Isabelle berdiri di depan jendela besar dengan segelas anggur di tangannya, senyumnya penuh kemenangan. Ia baru saja memberikan kabar kepada kakek Chris bahwa cucunya masih bersama Emma di mansionnya. "Chris, kau pikir bisa mempermainkanku? Aku akan memastikan kau tidak akan bisa bersama wanita rendahan itu," gumamnya dengan penuh kebencian. Di sisi lain, kakek Chris, Theodore Sinclair, duduk di kursi kayu berukir di ruang kerjanya yang luas. Wajahnya mengeras saat mendengar laporan dari Isabelle. Tangannya mencengkeram tongkatnya dengan kuat, matanya menyala penuh amarah. "Kurang ajar!" geramnya. "Aku sudah memperingatkannya, tapi dia tetap saja membangkang!" Dengan suara penuh wibawa, Theodore memerintahkan asistennya untuk segera memanggil Chris. Chris sedang duduk di ruang kerjany

