"Terus lo tinggalin dia gitu aja?" Suara Rivano memotong denting gelas dan alunan musik live yang lembut. Mereka duduk di sudut bar yang agak remang, cahaya biru kehijauan dari stage menerpa sisi wajah Wira. Wira memutar gelas wiski di tangannya, es batu berderak kecil. "Ya," gumamnya singkat, anggukan halus mengikuti. "Gila, tega banget lo." Rivano menyandar pada sofa, senyum nakal mengembang. "Cewek lagi tidur pulas, gak berdaya ... malah ditinggal? Harusnya lo masuk, bro. Take the shot!" "Bangsat." Sehelai tisu terbang melengkung dan mendarat tepat di dahi Rivano yang tertawa terbahak-bahak. Wira mencoba menyembunyikan senyum kecut di balik tegukan minumannya. "Iya, serius, Wil! Lo ini nanggung banget. Padahal ada kesempatan emas." Wira meneguk lagi, rasa panas dari alkohol menyus

