Bab 2
Keesokan harinya, Dinda berangkat ke sekolah pagi-pagi sekali sebelum Rita bangun. Lebam di wajah dengan mudah ditutupi masker, tetapi tidak dengan luka di pelipis matanya. Alasan telah Dinda persiapkan sejak semalam, takut bila ada yang penasaran dari mana dirinya bisa mendapatkan luka tersebut.
Waktu menuju sekolah sedikit terulur lantaran Dinda tidak menumpang angkutan umum. Dia memilih berjalan kaki melewati gang sempit semalam. Di pagi hari, jalan itu ramai oleh orang berlalu lalang. Dinda ingin mengambil kesempatan untuk menyelidiki siapa preman yang mengejarnya semalam.
Banyak pelajaran dan pegawai yang berpapasan dengan Dinda ketika melewati jalan itu. Sebuah tiang listrik di sisi kana jalan, mengingatkan Dinda akan pukulan di wajahnya. Dinda ingat pemuda itu memiliki tato ular di lengan. Jika pagi ini Dinda melihat orang yang sama, dia sudah punya rencana untuk meneriaki dan meminta bantuan warga untuk melapor ke polisi.
Nihil. Sampai tiba di jalan utama, Dinda tak melihat satu orang pun yang postur tubuh dan penampilannya mirip preman semalam. Dinda sempat melewati pos kecil tempat preman itu berkumpul dengan teman-temannya. Namun, tidak satu orang pun duduk di sana untuk dimintai keterangan.
Merasa usahanya sia-sia, Dinda memilih untuk tak lagi memedulikan peristiwa semalam. Lagi pula, dia tidak punya cukup bukti untuk melapor ke polisi. Jika tidak ada saksi, bisa saja pelaku berkilah dan menggugat balik dirinya dengan alasan pencemaran nama baik.
Dengan berat hati, Dinda melanjutkan langkah menuju almamater tempatnya menimba ilmu. Pikirannya masih kalut ketika motor matic yang dikendarai oleh seorang pemuda, berhenti tepat di hadapannya.
“Ayo, naik!” titah Ryan—teman satu angkatan sekaligus sosok yang Dinda sukai selama tiga tahun ini.
Tentu saja Dinda terkejut. Dia belum sempat membuang muka ketika Ryan menunjuk ke arah pelipis kanannya.
“Mata kau kenapa?” Ryan menyipit setelah turun dari motor matic.
“E-enggak kenapa-kenapa, habis jatuh,” jawab Dinda dengan tangan refleks menutupi lukanya.
“Waduh. Hati-hati dong, Din.” Ryan menggeleng, menyayangkan. “Sini naik! Kita berangkat bareng.” Lantas mengajak Dinda untuk berangkat ke sekolah bersama.
Dinda menggeleng cepat. Membayangkan sosok Ryan saja, sudah membuatnya panas dingin, apalagi duduk berdekatan dengan pemuda itu? Dinda tidak mau salah tingkah nantinya. Pegangan pundak, atau pinggang, bahkan Dinda senyum-senyum sendiri membayangkan hal itu.
“Udah, naik!” Tak juga mendapat penerimaan, Ryan langsung menarik tangan Dinda dan membawanya ke jok belakang.
Dinda yang tidak siap dengan pertemuan ini, terpaksa menurut meskipun detak jantungnya terdengar seperti irama musik dangdut.
Seperti anak SD yang tidak mengerti apa itu safety, Dinda terus berpegangan pada ujung jok bagian belakang. Ryan tertawa kecil melihat tingkah Dinda. Pemuda itu malah sengaja memainkan rem dan gas hingga pukulan mendarat di bahu kanannya.
“Yang bener bawa motornya!” protes Dinda. Meski begitu, rasa sungkan masih mendominasi hingga dia tetap memilih memegang jok dari pada memegang pundak pengemudi.
“Pegangan makanya.”
“Enggak!” Ketus Dinda menjawabnya.
“Ck!” Ryan hanya berdesis menanggapi tingkah teman wanitanya yang keras kepala.
Sesampainya di gerbang sekolah, Dinda buru-buru turun dan masuk ke dalam. Ryan menggaruk-garuk kepala merasa aneh. Jangankan untuk jalan ke kelas bareng-bareng, sekadar mengucap terima kasih pun, Dinda sesungkan itu.
Dinda langsung bertemu Wiwi yang biasa menunggunya di pos security. Seperti halnya Ryan, Wiwi pun langsung mencecarnya dengan pertanyaan. Lagi, Dinda kembali berbohong dengan alasan jatuh hingga mendapati luka itu.
Dari kejauhan, dua sahabat itu melihat Ryan berjalan melewati gerbang. Sambil menyugar rambut yang sedikit acak-acakan, pemuda itu tersenyum dan melambai ke arah sekelompok siswa yang merupakan teman satu kelasnya.
"Cie ... Din, gebetanmu masuk sekolah, tuh!" Wiwi terus saja meledek dengan menyenggol-nyenggol bahu Dinda. Andai gadis itu tahu Dinda berangkat sekolah bersama Ryan, mungkin akan jadi orang yang paling ramai menyoraki.
"Apaan, si? Ryan itu masuk sekolah, bukan masuk neraka. Jadi, gak usah kaget!" sahut Dinda kesal.
Di sela perdebatan Wiwi dan Dinda, Ryan tiba-tiba hadir dan langsung menyela pembicaraan. "Lagi ngomongin aku, ya?" ucapnya memasang senyum tipis.
Kemunculan Ryan yang tiba-tiba tentu saja membuat Wiwi dan Dinda hilang muka. Mereka saling menyalahkan bahkan saling dorong. Entah Ryan mendengar percakapan mereka atau tidak, Wiwi dan Dinda tetap merasa tertangkap basah.
"Kagak, Bro! Kita lagi pada ngomongin Pak Slamet. Iya nggak, Din!" Wiwi berusaha bersikap biasa, berharap pemuda pemilik senyum mematikan itu tak curiga bahwa mereka benar-benar sedang membicarakannya. "Pak Slamet kok, mau ya, jadi satpam. Kenapa gak jadi power ranger aja, ya?" Wiwi lagi-lagi menyikut lengan sahabatnya kuat-kuat yang membuat Dinda terdorong menubruk Ryan.
"Ma-maaf!" Dinda beringsut mundur menjauhi pemuda itu. Berbanding terbalik dengan sosok di hadapannya, Ryan justru tak sedikit pun mengalihkan perhatian dari Dinda dengan sorot tajam dan senyum tertahan.
Wajah tampan tanpa cela itu adalah wajah yang selalu Dinda rindukan di akhir pekan. Bagaimana tidak, di hari minggu sekolah libur, itu berarti nutrisi hati untuk membuatnya semangat belajar pun berkurang. Jika para siswa sangat menunggu hari libur, Dinda justru sangat membencinya.
"Udah, ah. Ayo masuk!" ajak Dinda. Dia menarik tangan Wiwi yang meremas plastik berisi es teh. Wiwi kaget. Es seribuan yang masih penuh pun jatuh.
"Ah, Dinda. Ganti seribu!" Wiwi berdecak kesal.
"Cuma seribu doang, kan? Entar aku beliin sama abang-abang ya."
"Ogah, abang-abangnya gak ganteng."
"Kamu mau yang ganteng?" Dinda mencondongkan wajah ke arah sang sahabat, lalu mendongak. "Tuh, ganteng!" ucapnya lantang sembari mengarahkan telunjuk ke atas.
"Astaga. Itu genteng, Dinda! Sejak kapan genteng jadi ganteng?" Wiwi mencubit pipi Dinda dan berlari meninggalkan gadis itu seorang diri, bersama Ryan lebih tepatnya.
"Sakit?" tanya Ryan yang hanya mematung menyaksikan kekonyolan dua sahabat itu.
"E-enggak. Aku duluan, ya!" Dinda buru-buru memalingkan wajah. Menurut gadis berhidung mungil itu, bertemu dengan Ryan adalah hal yang paling membuatnya takut. Bukan karena Ryan mirip Valak, tetapi karena gadis itu tidak mau Ryan menangkap basah kegugupannya.
Baru saja Dinda beranjak, genggaman tangan Ryan sontak membuatnya menghentikan gerak. Hati gadis itu terenyuh. Ada debaran kurang ajar yang terus menari-nari di rongga paru-paru bagian kiri. Debaran itu seperti sedang mengejeknya yang mulai gugup dan tak tahu harus bersikap seperti apa.
“Astaga! Kenapa Ryan pegang tangan aku di depan sekolah gini? Apa jangan-jangan, dia mau nembak aku?” tanya Dinda dalam hati. Leher Dinda tiba-tiba keram, tak mampu menoleh. Mungkin lantaran dia tak mau sosok yang kata teman-teman sekelas mirip Jungkook itu menyadari kegugupannya.
Getaran di tubuh gadis itu semakin tak keruan kala Ryan menarik tangan hingga tubuh mungil Dinda ikut terbawa. Meskipun enggan memalingkan badan, Dinda tetap bisa merasakan aroma parfum Ryan yang begitu lekat di indra penciumannya.
"Din!" panggil pemuda yang senang sekali memakai sweater rajut dengan nada lembut.
Bukannya menoleh, Dinda malah menutup rapat kedua matanya sambil bibir bergerak komat-kamit. "Bismillahirrahmanirrahim, Allahumma lakasumtu, wabika aamantu ... astagfirullah! Kenapa jadi doa buka puasa?" Gadis itu menepuk jidatnya berkali-kali. Alih-alih ingin melafalkan doa agar tidak gugup, tetapi malah nyasar ke doa yang lain.
Kegugupan Dinda makin menjadi-jadi mendengar suara Ryan yang seperti seruling sakti di telinganya.
"Aku harus jawab apa kalau Ryan beneran beneran nembak aku?"