Emma berjalan sempoyongan mengikuti langkah kaki pria yang sedang menggiringnya menuju ruangan VIP di bar itu. Pria itu mendorong pintu ruangan itu dengan kakinya, lalu menarik tangan Emma masuk.
"Aku akan menikmatimu malam ini gadis cantik," ucap pria itu sambil mengelus wajah cantik Emma, namun di tepis oleh Emma.
Melihat penolakan Emma, pria itu dengan beringas mendorong tubuh Emma ke atas sofa membuat tubuh Emma terpental. "Sebentar lagi kamu akan merasakan indahnya surga dunia, Cantik."
Pria itu berusaha mencium bibir Emma tapi Emma mendorong tubuhnya keras. Mendapat penolakan Emma, pria itu semakin b*******h. "Jangan sok suci. Aku yakin kamu pasti sudah biasa melakukan ini, bukan?" tanyanya sambil menatap Emma dengan tatapan buas.
"Jangan sentuh aku!" Umpat Emma sambil berusaha berdiri.
Tapi pria itu tetap berusaha untuk mencium Emma.
Ketika pria itu hampir berhasil menyentuh tubuh Emma, tiba-tiba terdengar suara pintu yang di tendang keras dari luar. Pria itu berbalik dan tanpa bisa menghindar, satu tendangan mengenai perutnya. "Jauhi wanita itu!" Ucap pria yang baru saja masuk.
"Siapa kamu? Kenapa aku harus menjauhinya. Dia wanitaku dan aku lebih dulu bersamanya!"
Tanpa berkata-kata lagi, Chris melayangkan tinjunya hingga mengenai wajah pria itu. Meski tubuh pria itu tinggi dan besar, Chris bisa mengalahkannya.
Sejak awal, Chris telah melihat Emma di bar itu. Tapi ia berusaha tidak memedulikan wanita itu karena pikirnya Emma hanya wanita asing baginya. Ketika ia ke toilet, ia masih melihat Emma duduk di tempatnya. Tapi saat kembali, ia tidak melihat keberadaan Emma di sana. Awalnya dia ingin mengabaikan semua itu. Tapi, entah kenapa pikirannya tak bisa lepas dari Emma. Chris akhirnya menuju meja bartender dan bertanya di mana Emma.
"s**t!" Umpat Chris ketika mengetahui siapa yang membawa Emma.
Dengan langkah tergesa-gesa, Chris mencari keberadaan Emma dan akhirnya ia menemukan ruangan di mana Emma berada. Chris yang khawatir dengan keberadaan Emma, langsung menendang pintu dengan keras.
Untung saja ia datang tepat waktu. Jika tidak, Emma pasti sudah diperko** oleh pria itu.
Setelah mengalahkan pria itu, Chris mengenakan jasnya kepada Emma dan menggendong tubuh Emma. Chris keluar dari bar itu dengan emosi yang menyala-nyala.
Setelah memasukkan Emma ke dalam mobil, Chris langsung menyalakan mobilnya. Tapi, ia kembali melirik ke arah Emma yang sedang terbaring di kursi penumpang. "Aku harus bawa dia ke mana? Aku tidak tahu di mana dia tinggal."
Akhirnya, Chris dengan berat hati membawa Emma pulang ke rumahnya. "Bikin repot aja!" Umpat Chris karena dia terpaksa membawa Emma dan sialnya lagi ketika ia hendak tiba di kamar tamu, Emma tiba-tiba muntah dan mengenai pakaian Chris.
Chris mengumpat kesal, "dasar wanita bikin pusing saja!"
Chris terpaksa harus menggantikan pakaian Emma karena pakaiannya juga sudah penuh dengan muntah dan tidak mungkin Chris membiarkan wanita itu tidur dengan kondisi seperti itu.
Jantung Chris berdebar kencang ketika ia mulai membuka kemeja yang dipakai Emma. Ia tidak pernah melakukan ini sebelumnya. Saat ini pun, ia terpaksa melakukannya. "Akh, sial banget sih aku nolongin kamu!" Umpatnya.
Saat hendak meninggalkan Emma, tiba-tiba Emma menarik tangan Chris, "kenapa kamu mengkhianatiku?" air mata Emma luruh begitu saja dan entah kenapa melihat itu membuat Chris merasa iba.
"Apa yang terjadi denganmu sebenarnya dan siapa kamu?" lirih Chris dalam hatinya sambil terus menatap wajah Emma. "Kenapa juga aku harus peduli denganmu?"
Chris masuk ke kamarnya lalu membersihkan dirinya yang juga terkena muntahnya Emma tadi. Chris sampai harus mandi lagi karena ia tidak suka dengan yang namanya kotor.
Chris juga heran dengan dirinya sendiri yang mau menolong Emma dan lebih parahnya lagi mau menggantikan baju Emma yang kotor biar dia nyaman untuk tidur. "Ada apa denganku?" gumam Chris.
Di dalam kamarnya, Chris kesulitan untuk memejamkan matanya. Ia menuangkan wine dan mulai menikmatinya.
Chris menatap gelas di tangannya, berusaha keras untuk menyingkirkan bayangan Emma dari pikirannya. Namun, meskipun ia mencoba mengalihkan perhatiannya, pikirannya terus kembali pada Emma yang sedang tidur di kamar tamu saat ini. Dia merasa frustrasi karena tidak bisa menolak kata hatinya untuk membantu Emma tadi.
Sambil menyesap minuman terakhirnya, Chris menatap layar ponselnya. Ternyata sudah tengah malam dan ia harus istirahat.
Di dalam kamarnya, Chris naik ke atas ranjangnya dan menyenderkan kepalanya di headboard lalu menutup matanya sejenak.
"Emma, aku... aku merasa aneh sejak bertemu denganmu tadi. Seperti ada sesuatu yang salah," gumamnya dalam hati.
"Tidak! Aku tidak boleh kasihan dengan wanita itu. Aku menolongnya hanya karena dia karyawan aku di perusahaan. Ya, itu benar hanya karena dia karyawan aku dan sudah sepantasnya aku menolongnya." Chris berusaha menepis rasa dalam hatinya. Pikiran dan hatinya tidak sinkron saat ini.
Keesokan paginya, Emma terbangun dari tidurnya. Ia memegang kepalanya yang terasa sakit. "Akh, kepalaku sakit."
Belum terkumpul kesadarannya, ia tiba-tiba histeris ketika melihat ia hanya menggunakan kemeja panjang berwarna putih. "Akh, ini apa lagi? Baju siapa ini dan ini di mana?"
Emma berusaha mengingat apa yang terjadi padanya semalam, tapi ia tidak bisa mengingat apa pun. "Jangan-jangan aku sudah?"
Emma membuka selimut yang menutupi tubuhnya, jantungnya berdetak dengan kencang, tapi ketika ia melirik bagian bawahnya, seketika ia merasa lega.