“Papa ayo, katanya mau pulang?” seorang gadis berambut ikal sebahu mengintip dari balik pintu ruangan.
“Iya ini papa lagi siap siap,” jawab lelaki berwajah sangat teduh itu sambil tersenyum.
“Bilangnya siap-siap tapi kalau ga disamperin biasanya ga akan selesai,” ujar Aluna lagi memutuskan tidak hanya mengintip namun benar-benar masuk menghampiri sang ayah.
Pak Damar tertawa kecil sambil masih coba mengecek sesuatu di tablet yang ada di atas meja, “sayang, kamu tadi sempat baca email yang papa kirim?”
Aluna duduk di kursi depan papanya sambil mengangguk, “ya, aku udah baca. Ide bagus, kita bisa lanjutin.”
“Kalau dari kamu sudah setuju, papa sih bakal percaya diri banget.”
Aluna terkekeh mendengar respon papanya yang terlihat lucu, “kalau dari papa juga semangat banget, aku sih pasti support aja.”
“Ngomong-ngomong kamu ga jadi ambil cuti? Kayanya udah lama deh dari terakhir kali katanya kamu mau cuti.”
Aluna menggeleng, “nanti-nanti aja deh, lagi ga pengen kemana-mana.”
“Jangan kerja mulu, kamu harus nikmatin hidup juga dong sayang. Bahkan untuk sekedar main sama teman aja.”
Aluna mengangguk kecil sambil ikut bergerak membantu papanya membereskan meja kerjanya, “papa inget ga beberapa waktu lalu perusahaan Pak Surya Ardana coba ngajuin kerja sama dengan kita?”
“Inget, kenapa?”
“Papa jadi pertimbangin ya?”
Papa menggeleng, “kan kata kamu jangan dulu? Lagian mereka udah ga gencar lagi coba nego sama kita, kayanya udah nyerah.”
Aluna mengernyitkan dahinya bingung, “serius?”
“Iya, kalaupun papa pertimbangin papa pasti bilang kamu dulu lah. Memangnya kenapa?”
“Hm.., bukan apa-apa, aku cuma keinget. Yaudah yuk kita pulang.”
**
Malam ini Aluna duduk di kursi kamarnya sambil memperhatikan beberapa pesan masuk yang belum ia balas sama sekali. Sudah beberapa hari belakangan ada yang menghubunginya dan mengaku sebagai pengurus perusahaan Ardana. Dan setelah tadi ia pastikan langsung pada papanya, mereka jelas-jelas tidak memiliki urusan apapun karena kerja sama yang diajukan tidak diterima oleh perusahaan.
Sebenarnya perusahaan mempertimbangkan untuk menerima kerja sama tersebut, namun dari Aluna sendiri tidak yakin. Perusahaan infrastruktur sebesar Ardana, Aluna tidak yakin benar-benar akan menggunakan sumber daya terbarukan. Kebanyakan dari pengalaman Aluna sebelumnya, perusahaan seperti mereka hanya melakukan kerja sama untuk manipulasi atau kemudahan perijinan proyek saja. Bagi Aluna akan lebih baik menghindari kerja sama demikian dan fokus pada pihak yang benar-benar ingin bekerja sama secara jelas dan transparan demi mempertahankan nilai-nilai perusahaan.
Aluna memutuskan untuk mengabaikan pesan tersebut dan beralih ingin menghibur diri dengan membuka sosial media miliknya. Aluna juga dibuat kaget karena ada notifikasi permintaan pesan dari sebuah akun yang masih mengaku dari perusahaan Ardana.
“Darius Revan Ardana?” Aluna membaca nama akun dan coba mengeceknya.
Mata Aluna memperhatikan dengan detail akun tersebut yang membuatnya bisa mengambil kesimpulan bahwa ini benar-benar Darius Revan Ardana, anak dari pimpinan perusahaan Ardana.
“Apa yang membuatnya begitu gencar menghubungiku?”
Menyadari seberapa gencarnya Revan coba menghubunginya, membuat Aluna memutuskan membalas untuk sekedar menunjukkan sikap baik ke sesama pebisnis.
Dari: Aluna
Benar, dengan Aluna disini.
Kepada: Aluna
Kamu tampaknya sangat sibuk hingga baru bisa membalas
Dari: Aluna
Tentu kamu juga sama sibuknya.
Kepada: Aluna
Jika ada waktu mungkin kita bisa bertemu untuk mengobrol
Dari: Aluna
Apakah ini terkait tawaran kerja sama sebelumnya?
Kepada: Aluna
Ah tidak, mungkin kita bisa lebih santai
Dari: Aluna
Ya, mungkin lain waktu.
Kepada: Aluna
Besok? Aku bisa kapanpun kamu ada waktu.
Aluna berhenti untuk membalas pesan tersebut karena membuatnya tidak nyaman. Menghubunginya tanpa ada tujuan yang jelas benar-benar membuat Aluna merasa risih apalagi diakhir dia terkesan memaksa untuk bertemu.
“Untuk sekelas putra dari Pak Surya Ardana, dia terlalu mencurigakan.” Ujar Aluna memutuskan benar-benar menyudahi chat dengan Revan dan berniat tidak akan meladeni lagi jika tidak benar-benar penting. Bahkan sepertinya tidak akan lagi.
*
“Dia kok ga bales chat gue lagi sih?” Revan tiba-tiba menggerutu yang menarik perhatian Gavin yang tengah mengendarai mobil.
“Siapa?”
“Aluna, baru aja gue seneng dia bales. Abis itu gue dighosting.”
“Coba sini gue lihat.” Gavin bergerak mengambil handphone Revan untuk membaca pesan antara Revan dan Aluna.
Setelah membaca balasan pesan tersebut Gavin mengembalikan heandphone Revan sambil tertawa, “Ya lo lagian chat nya begitu.”
“Lah? Dimana letak salahnya? Gue udah sopan banget itu.”
“Lo harusnya bisa baca kalau Aluna masih bingung lo ngapain chat dia, lo main gas maksa ketemu aja.”
“Ya makanya ketemu biar ga bingung.”
Gavin menghembuskan napas lelah, “lo kalau deketin cewek biasanya gimana si?”
“Gue ga pernah gerak deketin, kan selalu cewek yang pengen deket duluan sama gue.”
“Iya deh siap, si paling inceran para wanita.”
“Tampaknya kalau caranya pelan gini ga bakal bisa sih, gue harus nyamperin Aluna langsung aja. Sekalian gue mau lihat langsung gimana sih bentukan aslinya ni orang.”
“Gue pernah ketemu langsung sekali, cakep sih. Auranya mahal gitu, ramah tapi kaya yang susah disentuh. Kaya punya dinding yang tidak terlihat. Semoga setelah ketemu langsung lo ga auto mundur.”
Revan tertawa sinis, “Gue? Mundur? Dia belum ketemu sama gue aja, ketemu sekali pasti dia juga suka sama gue. Secara tampang gue oke kan?”
“Cobain aja deh.”
***
Siang ini Aluna berdiri cukup lama memperhatikan pilihan minuman yang tertera di depan karyawan kedai kopi di sekitar kantornya. Mata bulatnya bergerak kiri kanan sambil satu tangannya memegang dagu, seolah-olah ini adalah pilihan penting yang akan menentukan moodnya hingga hari ini berakhir.
“Ah, aku harus kurangi kafein,” Aluna bicara pelan pada dirinya sendiri.
“Sepertinya aku juga,” tiba-tiba juga terdengar suara asing dari lelaki berbadan tinggi yang ada disamping Aluna.
Aluna melihat dengan kepala sedikit mendongak untuk mengenali, namun berakhir dirinya mengernyitkan dahi karena sama sekali tidak bisa mengenali.
“Iced choco almond dan cheese cake-nya satu ya, dine in.” dengan cepat Aluna memesan.
“Dan hot dark chocolate-nya satu, jadiin satu pesanan ya mbak.”
Aluna masih terdiam coba mencerna apa yang sedang terjadi karena lelaki ini dengan santai membayar semua pesanan.
“Kamu duduk dulu aja, nanti aku yang bawain pesanannya,” pria itu bicara santai seolah mereka adalah dua orang yang saling kenal dan memang berniat untuk nongkrong bersama.
Karena tidak ingin berlama-lama dan di belakang mereka juga sudah ada orang lain yang ingin memesan, Aluna langsung pergi ke salah satu meja yang kosong dengan bingung sambil dirinya terus memperhatikan pria yang tengah menunggu di depan tempat pick up orderan dan kini berjalan ke arahnya. Pria yang tampan, namun asing bagi Aluna.
“Silahkan,” pria itu meletakkan pesanan mereka di atas meja dan kini duduk berhadapan dengan Aluna sambil menyesap minuman miliknya.
“Revan?” Aluna akhirnya mulai menebak siapa manusia yang ada dihadapannya sekarang.
Senyum lebar langsung hadir di wajah pria berkulit cerah itu, “aku tahu kalau kamu akan mengenaliku dengan baik. Senang bisa bertemu denganmu, Aluna.”
Aluna merasa bingung bagaimana seharusnya ia merespon Revan. Revan tertawa karena Aluna hanya diam, bahkan juga tidak menyentuh makanan atau minuman miliknya, “tidak usah bingung, aku hanya ingin berkenalan dengan baik saja.” Revan mendorong minuman Aluna semakin dekat ke gadis itu sebagai isyarat agar Aluna bisa lebih santai.
“Okey, aku harus sampaikan dari awal, jika maksudmu sekarang untuk mempermudah niat kerja sama, ini tidak akan ada gunanya. Aku tidak memiliki pengaruh apapun.” Aluna yang awalnya ragu kini memberanikan diri menyampaikan tebakannya kenapa Revan berusaha berkenalan dengannya.
“Wow, tebakanmu terlalu to the point dan di sisi lain kamu berusaha untuk terlihat rendah hati.”
“Aku tidak ingin berusaha memperlihatkan apapun, aku hanya menyampaikan sesuatu yang harus kamu tahu sejak awal.” Aluna mulai berusaha menegaskan karena ia merasa tingkah Revan sangat janggal.
“Setelah ini kita bisa bertemu lagi?”
“Untuk apa??”
“Kalau aku bilang untuk bisa mengenalmu lebih? Tentu ini bukan hal yang aneh saat seorang pria tertarik pada seorang wanita dan menyampaikannya secara langsung, kan?”
Aluna benar-benar dibuat kehilangan kata-kata oleh Revan. Dia belum menyiapkan diri bertemu dengan keadaan seperti ini, dia belum pernah mengalami situasi seperti ini sebelumnya. Dan memanngnya siapa yang ingin berada di situasi seperti ini?
“Aku tahu ini jam istirahatmu, aku harap ini jadi awal yang baik untuk kita. Sampai jumpa di pertemuan berikutnya.” Revan bergerak mengambil minumannya dan berdiri, sebelum pergi ia meninggalkan senyuman penuh makna untuk Aluna. Namun bukannya terkesima, ini malah membuat Aluna khawatir.
“Aku tidak pernah menyangka putra keluarga Ardana seaneh itu.”