35. Ketakutannya

1322 Words

Mobil hitam yang mewah itu berhenti dengan halus di depan sebuah rumah berlantai dua, terletak di kawasan perumahan yang tertata rapat dan sunyi. Pepohonan rindang mengelilingi, kontras tajam dengan kesemrawutan yang baru mereka tinggalkan. Wira membuka pintu pengemudi dan melangkah keluar. Dia tidak langsung menuju rumah, melainkan berdiri di samping bodi mobil, menunggu dengan sikap sabar namun tegang. Dari dalam, Maya yang pertama kali membuka pintu. Dia menurunkan kakinya, lalu menjulurkan tangan ke arah adiknya. "Ayo, El, turun." Elisa masih terguncang. Isakannya sudah mereda menjadi desahan-desahan pendek yang tersendat, matanya merah dan kosong. Tangannya dingin saat menggenggam tangan Maya, membiarkan dirinya dituntun keluar dari kabin mobil yang hangat. Mereka berdiri di jalanan

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD