Chris berjalan masuk ke mansionnya dengan langkah lebar. Wajahnya dingin dan tegang, pikirannya masih berkecamuk tentang perjodohan yang dipaksakan oleh kakeknya. Namun, sebelum dia bisa memikirkan solusinya, ada hal yang lebih penting saat ini, Emma. Tanpa ragu, dia menuju kamar tempat Emma beristirahat. Ketika membuka pintu, matanya langsung tertuju pada sosok Emma yang tengah duduk di tempat tidur. Wajahnya masih pucat, dan matanya sedikit sembab, mungkin karena efek dari rasa sakit yang ia alami. Emma menoleh begitu mendengar suara pintu terbuka. "Chris," suaranya lemah, namun matanya menatapnya dengan penuh permintaan. "Aku ingin pulang ke apartemenku." Chris menatapnya tajam, lalu berjalan mendekat. "Tidak," jawabnya tegas. Emma menghela napas, mencoba berdiri, tapi tubuhnya masi

