"Hei, siapa yang menyuruhmu pergi? Aku menginginkanmu pagi ini!" suara berat Chris terdengar tegas, membuat Emma seketika mematung di tempatnya.
"Chris... aku harus bekerja," ucap Emma berusaha mencari alasan, meski ia tahu itu tak akan mempan untuk pria yang tengah memandangnya dengan tatapan predator.
Chris menyeringai, bibirnya melengkung ke atas penuh kesombongan. "Kau lupa, Em? Aku adalah bosmu. Jadi, jika aku memintamu tetap di sini pagi ini, kau tidak punya pilihan selain menurut."
Emma mengepalkan tangannya, menahan diri untuk tidak berteriak frustrasi. Bagaimana mungkin hidupnya berubah drastis sejak pria ini masuk ke dalamnya? Ia tak pernah menyangka akan berada di situasi seperti ini di bawah kuasa Chris, pria yang sulit dipahami, namun entah bagaimana, membuatnya terjebak dalam jaring pesonanya.
Chris bangkit dari tempat tidur, selimut melorot, memperlihatkan tubuh atletisnya yang membuat Emma buru-buru memalingkan wajah. "Masih pemalu, ya?" goda Chris sambil berjalan mendekatinya.
"Chris, jangan mendekat!" sergah Emma, mundur beberapa langkah. Tapi sayangnya, ia lupa jika ia masih tidak mengenakan apa-apa, dan gerakan itu justru membuat tubuhnya terlihat semakin jelas di mata pria di depannya.
Chris tertawa kecil, suaranya dalam dan menenangkan, tapi tetap saja, ada aura d******i yang membuat Emma merasa seperti mangsa yang tak berdaya. "Emma, berhenti mencoba melarikan diri. Bukankah sudah kubilang, kau adalah milikku?"
Emma ingin membantah, tapi tubuhnya membeku ketika Chris mendekat, mengulurkan tangan dan menyentuh pipinya dengan lembut. "Aku tidak pernah membayangkan bahwa seorang wanita seperti kau bisa membuatku gila, Emma. Aku tidak tahu bagaimana caranya untuk tidak menginginkanmu."
Hati Emma berdegup kencang mendengar kalimat itu. Kata-kata Chris selalu membingungkan. Pria itu bisa bersikap manis di satu saat, tapi di saat lain, ia berubah menjadi sosok yang sulit dipahami. Seperti sekarang, ia merasa terjebak dalam pusaran perasaan yang tidak pernah ia duga sebelumnya.
"Chris, kau tidak bisa terus begini," ucap Emma pelan, mencoba mengendalikan diri. "Kau tidak bisa terus memaksakan kehendakmu."
Chris menyentuh dagunya, membuat Emma mendongak untuk menatap matanya. "Aku tidak pernah memaksakan apa pun padamu, Emma. Kau tahu itu." Tatapannya tajam, tapi ada kelembutan di sana yang membuat Emma merasa lemah.
"Kalau begitu, biarkan aku pergi," pinta Emma lirih. "Aku butuh waktu untuk berpikir. Semua ini terlalu cepat untukku."
Chris terdiam sesaat, tatapannya berubah serius. "Baiklah," ucapnya akhirnya, mengejutkan Emma. "Tapi, ingat satu hal. Aku tidak akan menyerah untuk mendapatkanmu, Emma. Jika kau ingin pergi, aku akan membiarkanmu. Tapi aku akan memastikan bahwa kau kembali padaku."
Emma menelan ludah, tidak tahu harus merasa lega atau takut dengan pernyataan itu. Ia hanya bisa mengangguk pelan, mengambil pakaian yang berserakan di lantai, dan berjalan menuju kamar mandi tanpa menoleh ke belakang.
---
Emma berdiri di depan cermin, menatap bayangannya yang tampak kusut. Matanya sedikit sembap karena kurang tidur, dan ada bekas merah di lehernya yang jelas tidak bisa disembunyikan. "Apa yang sudah kulakukan?" gumamnya pelan.
Ia meraih make-up pouch-nya, mencoba menutupi bekas itu sebaik mungkin. Namun, pikirannya terus melayang pada Chris dan apa yang pria itu katakan tadi. "Aku tidak akan menyerah untuk mendapatkanmu." Kata-kata itu terus terngiang di telinganya.
Ketika Emma keluar dari kamar mandi, ia mendapati Chris sudah berpakaian rapi, mengenakan setelan jas hitam yang membuatnya terlihat lebih berwibawa. Pria itu sedang duduk di sofa, memainkan ponselnya dengan santai.
"Aku harus pergi sekarang," ucap Emma, mencoba menghindari kontak mata.
Chris mengangkat wajahnya, menatapnya dengan tajam. "Kau pikir aku akan membiarkanmu pergi begitu saja?"
Emma memutar bola matanya. "Aku hanya akan pergi ke kantor, Chris. Bukankah itu yang seharusnya kulakukan?"
Chris berdiri, mendekatinya dengan langkah tenang tapi penuh determinasi. "Aku akan mengantarmu."
"Tidak perlu! Aku bisa pergi sendiri," tolak Emma cepat.
Namun, Chris hanya tersenyum tipis. "Emma, kau milikku. Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun mengambilmu dariku. Jadi, ayo kita pergi."
---
Perjalanan menuju kantor berlangsung dalam keheningan yang canggung. Emma duduk di kursi penumpang, menatap keluar jendela sambil menggigiti kuku jarinya kebiasaan lamanya saat merasa gugup.
Chris, yang duduk di belakang kemudi, meliriknya sekilas. "Kau terlihat tegang," komentarnya santai.
"Tidak," balas Emma cepat, meski jelas-jelas suaranya bergetar.
Chris tertawa kecil. "Kau tidak pandai berbohong, Emma."
Emma menghela napas, memilih untuk diam. Ia tidak ingin memulai percakapan yang bisa membuatnya semakin terjebak dalam hubungan aneh ini. Namun, ia tahu bahwa sikap Chris yang tenang ini adalah badai yang sedang menunggu waktu untuk meledak.
Ketika mobil berhenti di depan gedung kantor, Chris memutar tubuhnya menghadap Emma. "Ingat, aku akan selalu mengawasimu," ucapnya sebelum membuka pintu dan membiarkan Emma turun.
---
Hari itu berjalan seperti biasa, meski Emma merasa semua mata tertuju padanya. Mungkin itu hanya perasaannya saja, atau mungkin ada sesuatu pada dirinya yang membuat orang-orang memperhatikannya.
"Emma!" suara sahabatnya, Mia, membuyarkan lamunannya.
"Ya? Ada apa?" tanya Emma, mencoba terlihat normal.
"Kau baik-baik saja? Wajahmu terlihat merah," komentar Mia, menatapnya curiga.
Emma tersentak. "Aku baik-baik saja. Mungkin aku hanya lelah," jawabnya sambil tersenyum tipis.
Namun, Mia tidak begitu saja percaya. "Kau tidak menyembunyikan sesuatu dariku, kan?"
Emma menggeleng cepat. "Tidak, tentu saja tidak."
Mia mengangkat alis, jelas tidak yakin. Tapi sebelum ia sempat berkata lebih jauh, suara berat yang sangat dikenalnya terdengar dari belakang.
"Emma, ikut aku," perintah Chris, membuat seluruh yang ada di ruangan terdiam.
Emma menelan ludah, merasakan detak jantungnya meningkat. "Sekarang?"
"Ya. Sekarang," jawab Chris tegas, sebelum berbalik dan berjalan menuju ruangannya.
Mia menatap Emma dengan ekspresi tak percaya. "Itu... bos kita?"
Emma hanya bisa mengangguk pelan sebelum mengikuti Chris ke ruangannya, mencoba menenangkan dirinya yang panik.
---
Begitu pintu tertutup, Chris berbalik, menatap Emma dengan intensitas yang membuatnya sulit bernapas. "Apa yang kau pikirkan tadi? Kau terlihat seperti akan kabur dariku."
"Chris, aku hanya ingin menjalani hari dengan normal," jawab Emma, berusaha terdengar tegas.
Chris mendekatinya, menyudutkannya ke dinding. "Kau tidak akan pernah bisa menjalani hari yang normal, Emma. Tidak setelah apa yang terjadi di antara kita."
Emma menatapnya, mencoba membaca apa yang ada di pikirannya. Tapi seperti biasa, Chris adalah misteri yang sulit dipecahkan.
"Aku tidak akan melepaskanmu, Emma, jadi berhenti melarikan diri dariku," ucap Chris pelan tapi penuh ancaman.
Dan sebelum Emma menjawab, Chris sudah membungkuk dan mencium bibirnya lembut, namun menyiratkan ancaman.
Emma hanya bisa pasrah karena ia tidak bisa melarikan diri saat ini. Apalagi Chris adalah satu-satunya pria yang pernah menyentuhnya sedalam ini.