Wira menjatuhkan dirinya ke sofa kulit di ruang keluarga rumah orangtuanya, tubuhnya terasa seperti sekantong pasir yang ditumpahkan. Kepalanya menempel ke sandaran sofa, matanya menatap langit-langit tinggi yang dihiasi lampu kristal. Kelelahan bukan hanya fisik, tapi merasuk sampai ke tulang. Sonya, yang telah diberitahu kedatangan putranya oleh pelayan sebelumnya, masuk dengan langkah tenang. Dia duduk di ujung sofa yang sama, menjaga jarak yang cukup namun terasa dekat. Ruangan hening sejenak, hanya diisi oleh desahan berat Wira. "Dia meninggalkan pesan," ucap Sonya akhirnya, suaranya lembut namun jelas di keheningan. "Untuk tidak mencarinya lagi." Wira mengangkat tangan, mengusap wajahnya dengan kasar seolah mencoba menghapus rasa lelah dan kekalahan. Setelah dari pool bus tadi, se

