Jesi menghela napas panjang sebelum menatap Emma dengan sorot mata penuh simpati. "Aku selalu curiga dengan Claudia, Em. Cara dia menatap Carlos... terlalu akrab, terlalu intim. Tapi aku tidak ingin mengatakan apa-apa sebelum aku punya bukti, dan aku tidak ingin membuatmu khawatir tanpa alasan."
Kata-kata Jesi terasa seperti hantaman keras bagi Emma "Kenapa kamu tidak memberitahuku?" tanya Emma lirih, air matanya mulai menggenang di pelupuk matanya yang berwarna biru.
"Aku takut kamu tidak akan percaya, Em. Aku tidak ingin menghancurkan pernikahanmu hanya karena dugaan. Tapi ternyata..." Jesi menggenggam tangan Emma erat. "Aku sangat menyesal, Em."
Emma menundukkan kepala, perasaan marah dan kecewa bercampur menjadi satu. "Aku merasa seperti orang bodoh, Jes. Selama ini aku membiarkan mereka menghancurkan hidupku, di depan mataku sendiri."
"Kamu bukan orang bodoh, Em. Kamu mencintainya, itu saja. Cinta seringkali membuat kita buta terhadap kenyataan." Jesi memeluk Emma erat, memberi kehangatan yang begitu Emma butuhkan saat ini.
Setelah beberapa saat, Jesi menarik diri dan menatap Emma dengan tegas. "Kamu harus bangkit, Em. Jangan biarkan mereka menang. Kamu masih punya banyak hal yang bisa kamu lakukan dalam hidup ini."
Emma mengangguk pelan, mencoba menyerap kekuatan dari ucapan Jesi. "Aku akan mencoba, Jes. Tapi aku butuh waktu."
"Tentu saja, Em. Aku akan selalu ada untukmu, kapan pun kamu butuh."
Malam itu, Emma berusaha menghapus air mata dan menyusun rencana untuk memulai hidup baru. Besok, adalah hari pertama ia sebagai wanita yang bebas dari kebohongan dan pengkhianatan. Besok, Emma akan melangkah ke depan, meninggalkan luka ini di belakangnya.
---
"Terima kasih, Jes, kamu sudah membantuku selama ini," ucap Emma seraya memeluk Jesi sahabatnya.
"Aku sahabatmu, Em. Aku akan selalu mendukungmu."
Emma menaiki taksi yang dipesannya dan saat ini ia dalam perjalanan menuju Inggris. Keputusan Emma sudah bulat. Ia ingin meraih impiannya yang tertunda karena memilih menikah dengan Carlos.
Setelah menempuh perjalanan udara, akhirnya Emma tiba di London. Emma membeli sebuah apartemen sederhana di mana terdapat satu kamar yang tidak terlalu besar tapi cukup nyaman baginya.
Sebelumnya Emma telah mengirim resumenya di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang pemasaran. Sambil bekerja, Emma juga melanjutkan kuliahnya di salah satu universitas bergengsi di London. Emma memiliki simpanan uang yang ditinggalkan kakeknya sebelum beliau wafat. Awalnya, Emma ingin meniti perusahaan baru bersama Carlos dengan uang yang ditinggalkan kakeknya karena jumlahnya lumayan banyak. Tapi pengkhianatan yang diterimanya, membuatnya membatalkan rencananya tersebut.
Keesokan harinya, Emma memulai pekerjaannya sebagai bagian dari tim pemasaran di perusahaan tersebut. Hari pertama bekerja membuat Emma kelelahan karena harus beradaptasi dengan lingkungan pekerjaannya yang menurutnya penuh dengan drama karena ada saja yang tidak menyukainya.
Ini memang sangat lucu. Mereka belum mengenal Emma tapi sudah membencinya.
Saat istirahat makan siang, Emma sengaja makan di restoran yang berada dekat dengan perusahaan. Tapi ketika ia sedang mengantri di kasir, seorang wanita datang dan langsung menyerobotnya hingga ia hampir saja terjatuh jika tubuhnya tidak ditopang oleh sepasang tangan kekar. "Maaf," ucap Emma sambil menatap pria yang sedang berdiri di belakangnya sambil menatapnya dingin tanpa ekspresi apapun.
"Chris, kamu juga makan di sini?" tanya wanita yang tadi menyenggol Emma. Dan parahnya, wanita itu tidak menyadari kesalahannya. Ia bahkan tidak meminta maaf pada Emma atas apa yang dilakukannya.
Emma tidak mempermasalahkannya, karena dia adalah atasan Emma di bagian pemasaran tempat Emma bekerja.
Setelah mereka selesai, barulah Emma maju dan membayar pesanannya. Di restoran itu, pelanggan harus membayar terlebih dahulu baru pesanannya diantar.
Emma sengaja mengambil tempat duduk di pojokan karena ia ingin makan dengan tenang tanpa ada gangguan apa pun. Beruntung, ia bisa makan siang dengan nyaman meski sempat terjadi insiden kecil tadi.
Usai makan siang, Emma bergegas kembali ke kantor karena ia tidak ingin terlambat.
"Emma, tolong antarkan berkas ini ke ruangan CEO untuk di tandatangani," perintah seorang rekan kerjanya.
Emma meraih map itu dan melangkah menuju ruangan CEO yang ternyata berada di lantai paling atas di perusahaan itu. Saat memasuki lift, Emma berpapasan dengan pria yang sempat menolongnya di restoran tadi. Tapi Emma tidak berani untuk menyapanya, karena raut pria itu terlihat sangat dingin. Rahangnya yang tegas, tatapannya yang tajam, membuat siapa pun yang melihatnya akan ketakutan.
Suasana terasa begitu lengang, hingga lift berdenting dan berhenti. Emma bergegas keluar dari lift karena ia tidak sanggup berlama-lama di dalam sana bersama pria yang tidak dikenalnya itu. Emma mengelus dadanya setelah ia yakin pintu lift sudah tertutup. Tapi, sesaat kemudian, matanya membelalak ketika melihat pria itu berdiri di belakangnya. "Kenapa kamu mengikutiku?!" Tanya Emma sambil menatap tajam ke arah Chris.
Chris menyipitkan matanya ketika mendengar pertanyaan Emma. "Siapa juga yang mengikutimu. Dasar Aneh!" Umpatnya lalu melangkah meninggalkan Emma yang masih berdiri di tempatnya.
Setelah Chris pergi, Emma segera mencari ruangan CEO. "Ini dia ruangannya." Emma segera mengetuk, lalu membuka pintu ruangan itu. Ia melangkah dengan pasti meski rasa gugup menyergap dadanya. Nampak seorang pria sedang duduk di kursinya dan ia sedang berbalik sehingga yang kelihatan bagian punggung kepalanya saja. Ternyata CEO-nya sedang bertelepon.
Emma menunggu dengan sabar hingga pria itu selesai.
Ketika ia membalikkan kursinya, Emma membola dan ia mundur beberapa langkah saking kagetnya.
"Anda?"