Wira terdiam sejenak, lalu menyeringai. Tantangan Elisa meledak di udara seperti percikan api yang tak terduga. Dia mengira gadis itu akan menjauh, menampar, atau setidaknya membeku dalam ketakutan. Tapi yang dia dapat justru sebuah undangan terbuka. Ada sesuatu yang liar dan berani dalam tatapan Elisa yang membuat darahnya berdesir. "Kamu sadar dengan apa yang baru saja kamu ucapkan, El?" Suara Wira rendah, menahan intensitas yang menggelegak di dalamnya. "Apa kamu melihatku sedang pingsan?" Elisa membalas, tanpa menundukkan pandangan. Keberaniannya terasa seperti baja yang baru ditempa, masih panas, tetapi sudah kuat. Senyum miring kembali muncul di wajah Wira. "Seharusnya kamu menamparku, El, bukan malah menantang." Dia mendekatkan bibirnya ke telinga Elisa, berbisik dengan nada yang

