Setelah beberapa hari, Elina benar-benar tidak menghubungi Aksa lagi. Sampai suatu malam Aksa merasa ada yang hilang. Entah mengapa Aksa merasa kangen dengan telpon tak jelas dari Elina yang Aksa tak mengetahuinya. “Dimana orang itu?” Aksa mengharap Elina untuk menelponnya. “Haish, ada apa denganku? Mengapa aku mencarinya?” Gumam Aksa. Setelah selesai belajar, Aksa merapikan kembali meja belajarnya. Saat Aksa sedang membereskan bukunya, tiba-tiba. KLUNTING... Cincin yang dikembalikan Elina pada saat itu terjatuh dari meja Aksa. Aksa pun mengambil cincin itu. “Untung saja aku tidak memberikanmu pada Nana. Sampai kapanpun kau akan tetap di jari manis Elina. Kau hanya pantas di jari Elina. Aku berjanji akan memakaikanmu di jari Elina kembali.” Aksa mencium cincin tersebut, lalu menyimpa

