"Kamu, ngapain di sini?" Tanya pria itu yang tidak lain adalah Chris. Pria yang menolongnya dan juga pria yang ia tuduh mengikutinya.
"Matilah aku," gumam Emma dalam hatinya ketika tahu siapa CEO perusahaannya.
"Maafkan saya, Tuan. Saya hanya ingin mengantarkan dokumen ini untuk ditanda tangani," ucap Emma sambil menyerahkan map ditangannya kepada Chris.
"Kamu dari bagian mana?" Tanya Chris karena baru kali ini ia melihat Emma di perusahaannya.
"Saya, di bagian pemasaran, Tuan," jawab Emma dengan raut cemas. Ia cemas jika sang CEO akan marah padanya karena ulahnya tadi.
Mendengar jawaban Emma, Chris hanya menganggukkan kepala. Ia memang terkenal jarang berbicara dengan siapa pun. Chris hanya akan bicara jika ada hal penting saja yang akan dibicarakannya.
Setelah memeriksa dan menandatangani berkas yang dibawa Emma, Chris menatap Emma dengan tatapan yang tak bisa di artikan. Tatapan tajam penuh makna dan Emma tak mengerti apa makna di balik tatapan tajam pria dingin itu.
"Saya permisi, Tuan," ucap Emma setelah mengambil map di atas meja.
Emma berjalan dengan cepat keluar dari ruangan itu yang atmosfernya sangat dingin bagaikan sedang berada di Antartika.
"Untung saja, dia tidak marah," gumam Emma setelah berada di luar ruangan itu.
"Ngapain kamu di sini?" Tanya Laura manajer bagian pemasaran yang juga adalah wanita yang menabraknya tadi. Laura terkenal sangat sombong dan angkuh karena ia bekerja di perusahaan itu dipilih langsung oleh Chris.
"Saya hanya meminta tanda tangan untuk berkas ini," jawab Emma sambil menunjukkan map ditangannya.
"Ok. Tapi awas kalau kamu goda Chris. Aku tidak akan memaafkanmu!" Ujar Laura sambil menunjuk wajah Emma dengan jari telunjuknya.
Laura segera melanjutkan langkahnya dan meninggalkan Emma yang terpaku sambil memikirkan ucapan Laura padanya, "siapa juga yang mau goda pria dingin kayak dia." Emma bergidik ngeri mengingat tatapan Chris yang begitu tajam bagaikan belati menusuk jantungnya. "Amit-amit dah kalau ketemu dia lagi."
***
Jam kerja sudah selesai dan Emma pun bergegas keluar dari perusahaan. Sambil menenteng tas di tangannya, Emma berdiri di lobi menunggu taksi yang ia pesan. Hari ini dia harus mampir ke supermarket untuk membeli bahan makanan dan beberapa perlengkapan rumah lainnya.
Ketika sedang berbelanja, ponsel Emma berdering dan nama Jesi muncul, "halo, Jes," sapa Emma ketika telepon tersambung.
"Kamu apa kabar, Em?"
"Aku baik, Jes."
"Em, Carlos ke tempatku semalam. Ia mencari kamu dan katanya dia tidak terima dengan perceraian kalian."
Emma terkejut mendengar perkataan Jesi. Dengan senyum sinis, Emma menjawab Jesi, "kenapa juga dia tidak setuju. Sudah jelas-jelas dia telah mengkhianatiku," ucap Emma tegas.
"Dia nampaknya tidak ikhlas kamu ninggalin dia, Em."
"Tidak mungkin, Jes."
"Aku juga tidak tahu, Em. Tapi dia bilang dia bakal mencari kamu sampai ketemu."
Emma tertawa sinis mendengar perkataan Jesi, sahabatnya. Mantan suaminya, Carlos, untuk apa juga dia mencari Emma?
"Kamu harus berhati-hati di sana, Em. Aku takut terjadi sesuatu denganmu dan ingat ya, kamu jangan pikirin Caros lagi. Kamu harus menemukan pria yang tampan dan benar-benar mencintaimu."
"Aku tahu, Jes. Aku akan ingat pesanmu."
***
Emma melanjutkan aktivitas belanjanya setelah menyimpan ponselnya di dalam tas tangan. Emma bergegas pulang ke apartemen setelah selesai berbelanja. Hari ini cukup melelahkan baginya. Tapi ia tetap semangat menjalani harinya karena ada mimpi yang harus dia kejar.
"Selesai juga," gumamnya setelah menata semua barang belanjaannya.
Selesai mandi, Emma memasak spageti untuk makan malam. Ia memang merasa kesepian, tapi ia yakin jika ia bisa melewati semunya.
Demi menghilangkan rasa bosannya, Emma berniat mampir ke bar yang berada tidak jauh dari apartemennya. Letak apartemennya berada di tengah kota dan dari sana akses ke bar hanya cukup berjalan kaki saja sambil menikmati indahnya kota di malam hari.
Dua pria berpakaian serba hitam berdiri di depan pintu bar, dan mereka menatap Emma dari ujung kaki hingga ujung kepalanya sebelum mengizinkan Emma masuk. "Kartu identitas," tanya seorang pria yang berkepala botak.
Emma mengeluarkan kartu identitasnya dan memberikannya pada pria itu.
"Silakan masuk," ucap pria itu setelah memeriksa kartu identitas Emma.
Ternyata wajah Emma yang baby face membuatnya terlihat muda. Para penjaga pikir dia masih di bawah umur, makanya mereka meminta kartu identitasnya.
"Kirain masih anak-anak," ucap pria botak itu pada temannya.
"Cantik dan awet muda, si nona," jawab temannya.
Emma duduk di kursi yang berada tepat di depan bartender agar lebih muda untuk memesan minuman. Lagi pula, ia tidak memiliki teman. Dan si bartender bisa jadi teman bicaranya malam ini.
"Bacardi Brerzer," ucap Emma sambil menatap pria ganteng di depannya.
"Baik, nona cantik," jawab si bartender lalu mulai meracik minuman yang dipesan Emma.
Emma menggoyang-goyangkan kelasnya lembut sambil berbicara dengan pria tampan di depannya. Pria itu cukup menyenangkan karena pembicaraan mereka bisa nyambung.
"Kamu pertama kali ya ke sini?" Tanya Dion, si bartender.
"Ya, ini pertama kalinya aku mengunjungi tempat ini."
Dion tersenyum menatap Emma. Emma sangat cantik dan diusianya yang sudah 25 tahun, dia masih terlihat begitu muda.
Lama kelamaan Emma yang tidak biasa mengkonsumsi minuman beralkohol, mulai mabuk. Ia bahkan tertawa keras tanpa malunya di depan Dion yang baru dikenalnya.
Saat sedang berbicara, seorang pria menghampiri Emma, "hai cantik, sendirian aja. Mau aku aku temani menikmati malam yang indah?"
Emma yang sudah mabuk hanya mengangguk tanpa tahu apa yang akan dilakukan pria itu.
Seketika itu juga, pria itu membawa Emma meninggalkan meja bartender menuju sebuah ruangan.
"Kita mau kemana?"
"Kita akan menikmati malam ini, Cantik. Kami pasti suka."