dan merasa paling bisa mengambil alih kendali semuanya. Padahal Aluna tahu betul, mereka semua hanya ingin jabatan tapi tidak ada yang benar-benar ingin mendedikasikan diri dan berjalan sesuai dengan nilai-nilai dasar perusahaan. Harusnya jika mereka memang merasa mampu, mereka mengajukan diri saat kakek masih hidup, tapi tidak ada satupun yang berani karena tahu belum pantas untuk itu dan tidak sesuai dengan penilaian kakek selaku pendiri perusahaan. * Aluna berjalan memasuki ruangannya dengan langkah gontai karena masih memikirkan permasalahan internal kantornya atau lebih tepatnya keluarganya yang semakin hari ada saja. Mata Aluna kini menangkap buket bunga lainnya yang hari ini sudah ada di meja kerjanya. “Dan ini masih saja...,”Aluna duduk di kursinya sambil tangannya coba mengambil buket bunga itu untuk memperhatikan bunga apa yang hari ini Revan kirim untuknya. Tangan Aluna bergerak mengambil surat yang terselip, hanya untuk sekedar memastikan kalau ini memang dari Revan, walaupun Aluna sudah sangat yakin. Tidak ada orang lain yang suka mengirimkannya bunga seperti ini. Namun ada yang berbeda hari ini, surat yang biasanya hanya tertulis Mr.R, kini menampilkan sebuah pesan untuk Aluna. ‘Jika harimu berat dan ada sesuatu yang ingin diceritakan, kamu masih bisa menghubungiku. Jangan hanya mengirim pesan untuk menyuruhku berhenti mengirimkan bunga. Aku akan selalu seperti ini sampai kita bisa bertemu kembali’ Sambil masih memegang kertas surat, mata Aluna memperhatikan buket bunga di depannya lagi, “dia pasti berhasil memikat banyak perempuan dengan cara ini. Sayang sekali sepertinya ini tidak akan berhasil untukku Mr.Revan, jangan terlalu menyibukkan diri denganku.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD