Elisa menggigit bibir bawahnya hingga nyaris berdarah, mati rasanya saat membayangkan sensasi bibir tebal Wira yang pagi tadi menindih miliknya dengan penuh klaim. Dalam lamunannya, lidah pria itu yang hangat dan mahir menyusup ke mulutnya, membelit lidahnya dengan ritme yang membuat seluruh tulang belakangnya bergetar. Napasnya sendiri di dalam imajinasi itu menjadi pendek dan panas, dadanya berdebar kencang mengikuti irama ciuman yang hanya ada di kepalanya. "El!" Elisa tersentak, matanya terbuka lebar, menatap sekeliling kubikel yang diterangi lampu neon. Komputer, tumpukan kertas, logo perusahaan di dinding. Kantor. Bukan dapur yang hangat, bukan tubuh Wira yang menindihnya. "Masih pagi, lho, udah ngelamun kayak habis begadang," tegur Fani yang baru saja mendarat di kursi putarnya d

