Kenapa Aku?

1081 Words
Emma berjalan keluar dari kamarnya dan menoleh ke kiri kanan sambil memperhatikan rumah besar itu. "Di mana aku?" gumamnya. "Sudah bangun! Ini bajumu." "Tuan Chris? Kenapa saya berada di rumah, Anda?" "Kamu mabuk semalam. Kamu harus berterima kasih karena aku sudah menolongmu dari p****************g!" Ucap Chris sambil menyerahkan baju Emma yang sudah ia cuci semalam menggunakan mesin cuci. Emma menatap Chris sambil menyilangkan tangan di dadanya. "Jadi, Anda yang menggantikan pakaian aku?" "Bukan aku. Bibi!" Chris segera meninggalkan Emma yang terpaku di tempatnya. Ia merasa lega setelah tahu jika bukan Chris yang menggantikan bajunya. Emma bergegas ke kamar lalu mengganti pakaiannya. "Ini sarapan kamu." Ucap Chris sambil menyodorkan gelas berisi minuman yang bisa menghilangkan pegar. "Terima kasih." Diam-diam Chris memperhatikan Emma yang sedang menikmati sarapannya dengan lahap. Entah kenapa kehadiran wanita itu membuatnya merasa nyaman. Tapi ia berusaha menyembunyikannya. "Terima kasih untuk semuanya, Tuan Chris. Saya mau ke kantor sekarang." "Kamu ikut saya saja ke kantor." "Tidak usah Tuan. Saya bisa naik taksi." Tolak Emma. "Ya sudah." Emma segera keluar dari rumah Chris dan menunggu taksi yang sudah ia pesan. Ia sengaja menolak ajakan Chris karena ia tidak ingin ada yang melihatnya turun dari mobil Chris. Sementara itu Chris melajukan mobilnya menuju perusahaannya dengan perasaan tidak senang. Ia sedang memikirkan kenapa Emma menolak untuk ikut dengannya, padahal banyak wanita yang ingin di ajak bersamanya. Hal itu membuat Chris semakin penasaran dengan Emma. Setelah tiba di ruangannya, Emma mengusap wajahnya berusaha melupakan apa yang terjadi padanya semalam. Satu hal yang dia syukuri, bosnya yang dingin telah menolongnya. "Emma, kamu di panggil Tuan Chris," ucap Leon, asisten Chris. "Saya?" "Iya. Anda, Nona Emma." Dengan berat Emma mengikuti langkah kaki Leon menuju ruangan Chris. "Apa yang akan dilakukannya padaku?" lirih Emma dalam hatinya. Ia merasa sangat gugup untuk bertemu Chris lagi. Setibanya di ruangan Chris, Emma masuk dengan langkah berat mendekati meja Chris. "Anda memanggil saya, Tuan?" "Duduklah." Ucap Chris. Emma segera duduk tepat di depan meja Chris sambil menatap wajah CEO tampan di depannya. Siapa pun pasti akan tertarik dengan Chris. Tapi tidak dengan Emma. Luka masa lalunya membuatnya sulit untuk menyukai seseorang. "Aku punya tawaran untukmu." "Apa itu, Tuan?" Chris menyodorkan sebuah map ke hadapan Emma sambil menatap mata Emma dalam. "Kamu baca saja dulu. Jika kamu mau. kamu bisa segera tanda tangan." "Apa ini?" Gumam Emma ketika ia membuka map itu. Matanya membelalak ketika melihat apa isinya. "Apa? Nikah kontrak? Gak salah nih?" Tanya Emma sambil menatap Chris penasaran. Bagaimana mungkin pria sekeren Chris mencari istri kontrak? Apa gak salah? Emma pikir, Chris pria perfect dan tidak perlu hal-hal seperti itu. Cukup menjentikkan jarinya, ada banyak wanita yang mau menikah dengannya. Tapi kenapa juga dia memilih Emma? Ternyata sejak semalam, ketika ia menggantikan baju Emma, benda pusakanya bereaksi. Sudah cukup lama Chris tidak merasakannya. Sekitar lima tahunan. Hal itu disebabkan dengan musibah yang menimpanya dulu. Ia pernah kecelakaan dan kehilangan vitalitas alat pentingnya itu. Dokter telah menyarankan untuk terapi, tapi Chris menolaknya mentah-mentah. Sedangkan keluarga Chris, mereka tak henti-hentinya menjebak Chris bersama wanita cantik. Tapi tidak ada yang berhasil membangunkan senjata pamungkasnya meski para wanita itu telanjang di depannya. Semalam, hanya dengan melihat tubuh indah Emma, senjatanya sudah berdiri tegak dan sampai saat ini, ketika ia teringat pada Emma, pusakanya itu akan bereaksi. "Kenapa, Anda memilih saya, Tuan?" tanya Emma penasaran. "Kamu tidak perlu tahu alasannya. Aku akan memberikan apa pun yang kamu minta kalau kamu mau menjadi istri kontrakku selama satu tahun." "Maaf, Tuan. Saya tidak bisa." Jawab Emma mantap. Jawaban Emma membuat Chris kecewa. Tapi ia tidak menunjukkannya. "Kalau begitu kamu bisa keluar sekarang." Emma segera keluar dari raungan Chris. Meski ia baru saja bercerai, ia tidak mau menjadi istri kontrak dan bukan hanya itu saja alasannya. Emma belum ingin terikat dengan ikatan apa pun dengan manusia yang namanya pria. "Sial! Ternyata ada juga wanita yang menolakku!" Umpatnya. Leon yang menyaksikan itu merasa heran dengan bosnya itu yang juga adalah sahabatnya. "Aku tidak menyangka dia akan menolakmu, Chris," ucapnya dengan tertawa sinis. "Jangan menghinaku, Leon. Mau aku potong gajimu, hah?" "Eh, jangan dong. Oke aku tidak akan mengejekmu lagi. Aku akan membantumu membuat wanita itu menerimamu." Leon membawa data diri Emma. Ia menemukan sebuah fakta jika Emma ternyata sudah pernah menikah dan ada satu fakta mengejutkan lagi. Emma ternyata tinggal sendirian di apartemennya. Entah apa yang akan dilakukan Leon agar Emma mau menerima Chris. Leon tersenyum jahat. Idenya cukup brilian kali ini. *** Sebelum hari kerja selesai, Leon mengumumkan jika semua karyawan di bagian pemasaran akan makan malam bersama sebagai sambutan atas kedatangan Emma dan atas suksesnya proyek baru mereka. Dan makan malam ini tidak boleh jika tidak hadir. Mereka berkumpul di hotel berbintang dan mulai menikmati makanan lezat yang ada di restoran hotel itu. Semua karyawan nampak senang. Sementara itu, Laura atasan Emma berusaha mendekati mencari perhatian Chris. Wanita itu merasa heran karena selama ini, perusahaan tidak pernah menyambut kedatangan karyawan baru. "Ada apa sebenarnya dengan Chris?" tanya Laura dalam hatinya. Saat semua orang sedang fokus dengan makanan mereka, Laura sengaja keluar dari sana dan menemui seseorang. Setelah berbicara beberapa saat, Laura kembali dengan senyum yang mengembang. Ia duduk di dekat Chris sambil terus berusaha mencari perhatian Chris. Tiba-tiba seorang pelayan datang dan membawa beberapa gelas minuman. Laura mengambil satu gelas dan menyerahkan gelas itu kepada Chris. "Ini untukmu, Chris." Chris menerima minuman yang diberikan Laura dan seketika itu juga, Leon mengajak semua yang hadir untuk melakukan tos. *** Emma meminta izin untuk keluar karena dia ingin pergi ke toilet. Sementara itu, Chris mulai merasakan aneh ditubuhnya. Ia merasakan dadanya berdetak sangat cepat dan tubuhnya terasa panas. "Sial! Aku dijebak." Umpat Chris dalam hati sambil menatap Laura yang juga sedang menatapnya. "Ada apa Chris?" tanya Laura dengan suara yang dibuat seseksi mungkin. Chris tidak menjawabnya. Chris segera berdiri dan keluar dari ruangan itu. Melihat Chris keluar, Leon mengikutinya. "Ada apa denganmu, Chris?" tanya Leon ketika ia melihat perubahan di wajah Chris. "Aku di jebak. Aku rasa Laura menaruh sesuatu di minumanku." Leon mengantarkan Chris ke sebuah kamar yang ada di hotel itu secara diam-diam. Ia tidak mau Laura tahu di mana Chris berada saat ini. Leon lalu menghubungi Emma dan meminta Emma datang. "Emma, saya butuh bantuan, Anda." Emma yang sedang baru saja keluar dari toilet, segera menuju lokasi yang dikirim Leon padanya. Setibahnya di sana, "aku mohon kamu jaga Tuan Chris. Ada yang menjebaknya." "What? Apa maksudnya?" Emma segera masuk ke kamar itu tanpa berpikir panjang. Ia tidak tahu jika malam ini akan merubah nasibnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD