Emma tersenyum tipis pada Mia, meskipun senyumnya terasa dipaksakan. "Aku sudah dengar," jawabnya pelan. Mia menatapnya dengan penuh simpati. "Emma, kamu yakin baik-baik saja?" Emma mengangguk, meskipun dalam hatinya ia merasa sangat tidak baik-baik saja. "Ini bukan urusanku, Mia. Aku hanya karyawan di sini, dan Chris… dia bisa menikah dengan siapa pun yang dia mau." Mia menghela napas. "Tapi aku tahu kamu terluka." Emma tidak menjawab. Dia hanya menunduk, berpura-pura fokus pada pekerjaannya. Tapi dalam hatinya, dia bertanya-tanya, kenapa rasanya sesakit ini? Ruangan kantor dipenuhi bisikan dan tatapan penuh rasa ingin tahu ketika seorang wanita anggun melangkah masuk. Suaranya bergema di seluruh gedung—calon istri Chris telah tiba. "Dia cantik sekali!" bisik salah satu karyawan.

