Pintu ruangan pimpinan utama terbuka dengan kasar menunjukkan wajah seorang pria muda yang tampak akan mengacak-acak apapun yang ada dihadapannya. Bahkan ia juga menutup pintu dengan cara dibanting yang membuat pria berusia hampir enam puluhan yang duduk di belakang meja menghela napas panjang bersiap menerima amarah dari lelaki itu.
“Ini benar-benar tidak masuk akal! Kenapa tiba-tiba keputusannya menjadi seperti itu?”
“Apakah papa perlu menjelaskan kembali isi rapat yang tadi sudah disampaikan?” Pak Surya mencoba menanggapi kemarahan sang anak dengan nada bicara tetap tenang.
“Ya papa pikir aja! Bayangin kalau Andreas yang mimpin perusahaan ini, untuk proyek kecil aja selama ini dia ga bisa urus. Ga becus!”
Pak Surya menghembuskan napas pendek, “kamu juga coba pikir, disaat perusahaan semakin besar dan menjadi perhatian publik, perusahaan ini dipimpin oleh seseorang yang sangat arogan dan memiliki emosi tidak terkendali seperti kamu, Darius Revan Ardana.”
“Terus apa gunanya semua usahaku selama ini? Ini benar-benar tidak adil, membandingkan aku dengan Andreas, sungguh kegilaan yang tidak pernah aku bayangkan. Aku tidak hanya bermodalkan anak tunggal dari seorang Surya Ardana, tapi aku menunjukkan kinerja terbaik! ” Revan terus menunjukkan respon tidak terima dengan hasil rapat direksi yang menyatakan bahwa namanya dipertimbangkan naik untuk penjadi pimpinan utama selanjutnya setelah nanti ayahnya turun dari jabatan, nama sepupunya malah muncul menjadi kandidat terkuat.
“Papa dan mama sudah sering peringatkan kamu dari awal untuk bisa bersikap lebih baik, tapi kamu sendiri yang tidak mau mendengarkan. Sekarang papa juga tidak bisa apa-apa.”
Revan terus geleng-geleng kepala dengan raut wajah kesal, “semua orang memang sudah gila.”
“Setidaknya kamu masih punya waktu untuk berusaha, ini belum keputusan final. Sampai nanti saat waktu final pemilihan, kamu masih bisa menunjukkan jika kamu memang pantas untuk naik dengan kecerdasanmu yang diimbangi emosi dan sikap yang baik.”
“Terserah! Kalau memang ingin si bodoh itu silahkan saja! Aku akan saksikan kehancuran perusahaan ini!”
“Van, kita butuh pimpinan yang memiliki citra baik dan tenang. Terkait keputusan dan kebijakan yang nanti diambil selaku pimpinan, itu bisa didiskusikan bersama. Kita tidak perlu orang yang hanya merasa cerdas sendiri namun tidak menghargai orang lain. Walaupun kamu anak papa satu-satunya, papa juga tidak akan biarkan kamu memegang kekuasaan besar selagi sikapmu masih seperti ini.”
Revan menatap papanya dengan sedikit kaget namun rasa kesal masih menyelimuti dirinya. Dia tidak lagi menjawab, dia memutuskan untuk beranjak pergi dengan masih meninggalkan aura kemarahan di ruangan itu yang membuat Pak Surya hanya geleng kepala. Sangat sulit bicara dengan Revan yang keras kepala.
*
“Mas mau kemana?” Gavin selaku asisten Revan kebingungan melihat atasannya itu berjalan dengan langkah marah keluar dari ruangan Pak Surya sambil sesekali menendang asal ke apapun yang ia pikir mengganggu langkahnya. Orang-orang yang berpapasan dengan mereka pun lebih memilih seolah tidak melihat daripada seolah mencari perkara dengan Revan.
“Lo pikir deh, gila aja kan tiba-tiba nama Andreas muncul! Ini kantor udah bener-bener ga waras!” Revan bicara lagi setelah ia kini sudah ada di area parkiran dan masuk ke dalam mobilnya diikuti oleh Gavin langsung siap sedia di bangku kemudi.
“Tapi mau gimana mas, kan Mas Revan udah diingetin dari awal, emang dari awal udah ada sinyal kalau bisa aja Mas Revan bukan kandidat tunggal.”
“Tapi apa gue pernah bikin hal yang ngerugiin kantor? Semua keputusan yang gue ambil tepat, liat deh kemajuan kantor semenjak gue aktif ambil peran. Emang pemikirannya pada kolot! Ini pasti gara-gara gue selalu ga sepemahaman sama orang-orang tua yang sangat gila hormat itu.”
Gavin menggaruk kepalanya bingung, karena ia paham sekali mengenai sudut pandang hasil keputusan sidang direksi, namun di sisi lain ia harus menghadapi Revan yang meledak-ledak dan sebenarnya ia juga paham pola pikir serta pola kerja Revan.
“Mas, saya ada kepikiran cara agar mas bisa jadi kandidat kuat lagi, tapi kayanya mas lagi emosi banget, mas butuh nenangin diri dulu sebelum saya ajak ngobrol.” Hati-hati sekali Gavin bicara pada Revan.
“Yaudah kita open table.”
Gavin langsung menggeleng karena paham maksud Revan yang sepertinya ingin menghibur dirinya dengan mabuk, “mas ini masih terlalu terang, belum ada bar yang buka.”
Revan mendecak kesal, “yaudah ke apartemen aja minumnya.”
“Yang lain aja ya mas, besok mas masih harus ke kantor pagi banget.” Gavin tetap coba menahan karena ia tahu sekali kalau sedang marah seperti sekarang Revan bisa minum alkohol dengan gila-gilaan dan itu akan berbahaya jika besok ia masih harus berurusan dengan pekerjaan.
“Gue ga peduli! Siapa juga yang bilang kalau besok gue masih mau ke kantor? Toh gue ga dibutuhin juga kan katanya!” Revan sebenarnya sangat tidak terima dengan ucapan papanya tadi di ruangan.
“Tapi mas…”
“Kalau lo ga mau nemenin yaudah gue sendiri!”
“Baiklah…”
*
Tebakan Gavin ternyata salah, awalnya dia berpikir setelah sampai apartemen Revan akan minum dan mabuk secara gila-gilaan seperti biasanya kalau ia sedang marah atau ada masalah. Namun Revan hanya meminum sedikit lalu terdiam tanpa bicara apapun. Lelaki itu duduk bersandar di sofa dengan tatapan mata yang kosong.
“Lo bilang, lo tadi punya cara,” Revan akhirnya bersuara. Gavin pun dari tadi hanya diam menunggu Revan yang membuka obrolan terlebih dahulu.
“Sebenarnya yang dibilang Pak Surya udah bener, lo tinggal nunjukin perubahan sikap jadi lebih tenang aja, cuma itu yang dibutuhin. Tapi gue tahu itu bakal sulit banget buat seorang Revan berubah dengan cepat.” Ucap Gavin sudah dalam mode santai. Selain bertugas sebagai asisten, Gavin sudah seperti sahabat sekaligus saudara bagi Revan. Sesuai permintaan Revan, di luar kantor Gavin bisa bersikap santai padanya.
“Toh kalaupun gue tiba-tiba berubah itu akan aneh banget, dan semua orang juga pasti tahu gue berubah cuma gara-gara gertakan direksi. Harga diri gue berasa dimainin disini.”
Gavin terkekeh karena dia tahu kalau revan menganggap ini sebagai sebuah gertakan, dan kalau ia mengikuti alur ini, ia seperti menjatuhkan harga dirinya yang selama ini sangat tinggi.
“Jadi apa ide lo?” tanya Revan lagi.
“Gunain keahlian lo. Lo tunjukin kalau kehebatan lo ga main-main. Inget proyek besar bareng pemerintah yang mandat ga? Kalau lo bisa gerakin proyek itu, udah pasti semua bakal ngakuin kehebatan lo.”
Revan mengernyitkan dahi, “proyek yang papa pegang?”
Gavin mengangguk, “itu terkendala karena usaha kerja sama dengan perusahaan sumber daya terbarukannya sangat sulit. Itu udah diusahain berulang-ulang tetep aja gagal.”
“Lo yakin gue bisa?”
“Ini cuma karena lo belum pernah liat proyek itu, setidaknya lo coba dulu aja. Gue yakin persoalan kaya gini selesai di tangan lo.”
“Gue pernah denger, dan itu terdengar sangat idealis dan membosankan. Takutnya gue udah usahain tetep aja ga ngaruh ke masalah gue ini.” Revan tampaknya tidak tertarik dengan ide yang disampaikan oleh Gavin.
“Gue pernah ditugasin Pak Surya nyari tahu sebuah perusahaan target kerja sama kita dan gue menemukan hal menarik yang menurut gue bisa lo coba. Tapi gue mau ingetin dulu kalau ini ide yang pasti terkesan gila dan aneh, tapi setidaknya gue coba sampain dulu.
Wajah Revan yang tadi sudah menunjukkan tidak tertarik berubah penasaran, “sebuah ide gila dari seorang Gavin, artinya ini benar-benar gila, tapi ayo gue dengerin dulu.”
“Pak Surya beneran mau kerja sama dengan perusahaan Pak Damar Adi Wijaya, memiliki branding dan citra yang sangat bagus di semua kalangan. Gue nyari tahu alasan utama kenapa negosiasi kita selalu gagal. Ternyata gue nemuin satu nama yang sepertinya otak dari setiap kebijakan perusahaan tapi tidak begitu terlihat yaitu anaknya Pak Damar. Kalau kita bisa deketin dia kayanya jalan kita akan lebih mudah.”
“Anaknya?” Revan bergumam kecil.
Gavin mengangguk, “kalau digambarin posisinya kaya lo di perusahaan, anak pimpinan yang idealis tapi bedanya dia kuat tapi tidak terlalu ingin terlihat dan citranya sangat bagus. Pergerakannya sangat tenang, ga kaya lo.”
Revan tertawa meledek, “maksud lo dia seperti karakter protagonis dan gue antagonisnya? Gue yakin banget cowok kaya gitu ga bener-bener baik, tapi licik.”
“Cowok? Anaknya Pak Damar itu cewek, namanya Aluna.” Gavin memberi tahu fakta yang membuat Revan agak terkaget.
“Hah?”
“Nah, ide gilanya adalah kalau lo berhasil deketin Aluna secara personal, citra buruk lo benar-benar akan langsung bersih. Dan disaat bersamaan jika lo juga berhasil buat perusahaan kita dan perusahaan Aluna kerja sama, ga ada apapun alasan untuk ngehalangin lo dapetin posisi pimpinan utama yang udah lo usahain selama ini.”
Revan geleng-geleng kepada mendengarkan ide Gavin, “ide lo kacau sih Vin.”
“Sorry, gue kayanya kebanyakan nyari tahu perusahaan Pak Damar jadi malah kesannya obsess. Anggap gue ga pernah nyampein ide ini ke lo.”
Revan menepuk bahu Gavin dan menunjukkan wajah serius, “Tapi Aluna belum punya pasangan?”
“Sejauh yang gue tahu ga ada.”
“Makasih ide gilanya, gue bakal coba.”
“Hah? Lo yakin Van?”Gavin masih tidak percaya jika Revan malah menerima ide nya.
“Gue ga mau kehilangan sesuatu yang sudah jelas harusnya buat gue!"