"Apa kabar dek? Teteh rindu" Ucap asya dalam hati melihat foto dirinya kecil dan seorang anak laki laki berusia 3tahun.
Asya kembali mengingat bagaimana merawat reza kecil, yang kalo asya mau pergi main pasti di marahin neneknya karena harus mengasuh adiknya sedangkan neneknya hanya nonton tv sepanjang hari.
Asya yang waktu itu berusia 8tahun dan adiknya yang baru berusia 3tahun. Asya Menghabiskan masa kecil dengan penuh luka, anak anak yang seusianya banyak bermain dengan gembira asya hanya dapat melihatnya saja tanpa bisa mengikuti teman temannya.
Asya di paksa dewasa sebelum waktunya, dia yang setiap hari hanya disuruh suruh oleh neneknya belum lagi harus merawat sang adik. Asya kecil di perlakukan layaknya seorang pembantu dengan badan yang kurus.
Pada saat usia asya 11 tahun asya di bawa pergi oleh ayahnya dia pindah sekolah dan pindah tempat tinggal sehingga terpaksa dirinya harus berpisah dengan sang adik. Semenjak mereka berpisah adik kakak itu belum pernah bertemu kembali hanya sekedar berkabar lewat telepon.
Asya di tinggalkan oleh ibunya pada saat usia sang adik baru 1minggu lahir di dunia, asya waktu itu sangat terpukul melihat sang adik harus berpisah dengan ibunya yang masih sangat sangat membutuhkannya.
"Nek, bilang ke ibu jangan tinggalin adek, asya janji gak nakal lagi asya bakal bantu ibu merawat adek ... Nek tolong jangan biarkan ibu pergi" Ucapnya sambil nangis tergugu.
"Ibu jangan pergii, kasian adek bu ... Ibuuuuuuu" Dengan berderai air mata asya berlari menyusul ibunya yang memasuki sebuah mobil tetapi langkah kecilnya tidak bisa mencegah ibunya untuk pergi.
"Ibu jahat" Ucapnya sambil menunduk.
"Asya, nanti ibu juga pulang lagi asya disini jagain adeknya ya asya nya jangan nakal doakan ibu supaya selamat sampai tujuan" Ucap sang nenek.
Asya pergi dan berlari menuju kamarnya, dilihatnya reza yang sedang tertidur pulas.
"Adek jangan takut ya, teteh janji akan jaga kamu semampu teteh" Ucapnya memeluk sang adik.
~~~
Asya termenung di kamar nya, dia mendapat pesan dari adeknya kalo dia gak mau lanjut sekolah cukup sampai SMP saja tidak mau membebani kakaknya.
"Kalo adek gak sekolah, terus teteh kerja buat siaapa?" Tanyanya pada reza.
"Buat teteh aja, adek gak mau membebani teteh terus adek pengen kerja, kerja apa aja yang penting bisa bantu teteh" Ucapnya kala itu.
"Kamu bukan beban teteh dek, teteh mau kamu sekolah yang tinggi jangan seperti teteh, teteh mau kamu jadi orang sukses" Balasnya.
"Tapi adek gak mau teh, adek selalu di jadikan alat sama mereka buat di mintai uang ke teteh dengan embel embel buat balas budi karena udah rawat ade sama teteh dari kecil, ade mau bayarin utang itu kemereka dengan uang adek sendiri gak papa nyicil juga"
Air mata asya menetes setelah membaca pesan dari adiknya itu. Kenapa keluarga ibunya tidak pernah ikhlas merawatnya, padahal dari ibunya pun keluarganya itu selalu dapat uang lebih besar dari pada asya tapi kenapa masih tetap meminta padanya.
"Harus sesakit inikah tuhan, hidup tanpa perlindungan dari ibu, mereka menjadikan kita mesin pencetak uang"
"Ayah, kenapa mereka tidak sebaik keluargamu"
Keluarga dari ayah asya memang baik hanya saja ayah asya yang punya mulut pedas terhadap asya seorang dia tidak akan segan segan mencaci maki asya kalo ada salah barang sedikitpun, berbeda kalo berhadapan dengan keluarganya beliau akan bersikap sangat manis dan berubah menjadi seorang pahlawan.
Asya lebih nyaman tinggal bersama ayahnya karena setiap dia di caci maki atau di marahin sama ayahnya dia ada yang membela tidak seperti keluarga ibunya, ayah asya sering gak berada di rumah karena harus bekerja.
"Tenang dek, teteh balas nanti mereka semua dari yang paling besar sampai yang paling kecil sekalipun mereka harus merasakan sakitnya kita gimana? Termasuk ibu, teteh janji" Tekadnya.
"Teteh sekarang lagi nabung dulu buat modal usaha, doakan iya semoga di permudah semuanya ... Aamiin"
~~~
Asya tersadar saat seseorang mengedor pintu rumahnya sambil berteriak dengan sangat nyaring.
"Asyaaaaa" Panggilnya.
"Naon sii, gogorowokan da lain di leuweung ieu teh (apa sii, teriak teriak ini bukan hutan)" Kesalnya, kemudian beranjak untuk membukakan pintu.
"Ya" Jawab asya sambil memasang muka bingung karena pasalnya dia tidak mengenal orang itu.
"Saya mau nagih hutang bibi kamu" Ucapnya galak.
"Hutang apa? Bibi siapa? "
"Nia, bibi kamu kemaren pinjem uang kesaya atas nama kamu pinjamnya 5juta terus saya di suruh nagih ke kamu"
"Lah ko nagih ke saya, dia yang pinjam" Jawab asya gak terima.
"Saya gak mau tau dia kemaren pinjam uang ke saya dan menyuruh saya nagih sama kamu"
"Kenapa harus sama saya kan dia yang pinjam? Mbanya ko mau maunya di begoin sama dia, dia pinjem uang segitu bayarnya mau pake apa? Segala pake nama saya,, sayanya aja gak tau apa apa bentuk uangnya aja gak pernah liat datang datang nagih aja, saya bisa laporin ke pihak berwajib" Tegas asya.
Orang tersebut langsung pucat mendengar kata pihak berwajib.
"Tapi aku kan di suruh naguhnya ke kamu, gak bisa dong maen lapor laporin aja kamu"
"Ya bisa aja, orang saya gak merasa pinjem uang sama situ yang pinjem orang lain saya laporkan atas pemerasan terhadap saya, tagih sana sama orangnya" Geram sekali asya sama bibinya yang satu itu.
Kemudian asya kembali masuk dan menutup pintunya dengan sangat kencang sehingga membuat rentenir tadi kaget.
Dia bersandar di belakang pintu kemudian beristigfar atas kelakuan bibinya.
"Astagfirulloh, apalagi ini" Ucap asya sambil mengatur nafas dan mengelus dadanya.
"Sabar syaaaaa" Ucapnya kemudian.
~~~
Asya bersiap siap barangkat menuju tempat kerjanya, melangkah dengan pelan tangan kanan memasukan roti kedalam mulutnya tangan kiri menenteng botol minum 2L nya telinga di pasang headseat, rambut cepol asal, tas di punggungnya, seragam kerjanya, dan jangan lupa sepatu sneaker kesukaannya.
"Yo, semangat sya" Ucapnya menyemangati diri sendiri.
Kemudian asya mempercepat langkahnya menuju loker, setelah sampai asya kemudian mengambil kunci lokernya di tas dan memasukan tas nya ke dalam, sedangkan hp nya baru di keluarkan dari kantong yang ada di jaketnya dan kembali memasukannya kedalam loker setelah musik nya di matikan dan mencabut headseat di telinganya. Tidak lama setelah itu asya pergi ke dalam tempat kerjanya.