BAB 8| KEJUJURAN JHONS 2

963 Words
Asya menatap sekelilingnya. Banyakpasang mata yang memperhatikan dua insan itu. Walaupun sebenarnya jhons sangat gugup tapi dia sudah bertekad untuk jujur perihal perasaannya terhadap asya, soal di terima tidaknya itu udah resiko yang harus di hadapinya. Jhons menarik nafas dan menggenggam kedua tangan asya ditatapnya mata coklat itu. Asya merasakan jantungnya berdetak lebih cepat. "Sya, boleh abang jujur? " Tanyanya. "Ya" Asya menganggukan kepalanya. "Abang sayang kamu sya, sejak pertama kali kita ketemu, kamu istimewa. Abang gak tau alasan apa yang membuat abang suka sama kamu, yang pasti hati abang nyaman sama kamu" Asya hanya diam menggapinya, dia bingung harus bagaimana dan akhirnya menunggu jhons untuk melanjutkan kata katanya. "Setiap kali abang sama kamu, abang tidak bisa menghindari sesuatu yang sangat istimewa di hati abang, satu satunya alasan yang membuat abang senang sama kamu, asya maukah kamu menjadi pendamping hidup disisa umur abang?" "Bang, biar asya cerita sedikit tentang aku" Jhons pun mengangguk dan tersenyum. Kemudian asya menarik nafas dan berucap. "Asya paling takut akan kegagalan, asya selalu cemas akan hal kecil, asya benci sama yang namanya janji, asya selalu kesepian padahal asya punya banyak teman, asya benci sebuah harapan yang di berikan seseorang, asya juga benci penghianatan dan kebohongan. Asya gak mau kalo abang belum mau memenuhi semuanya. Asya pernah gagal dalam percintaan dan itu membuat asya trauma sama yang namanya cinta. Asya perlu waktu untuk menjawab perasaan abang. Asya minta maaf" Jhons hanya tersenyum dia bisa melihat begitu banyak luka di mata asya. "Gak papa, abang akan nunggu jawaban kamu, dan abang akan berusaha menghilangkan trauma dan ketidaksukaan kamu abang akan buktikan sya, perasaan abang sama kamu gak main main,abang akan nunggu sampai kamu siap" Ucap jhons tersenyum dan melepaskan genggamannya pada tangan asya. Tidak lama setelah itu ida datang, dia memasang wajah pura pura kaget melihat ada jhons di tempat duduknya bersama asya. "Loh ada bang jhons, dah lama bang? " Tanya ida basa basi, jhons mengernyitkan dahinya bingung kemudian melihat kearah ida yang memberinya kode paham maksud gadis tomboy itu. "Ehh iya ada lo juga, belum lama baru aja nyampe" "Eump, iya iya" Kemudian ida pun gabung bersama mereka berdua. ~~~ Esoknya pulang dari tempatnya bekerja, asya di kagetkan dengan seseorang yang sedang duduk menunggunya di teras kontrakan. "Bibi?" Panggil asya, kemudian orang yang di panggil bibi pun berdiri dan menghampiri asya. Kemudian asya mengulurkan tangannya untuk salim. "Sya" Panggil nia-bibi asya yang ke 4 "Bibi ngapain disini?" "Eump, bibi ada perlu sama kamu" "Oh gitu, yaudah hayu masuk dulu bi gaenak ngobrolnya di luar mah" Kemudian bibinya oun mengikuti asya dari belakang. "Silahkan duduk dulu bi, maafya lesehan gini da di kontrakan asya mah ... Sebentar asya ambilkan minum dulu" Asya pergi menuju dapur. "Ini bi, airnya" Asya menyimpan gelas dan setoples kue yang sengaja di siapkan nya apabila ada tamu di depan bibi nya. "Makasih sya, jadi gini sya... " Ucapan bibinya terjeda. "Kenapa bi? " Tanya asya. "Eump, bibi perlu uang buat sekolahnya azhar kamu ada tidak bibi mau pinjam dulu" Ucapnya memelas. "Uang lagi" Kesal asya dalam hati. "Kalo sekarang asya gak ada bi kemaren baru di pake buat bayar kontrakan" "Masa kamu gak punya simpenan sya, bibi pinjem dululah nanti bibi ganti? " "Nantinya itu kapan bi? " Tanya asya. "Ya kalo uangnya udah ada" "Emng bibi perlu berapa? " "1juta buat sekolah azhar sama buat beli pupuk kakek buat sawah di kampung" "Terus kalo di asya ada, bibi mau kapan balikinnya? " Bukan apa apa hanya saja keluarga ibunya ini selalu melakukan berbagai alasan supaya bisa dapat uang dari asya dengan dalih meminjam, sudah berapa banyak uang yang asya keluarkan tapi tidak pernah di kembalikan, asya juga banyak keperluan belum lagi biaya sekolah adiknya. "Bibi janji secepatnya akan bibi ganti, bibi butuh sekali uang itu buat bayar sekolah azhar pinjam sama tetangga gak ada yang mau ngasih harapan bibi cuma kamu satu satunya sya" "Yaa gimana mau ngasih bibinya aja kebanyakan janji tapi gak pernah niat bayar" Ucap asya datar. "Kalo soal jamji nyampe mana aja bibi bakalan ingat sya cuma kalo uangnya belum ada gimana mau bayar pake apa?" Tanyanya dengan suara tinggi. "Makanya jangan kebanyakan janji bibi, jangan gengsi aja yang di duluin kalo perihal sekolah azhar itu tanggung jawab ayahnya soal pupuk kakek kemaren baru di kirim uangnya sama asya, jadi sekarang asya udah gak punya uang" Ucap asya enteng. Bibi asya pun terlihat geram dengan wajah yang memerah. "Kalo ayahnya azhar ada uang bibi juga gak bakal pinjem ke kamu asya" "Kalo bibi mau pinjem ke asya, bayar dulu uang yang kemaren, asya juga banyak keperluan bukan cuma bibi aja gaji asya gak seberapa jangan kira asya banyak uang, uang asya hampir tiap buat di pinjem sama bibi dan nenek padahal dati kakak bibi yang lain pun uang buat nenek dan kakek pasti di kirim masa iya masih kurang terus minta lagi sama yang kerjanya buruh" "Kalo gak mau minjemin bilang, gak usah banyak omong kamu dasar anak gak tau terima kasih dari kecil di urus sama siapa, sama ibu sendiri pun di telantarkan" Hati asya begitu sakit mendengar ucapan bibinya tapi asya mencoba bersikap tidak peduli dan menahan air mata supaya tidak keluar. "Makanya kalo mau uang ya kerja bi, jangan gaya aja yang di duluin udah tau bukan orang punya sok sok'an punya gaya sosialita, menurut bibi asya gak tau apa yang di lakukan bibi dengan uang yang sering pinjem sama asya" Ucap asya tersenyum miring. "Asya bisa aja laporin ke om tino kalo bibi masih terus terusan saperti itu" Ucap asya dengan tenang, setelah asya berkata seperti itu bibinya pun keluar dengan menghentak hentakan kakinya. Asya menarik nafas kemudian membuangnya. Hari ini cukup membuat fisik dan hatinya lelah. Setelah itu asya bersiap siap pergi mandi mungkin dengan mandi fikiran asya bisa kembali dingin lagi. Semoga saja.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD