Elisa masih memikirkan dengan informasi yang disampaikan oleh Fani tadi, mengenai kamar sewa di rumah yang dia tempati. Menurutnya aneh saja, padahal masih ada dua kamar kosong di sana, entah mengapa si pemilik rumah yang hampir tidak pernah dia lihat itu enggan menerima penghuni baru. Saat pertama kali dia datang saat itu hanya bertemu dengan seorang wanita paruh baya yang menunggunya di teras rumah untuk mengantar berkeliling ruangan dan setelah itu tidak bertemu lagi.
"Hei, kok, ngelamun?"
Suara itu membuatnya tersentak. Rama sudah duduk di kursi sebelahnya, kursi milik Fani.
Elisa menoleh pada Rama yang sedikit mengejutkan dirinya. "Hei, Rama."
"Mikirin apa? Jangan bilang kalau kamu lagi mikirin aku, ya," godanya sambil tertawa kecil.
Elisa menggeleng, senyumnya jadi lebih nyata. "Kamu kemarin habis diomelin Pak William, ya?" tanyanya, mencoba mengalihkan topik.
Rama menghela napas, memutar-mutar pena milik Elisa. "Ah, iya. Kesalahan laporan, sih. Aku lagi kurang fokus mungkin." Lalu, wajahnya berubah lebih bersemangat. "Ngomong-ngomong, besok jadi kan?"
Elisa mengerutkan kening. "Maksudnya?"
"Aku ajak keluar, lho! Fani bilang kamu pengen keliling Jakarta." Rama mencondongkan badan sedikit ke arahnya.
Sensasi tidak nyaman mulai merayap di kulit Elisa. "Eh, itu ...."
"Jadi beneran kamu udah ada yang punya?" tanya Rama, matanya menyelidik.
"Bukan, aku masih sen—"
Kalimatnya terpotong. Dari ujung koridor, sebuah bayangan tinggi bergerak dengan langkah tegas dan berwibawa. William. Pria itu seperti membawa serta udara dingin bersamanya. Kepalanya sedikit menoleh, dan untuk sepersekian detik, matanya yang tajam bertemu dengan pandangan Elisa. Lalu, dia berbelok menuju ruang rapat, menghilang begitu saja.
Detak jantung Elisa berdebar kencang. Dunia sekelilingnya seperti kehilangan suara.
"Jadi kamu masih single? Bolehlah aku deketin dong, El?" suara Rama kembali menariknya ke realita.
Namun Elisa masih terpana, tatapannya kosong ke arah ruang rapat di mana sosok mirip teman serumahnya menghilang.
"El," panggil Rama, menyentuh lengannya dengan lembut.
Elisa tersentak. "Iya!" jawabnya reflek, suaranya terdengar nyaring di telinganya sendiri.
"Serius? Jadi besok?" tanya Rama, wajahnya berseri.
"Ha?" Elisa kebingungan, baru menyadari apa yang baru saja dia setujui.
Rama sudah berdiri, terlihat senyum kemenangan di wajahnya. "Besok jam sembilan aku jemput di tempatmu. Oke? Dah dulu, cantik!"
Dia pergi dengan langkah ringan, meninggalkan Elisa yang masih duduk kaku. Di kepalanya, hanya ada bayangan dua pasang mata yang sama-sama gelap, satu ramah dan mengejar, satu lagi dingin dan menghantui, dan entah kenapa, justru yang dingin itu yang membuat napasnya tersangkut.
~
Cahaya sore merambat masuk melalui jendela, menimpa ruang makan yang sunyi. Elisa duduk melingkarkan kaki di kursi, mangkuk mie instan setengah kosong di depannya, sementara ponsel dihadapkan memutar episode drama Korea. Suara percakapan bahasa asing itu memenuhi ruangan, tapi perhatiannya sesekali melayang ke lorong kosong, tanda jika Wira belum pulang.
Setelah slurp terakhir, dia mendorong mangkuk kosong ke pinggir meja, fokus kembali ke layar. Begitu larut dalam alur cerita, sampai tidak mendengar bunyi kunci di pintu utama atau langkah kaki yang masuk dengan pelan.
"Eh, Wira?" Elisa menegakkan punggung, tapi matanya masih tertambat pada adegan ciuman di layar. "Baru pulang?"
"Ya."
Seperti biasa, jawabannya pendek, tanpa embel-embel. Elisa hanya manggut-manggut saja, tanpa benar-benar memerhatikannya. Dari dapur, terdengar suara kompor dinyalakan, kemudian bunyi ketel yang ditaruh di atasnya.
"Maaf, tadi aku masak mie instan," sahut Elisa menoleh ke arah Wira yang berdiri membelakangi, bahunya terlihat tegang di balik kaus biasa.
"Tidak apa."
"Oh, iya. Aku mau cerita deh," kata Elisa akhirnya.
"Cerita aja." Kini Wira memutar tubuhnya bersandar pada meja dapur, sedikit penasaran dengan yang ingin diceritakan oleh Elisa.
"Aku sudah bilang belum, kalau kamu itu mirip sama bos aku di kantor?"
Wira mengangkat bahunya. "Entah, sepertinya belum."
Elisa terkekeh pendek, agak canggung. "Kalau dilihat sih, agak mirip. Cuma ya ... dia itu kaku. Galak juga kayaknya. Beda sama kamu ...."
"Bedanya?" tanya Wira cepat.
"Kamu keliatan santai dan ... yeah, sedikit menyenangkan aja."
Wira membalas dengan senyum tipis yang hampir tak kelihatan, lalu mematikan api. Suara air mendidih dituang ke mug berisi kopi menghangatkan suasana. Aroma pahit kopi segera menyebar.
Elisa kembali menyaksikan drama Korea yang sudah tidak begitu menarik minatnya.
Wira datang membawa mug kopinya, duduk di seberang. Saat kakinya menyilang di bawah meja, ujung sepatunya tanpa sengaja menyentuh betis Elisa.
"Ah!" Elisa melompat sedikit, menunduk ke kolong meja.
"Maaf."
"Gak apa." Pipinya memerah, dia buru-buru kembali memandang ponsel.
Beberapa detik berlalu dalam hening, hanya disela tegukan kopi Wira.
"Jadi, kamu mau bilang kalau suka sama bosmu itu?" tanya Wira tiba-tiba, suaranya datar tapi jelas menusuk.
Elisa mengangkat muka, mata membelalak. "Apa? Kapan aku bilang gitu?!"
Wira hanya menatapnya, diam. Tatapannya tidak menghakimi, tetapi juga tidak melepaskan, membuat Elisa semakin tidak karuan. Jari-jemarinya mulai memainkan ujung rambutnya yang tergerai.
"Aku cuma ...," ucapnya, suara semakin kecil.
"Sepertinya kamu terlalu banyak nonton drama Korea."
Elisa menatapnya, mata sedikit membesar. "Eh? Ternyata kamu perhatiin ya, tontonanku."
"Bukannya semua cewek begitu?" balas Wira, suaranya datar.
"Maksudmu?" Elisa mengerutkan kening.
"Nonton drama tentang CEO yang jatuh cinta pada karyawan biasa, lalu berharap hal yang sama terjadi pada diri sendiri." Ucapannya terdengar seperti pernyataan biasa, namun ada sesuatu yang terselip di baliknya.
Elisa mengeluarkan tawa kecil, gemas. "Ada sih, yang kayak gitu. Tapi aku nggak, kok. Itu kan nggak mungkin."
"Mengapa tidak mungkin?" Kali ini, Wira menyilangkan lengannya di d**a. Posisinya yang bersandar ke kursi terlihat santai, tapi matanya tertuju sepenuhnya pada Elisa.
Elisa mengangkat bahu, senyumnya jadi malu-malu. "Ya ... aku ini siapa? Dia itu siapa? Jauh banget."
Wira hanya membalas dengan senyum tipis yang ambigu, tidak menjawab.
"Hmm ...." Elisa menarik napas, memecah keheningan yang mulai terasa pekat. "Besok, teman kerjaku yang kemarin sempat aku ceritain itu, mau ngajak aku keluar."
Ekspresi di wajah Wira berubah seketika. Semua tanda kelegaan atau humor lenyap, digantikan oleh sebuah kekosongan yang datar. "Kamu mau pergi?" tanyanya, nada suaranya sama, namun lebih rendah.
Elisa mengangkat bahu lagi, gerakan defensif. "Aku awalnya mau nolak. Tapi, ya sudahlah. Aku memang pingin jalan-jalan lihat Jakarta, dan dia nawarin. Jadi kenapa tidak?"
Wira hanya menatap Elisa tanpa bertanya lagi.
Malam itu mereka duduk bersebelahan di sofa, layar televisi menayangkan sebuah reality show dengan suara ramai. Namun, perhatian keduanya tidak benar-benar di sana. Elisa sibuk memandangi layar ponsel, jarinya menari cepat membalas pesan dari Maya dan Fani. Sesekali, tawa kecilnya terdengar di ruangan.
Di sebelahnya, Wira duduk diam. Tatapannya kosong mengarah ke televisi, pikirannya entah kemana. Tawa ringan Elisa menarik perhatiannya. Dia menoleh, memandangi profil gadis itu yang diterangi cahaya biru dari ponselnya.
Merasakan jika ada yang memperhatikan, Elisa menoleh. "Eh, maaf. Aku ganggu, ya?" ujarnya, sedikit malu.
"Sama sekali tidak," jawab Wira, suaranya tenang. Pandangannya kembali beralih ke televisi, seolah terfokus.
"Hmm, aku masuk ke kamar dulu ya. Dah, Wira." Elisa beranjak dari sofa dan berjalan menyusuri lorong.
Wira tidak segera berpaling. Matanya mengikuti bayangan Elisa hingga menghilang di balik pintu kamar. Kemudian, ruang keluarga itu kembali sunyi, hanya disela suara artifisial dari televisi.
~
Keesokan paginya, aroma kopi sudah memenuhi dapur ketika Elisa muncul. Rambutnya masih berantakan, matanya setengah terpejam.
"Pagi," sapanya dengan suara serak khas bangun tidur.
"Pagi," balas Wira dari balik meja dapur. Dia menggeser sebuah cangkir keramik berisi kopi hangat ke arah tempat duduk Elisa. "Kopimu."
"Makasih." Elisa menerimanya, tangan langsung membelai hangatnya cangkir. Dia duduk dan menyesap perlahan.
"Sama-sama."
Mereka duduk di meja makan menikmati kopi masing-masing.
"Kamu gak kemana-mana hari ini?" tanya Elisa.
"Tidak."
Elisa mengangguk pelan.
Wira menatapnya. "Kamu jadi pergi?"
"Ya. Tidak enak soalnya dia mau jemput ke sini nanti."
Wira menyentuh gelas kopinya, merasakan kehangatan di telapak tangannya. "Hati-hati kalau bepergian," ujarnya.
Elisa tersenyum tipis. "Ya. Tentu saja."
Elisa menyesap kopinya hingga tersisa setengahnya. Lalu, kembali meneguknya lagi hingga tandas. "Sudah selesai? Biar aku cuci sekalian gelasnya," katanya seraya berdiri dari duduknya.
"Tidak perlu, biar aku saja nanti."
Elisa sudah berdiri di depan wastafel, membilas gelas dan mengeringkannya dengan handung kecil. "Aku ke kamar dulu, butuh waktu buat bersiap-siap."
"Ya."
"Makasih lagi untuk kopinya." Elisa memberikan senyum terakhir sebelum menghilang ke koridor.
"Sama-sama."
.
.
Pukul sembilan lewat dua puluh menit.
Dari balik tirai tipis di jendela depan, Wira diam-diam mengamati. Seorang pria dengan motor berwarna terang sudah berdiri di depan pagar. Jarinya menekan bel pintu sekali, dua kali.
Tidak ada jawaban. Pria itu, Rama, menengok ke arah rumah, raut wajahnya mulai tampak bingung.
"Elisa!" panggilnya, suaranya terdengar samar-samar dari dalam.
Wira tidak bergerak. Dia tetap berdiri di balik tirai, bayangannya tersamar oleh kain. Hanya matanya yang tetap mengawasi.
Setelah menunggu hampir setengah jam, dengan bahu yang sedikit turun, Rama akhirnya menaiki motornya dan pergi.
Rumah kembali senyap.
Wira berbalik dari jendela. Langkahnya berderap pelan menuju kamar Elisa. Dengan sangat perlahan, dia membuka pintu yang tidak terkunci.
Di sana, di atas tempat tidur, Elisa terbaring. Selimut setengah menutupi tubuhnya. Napasnya dalam dan teratur, wajahnya terlihat tenang dalam tidur yang pulas, rambutnya menutupi sebagian bantal.
Bibir Wira tertarik ke atas, membentuk sebuah senyum kecil yang kompleks, campuran rasa lega, keberhasilan, dan mungkin sedikit rasa bersalah yang samar. Tanpa bersuara, dia menarik dan menutup pintu kembali, meninggalkan Elisa dalam dunia mimpinya.