Malam Minggu di ibu kota berdenyut dengan energi yang berbeda. Rooftop bar itu ramai dengan suara tawa, gemerincing gelas, dan musik live yang mengalun pelan. Pasangan-pasangan dan kelompok muda-mudi memadati sudut-sudut dengan pemandangan kota yang berpendar di bawah. Wira membawa Elisa ke tepi pagar pembatas, di mana cahaya lampu gedung-gedung menjulang seperti permata yang ditaburkan di atas beludru hitam. Elisa tidak bisa menyembunyikan decak kagumnya. Beberapa kali dia mengangkat ponsel, mencoba mengabadikan kemegahan itu, namun sepertinya ada yang belum membuat dia puas. "Mau aku fotoin?" tawar Wira, suaranya hampir tenggelam dalam gemuruh percakapan sekitar. Elisa menoleh, senyum lebar. "Boleh!" Saat dia hendak menyerahkan ponselnya, Wira menggeleng. "Pakai punyaku saja. Nanti

