Wira terpelanting dari tidur, keringat dingin membasahi keningnya. Kali ini, bayangan mobil yang melintir dan jeritan di aspal basah bertabrakan dengan gambaran Elisa, wajahnya yang basah oleh air mata, matanya yang menatapnya penuh kekecewaan dan kebencian yang membeku. Dadanya sesak, seolah ada tangan tak terlihat mencekiknya. Dia terlepas dari belitan selimut dan melangkah keluar kamar. Rumah keluarga Wiranegara yang megah itu gelap dan sunyi, hanya diterangi lampu-lampu kecil di sepanjang koridor. Kaki telanjangnya menapak dinginnya marmer saat dia menuruni tangga spiral, menuju ruang minum kecil yang bersebelahan dengan ruang kerja ayahnya. Di balik meja bar yang terbuat dari kayu gelap, dia menuang segelas air putih hingga penuh. Tangannya sedikit gemetar. Dia menenggak isi gelas i

