Begal!

1112 Words
Sosok bertubuh tegap itu terus saja mengejar Dinda. Dengan sebilah pisau di tangan, ia berlari melewati jalanan sempit yang diapit tembok tinggi. Dinda yang sudah kelelahan ditambah luka memar di bagian wajah, meringis kesakitan sembari terus menambah kecepatan. Larinya memang tak secepat pemuda di belakang. Namun, ia tidak putus asa dan terus berusaha melarikan diri. “Woy, berhenti!” Teriak pemuda itu. Dinda tak berani menoleh, dia tetap melaju tanpa memedulikan teriakan di belakangnya. Malam itu, Dinda, siswi kelas 12 sekolah menengah atas, baru saja pulang mengerjakan tugas kelompok di rumah Wiwi, sahabatnya. Dia dihadang oleh seorang preman di jalan dekat rumahnya. Preman itu menarik tangan dan mendorong tubuh Dinda ke dinding. Bogem mentah pun berhasil mendarat di pelipis kanan lantaran Dinda menolak memberikannya sejumlah uang. “Tolong, tolong!” teriak Dinda di tengah rasa sakit. Sesekali ia menoleh ke belakang untuk memastikan jarak antara dirinya dengan si preman masih terpantau aman. Sayang, suara teriakan Dinda hanya sebatas kidung di kegelapan malam. Sekeras apa pun ia berteriak, nyatanya tidak ada orang yang mendengar. Jalan setapak itu memang jauh dari pemukiman warga. Minimnya penerangan, menambah kesan sunyi terlebih pada malam hari. Dinda mulai menyesali keputusannya melewati jalan itu. Seharusnya ia dengar nasehat Wiwi yang menyuruhnya pulang lewat depan kompleks saja. Meskipun harus memutar arah sejauh tiga ratus meter, setidaknya jalan itu ramai dan aman karena banyak kendaraan dan orang berlalu lalang. Suara napas Dinda sudah tak lagi beraturan. Gadis itu berusaha lari secepat mungkin untuk bisa sampai ke ujung jalan dan meminta pertolongan kepada warga. Sementara preman bertato ular di bagian tengkuk itu semakin dekat, dia mengayunkan tangan hingga ujung pisau lipatnya berhasil merobek jaket jeans yang Dinda kenakan. “Aaargh!” Dinda menjerit. Beruntung jaketnya lumayan tebal sehingga pisau tak sampai merobek terlalu dalam kulit bagian punggungnya. Namun, tetap saja Dinda merasa perih. Dinda terus berlari tanpa merasakan lukanya. Kondisi jalan yang gelap dan berbatu, membuat Dinda tidak mampu mengontrol langkah dan akhirnya terpeleset lalu jatuh tersungkur. “Udah gue bilang gak usah lari! Lu tinggal serahin HP sama kalung yang lu pakai ke gue,” kelakar pemuda yang sedang mabuk berat itu sambil terus memutar-mutar pisau di depan wajah Dinda. Dinda yang kesakitan, berusaha keras untuk bangkit meskipun kaki kanannya terkilir. “Ampun, Bang. Jangan apa-apain saya. Saya Cuma mau pulang.” Terisak Dinda mengatakan hal itu. Air mata mengalir melewati pipinya yang penuh debu. “Udah cepat, sini HP-nya!” Preman itu tak mau kalah. Dia semakin berani menempelkan mata pisau ke dagu Dinda yang runcing. Degup jantung Dinda berhenti persekian detik. Gadis itu merasa kematian sudah sangat dekat saat benda tajam itu menari-nari di sekitar wajahnya. Dinda tak berani menolak, pun mengiyakan. Dia berada dalam situasi yang sama-sama merugikan jika memilih. Tangan kanannya sudah bergerak merogoh saku jaket untuk mengambil ponsel dan melepaskan kalung. Akan tetapi, hati terdalamnya menolak memberikan benda-benda itu karena ingat pesan sang bapak beberapa waktu lalu. “Din, Bapak mau pinjam kalung sama HP-mu buat tambahan modal. Boleh, kan! Bapak janji tidak sampai satu bulan, semuanya akan bapak ganti dengan yang baru.” Kalimat itu terus terngiang-ngiang di telinga Dinda dan semakin membuatnya ragu mengambil keputusan. “Udah, cepetan sini! Lama!” Si preman gegas menarik kalung Dinda hingga terlepas. Dia juga dengan kurang ajar memasukkan tangannya ke dalam saku jaket Dinda dan mengambil sejumlah uang. “Nah, lumayan ini buat nambah sebotol lagi.” Preman mengecup tiga lembar uang pecahan lima puluh ribu, lalu menenggak sisa minuman yang masih dalam genggaman. Melihat sosok di depannya mulai lengah, Dinda mengambil kesempatan melarikan diri. Gadis itu segera bangkit dan kembali berlari. Sementara si preman, justru terhuyung sempoyongan tak sanggup mengejar. Sesampainya di ujung jalan, Dinda berhenti dan menatap ke sekeliling areal kompleks perumahan. Seluruh pintu rumah warga tertutup rapat. Sejauh mata memandang, tidak ada satu pun orang yang masih berada di luar, mau pun yang berlalu lalang di jalan. Dinda kembali menoleh ke arah gang sempit dan gelap yang baru saja ia lalui. Dia merasa yakin preman itu tidak akan berani mengejarnya sampai ke sini. Sambil melangkah pelan, Dinda mengambil ponselnya untuk melihat jam. “Fiuh! Untung aja HP-ku gak diambil.” Dinda menghela napas, mengeratkan genggaman benda pipih di tangannya. Dinda segera mengecek ponsel yang sempat bergetar beberapa kali ketika ia berlari. Jam digital di layar menunjukkan pukul 22.45, pantas saja tidak ada satu pun orang yang tertangkap mata. Portal di depan kompleks pasti sudah ditutup oleh penjaga. Para pengendara atau pedagang dari luar, tidak mungkin bisa masuk ke areal perumahan. Hanya tersisa beberapa meter lagi untuk Dinda sampai ke rumah. Namun, satu pemandangan tak mengenakkan langsung menyambut dan semakin membuat Dinda takut. “Pergi sana! Jangan coba-coba pulang kalau gak bawa uang.” Suara teriakan Ratna, ibu Dinda, terdengar jelas meski dari jarak dua rumah. Sementara di depan pagar, tampak Harto, bapak Dinda, sedang berdiri menghadap pintu sambil menenteng satu tas besar di tangan. Dinda tidak berani melanjutkan langkah. Dia hanya bergeming di balik tanaman hias tetangga dengan tubuh gemetar dan perut lapar. Matanya berkaca-kaca melihat Harto pergi berjalan kaki. Dinda sangat ingin berlari memeluk bapaknya, tetapi jika melihat kondisinya sekarang, Harto pasti akan semakin terpukul. “Enggak! Aku gak akan bilang apa-apa ke Bapak. Aku gak mau bapak bertambah khawatir dengan keadaanku sekarang. Cukup Bapak merasa sakit hati dengan hinaan ibu setiap hari, tapi tidak karena ku” Dinda berkata pelan dengan mulut yang ditutup kedua tangan. Setelah tubuh Harto menghilang di ujung jalan, Dinda keluar dari persembunyian dan berjalan menuju rumah. Dinda gegas memakai kaca mata dan masker untuk menutupi luka-lukanya dari sang ibu. “Assalamualaikum!” ucap Dinda ketika pintu berhasil dibuka. Hening, tidak ada jawaban dari dalam. Dinda masuk dan langsung mematikan lampu ruang tamu yang masih menyala. Perasaan aneh pun langsung bergelayut, Dinda lantas mengedarkan pandangan demi mencari ibu yang belum lama masuk setelah mengusir sang bapak. “Sepi banget?” Dinda mengerutkan kening. Tidak ada respons dari sang ibu membuat Dinda sedikit bernapas lega. Dinda sudah menerka-nerka, apa yang akan terjadi jika Rita tahu bahwa dirinya habis dijambret preman. Dinda takut dimarahi. Rita pasti mengamuk jika uang yang harusnya dipakai untuk membayar SPP dua bulan, malah raib berpindah tangan. Dinda melangkah ke kamar dengan cepat, menaruh tas, lalu mengganti pakaian dengan piama. Tubuh mungilnya diempaskan di atas kasur. Setidaknya malam ini, dia aman dari amukan sang ibu. Sementara itu di dalam kamarnya, Rita tampak asyik mengobrol dengan seseorang di seberang telepon. Wajahnya terlihat begitu bersemangat. Sesekali ia tertawa kecil, lalu menutup mulut seperti takut seseorang mendengar percakapannya. “Kerja bagus! Kamu bisa ambil uang 300 ribu itu untuk upah. Nanti, aku akan beri tugas lagi jika waktunya sudah tiba.” Ini adalah ucapan terakhir Rita sebelum menutup telepon.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD