Setelah Emma pergi, suasana di dalam mansion terasa begitu sunyi dan menyesakkan. Chris berjalan mondar-mandir dengan rahang mengatup erat, kepalan tangannya mengeras, menahan emosi yang meledak di dalam dadanya. Pandangannya tertuju pada vas bunga di atas meja, dan dalam satu gerakan cepat, ia meraihnya lalu melemparkan benda itu ke dinding. BRAK! Suara pecahan kaca memenuhi ruangan, bunga-bunga yang sebelumnya tertata rapi kini berserakan di lantai. Chris menatap kekacauan yang baru saja ia buat, tetapi itu sama sekali tidak membuatnya merasa lebih baik. Napasnya memburu, dadanya naik turun penuh amarah dan frustrasi. Dia tidak bisa menahan Emma. Dia membiarkan wanita itu pergi. Bukan karena dia ingin, tapi karena dia harus. Ancaman kakeknya terlalu nyata, dan Chris tahu lelaki tua

